alexametrics

Teater Sukma Rutin Gelar Pementasan dan Gudangnya Prestasi Seni

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID –  Sekolah lanjut tingkat atas (SLTA) kerap menghasilkan seniman dari organisasi ekstrakurikuler Teater Sekolah. Meski di tengah disrupsi informasi dan perkembangan digital yang masif, ternyata masih banyak generasi milenial yang menyukai seni teater.

Teater Sukma milik SMKN 2 Semarang pernah berjaya sebelum pandemi Covid-19. Bahkan melakukan pentas terakhir pada Desember 2021 lalu. Teater Sukma berdiri di tengah maraknya perteateran pelajar di Kota Semarang. Tepatnya Jumat Kliwon, 3 April 1987 silam di sebuah bangunan tua di kawasan Kampong Pecinan Jalan Plampitan Kota Semarang.

“Sesuai dengan nama sekolah kala itu, yaitu SMEA PEMBINA 1 Semarang. Kami menyadari kelompok kami tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kelompok teater lain,” kata Pembina Teater Sukma, Alfiyanto.

Namun dengan kegigihan, ketekunan, keseriusan dalam berlatih, serta dibantu oleh tangan-tangan dingin para empu teater Semarang dalam membimbing, akhirnya Teater Sukma bisa bersanding dengan kelompok teater lain tanpa rasa was-was atau minder. Padahal kala itu, baru tiga bulan setelah pembentukan Teater SMEA 1.

“Sekolah kami pindah alamat dari Jalan Dr Cipto 121 A Semarang. Namun pada tahun 1996, dengan kesepakatan bersama kami ubah label kelompok kami dengan sebutan “Teater Sukma” dengan logonya bunga kenanga,” katanya.

Baca juga:  Cemoohan Justru Pelecut untuk Berprestasi

Harapannya, anggota Teater Sukma terus giat berlatih supaya jiwa/batinnya peka dengan situasi di lingkungannya. Karena tanpa adanya sukma di dalam permainan, pertunjukan akan terasa hambar, seperti sayur tanpa garam. “Sampai saat ini Teater Sukma masih terus berkarya lewat pementasan teaternya,” katanya.

Wakil Kepala Kesiswaan SMKN 2 Semarang Heru Tri Septiyanto menjelaskan, Teater Sukma merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang memiliki banyak prestasi dengan pembimbing Alfiyanto. Sebelum pandemi Covid-19 atau dua tahun lalu, Teater Sukma kerap pentas seminggu sekali, bahkan pernah seminggu dua kali. “Ada event di tingkat kota dan provinsi, Teater Sukma selalu berjaya,” katanya.

Setelah datangnya pandemi Covid-19, tepatnya 16 Maret 2020, kegiatan ekstrakurikuler yang diizinkan di sekolah hanya Pramuka. Sehingga 13 kegiatan ekstrakurikuler tidak diizinkan. “Namun para siswa kerap melakukan latihan secara sembunyi-sembunyi. Kalau sebelum pandemi setiap hari Selasa selesai pulang sekolah sampai sore pukul 17.15 baru pulang,” tuturnya.

Menurutnya, seni teater sangat bagus untuk melatih mental di hadapan masyarakat. Selain itu, dapat menjadi edukasi kepada masyarakat. “Pernah sampai 60 anggota yang main,” katanya.

Baca juga:  Tantangannya Ketika Cuaca Tiba-Tiba Berubah, Angin Tiba-Tiba Kencang

Pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama tiga hari, para siswa dikenalkan kegiatan ekstrakurikuler. “Mereka harus memilih 1 pilihan selain Pramuka. Kemudian direkap,” tuturnya.

Selain itu, setiap peringatan HUT Sekolah, Teater Sukma selalu mempersembahkan kebolehannya secara online maupun offline, bahkan secara monolog. Termasuk sesudah ujian kelas atau classmeeting pada Desember 2021. Dengan judul Srikandi Bangsa oleh Salma Azarine kelas XI. “Setelah Penilaian Akhir Sekolah (PAS) digelar live streaming. Ini karena masih ada pembatasan,” katanya.

Diakuinya, alumni-alumni Teater Sukma selalu mendampingi adik-adik saat pentas. “Waktu reuni, siapa yang dulunya ikut teater, kemudian dia memperlihatkan aksinya. Meskipun sudah lama sekali,” jelasnya.

Prestasi Teater Sukma adalah mewakili Kota Semarang untuk maju ke tingkat Provinsi Jateng. “Saya selalu mendampingi mereka,” akunya.

Jika teater main, kata dia, selalu meriah dan dapat mengambil hati para siswa dan para guru. Bahkan sampai harus menyewa sound system. “Kemarin Balada Sumarah jauh lebih baik daripada Upgris,” tuturnya.

Baca juga:  Pasien Gangguan Jiwa Ringan Meningkat 20 Persen Selama Pandemi Covid-19

Ia akan mengaktifkan kembali ekstrakurikuler teater, jika sudah mendapatkan izin dari Dinas Pendidikan. “Kalau sudah ada lampu hijau, kami aktifkan kembali semua kegiatan ekstrakurikuler,” jelasnya.

Tiga tahun terakhir, Teater Sukma meraih berbagai prestasi, seperti pada tahun 2017 dengan maskah “Nenek Tercinta” karya Arifin C Noer meraih juara 1 penyaji terbaik dan Sutradara terbaik dalam Festival Drama Pelajar Tingkat Jawa Tengah di Universitas PGRI Semarang. Pada tahun 2019 dengan naskah “Nenek Tercinta” karya Arifin C Noer meraih juara 2 penyaji terbaik dan Artistik terbaik dalam Festival Drama Pelajar Tingkat Jawa Tengah di Universitas PGRI Semarang. Tahun 2020 dengan naskah “Ratu Kalinyamat” (monolog), Teater Sukma berhasil lolos ke FLS2N Seleksi Tingkat Jateng mealui daring.

Bila menatap perjalanan sejarah Teater Sukma memang belum seberapa. Namun sebagai kelompok teater pelajar dengan keberagaman sifat kepribadiannya dan mayoritas anggotanya perempuan, tak menjadi halangan untuk terus berkarya. “Justru dengan keberagaman itulah menjadi spirit tersendiri bagi kami untuk tetap eksis dalam jagad perteateran di Kota Semarang,” katanya. (fgr/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya