alexametrics

Terinspirasi Naik Gunung, Buat Burjo Basecamp

Kafe Burjo Makin Menjamur di Kota Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Nama Kafe Burjo semakin familiar di Kota Semarang. Dulunya Burjo identik dengan warung bubur kacanghijau. Tapi sekarang banyak yang tidak menyajikan bubur kajanghijau, tapi aneka makanan yang disukai generasi muda. Bahkan Wali Kota Semarang di feed Instagramnya melansir 10 warung burjo di Kota Semarang.

ADALAH Burjo Basecamp yang beralamat di Ngaliyan, Kota Semarang. Burjo Basecamp ini baru buka dua bulan ini. Dalam pantauan Jawa Pos Radar Semarang terlihat bangunan identik dengan warna putih. Selain itu, dinding ada rongga-rongga sehingga menjadikan tampilan burjo basecamp semakin menarik.

Ketika memasuki kafe tersebut terlihat dua anak muda sedang makan sembari mengerjakan tugas dengan laptop masing-masing. Di bagian luar ada tempat duduk yang menyajikan pemandangan Kota Semarang. Bahkan, sebagian pengunjung lebih memilih tempat tersebut lantaran nyaman untuk melepas penat setelah seharian bekerja.

Baca juga:  Pekerjaan Tinggal 14,7 Persen, Stadion Jatidiri Semarang Ditarget Kelar 29 Desember 2021

Muhammad Mirzaq Effendi, pemilik Burjo Basecamp sengaja membuat konsep kafe yang terinspirasi dari hobinya. Pria yang hobi naik gunung ini memberika nama basecamp karena ia gemar naik gunung.

“Kalau naik gunung itu kan ada pos yang namanya basecamp. Tempat yang paling nyaman untuk istirahat bagi orang-orang yang akan naik ke atas puncak,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Maksudnya, pengunjung dapat berlama-lama berada di kafe miliknya. Walaupun sekadar minum dan sisanya untuk mengerjakan tugas. Tempat duduk berjumlah 35 dengan kapasitas 140 orang tela ia siapkan. Tujuannya agar tidak ada pengunjung yang kecewa karena tidak mendapatkan tempat.

Mirzaq mengaku burjo memang identik dengan menjual makanan dengan harga murah. Nama burjo sengaja dia gunakan sebagai bentuk keprihatinannya terhadap kalangan menengah ke bawah. Apalagi dia pernah berada di posisi itu. Dengan kafe burjo ini, orang yang minim ekonominya tetap bisa merasakan makanan enak, tempat nyaman, dan harganya murah. “Dari nama burjo ini pengunjung nggak takut kesini. Karena harganya murah,” katanya.

Baca juga:  Pembuatan Sabun Susu Kambing Paling Rumit

Walaupun harga makanan murah, pria yang bekerja sebagai protokoler gubernur ini mengaku, makanan yang ada di kafenya tetap bersih. Rasa yang disajikan juga tidak kalah dengan kafe lainnya.

Burjo Basecamp tetap menyajikan menu bubur kacang hijau sesuai dengan namanya. Menu lain juga disajikan agar pengunjung mempunyai banyak pilihan untuk makan. Bukannya bubur kacang hijau, menu favorit disini justru magelangan. “Orang itu kalau kesini nggak cuma ada bubur kacang hijau. Tapi juga ada menu lain,” tegasnya.

Ada pembeda antara Burjo Basecamp dengan burjo lain. Ayah dua anak ini memberikan syarat kepada pegawai yang ingin bekerja di tempatnya untuk taat beribadah. “Mereka kalau kerja harus bawa sarung, mukena untuk perempuan dan Alquran untuk mengaji,” jelasnya.

Baca juga:  Dusun Kedung Glatik Bakal Ditenggelamkan

Ia tak ingin mereka lupa beribadah kepada Tuhan YME. Selain itu, di dinding di tempel imbauan untuk taat prokes seperti mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Bagian kursi dan meja juga dipasang tanda agar pengunjung tetap menjaga jarak.

Salah satu pengunjung Subkhan Asroi merasa puas dengan pelayanan dan fasilitas di Burjo Basecamp. Ketika sedang minim keuangan, ia selalu pergi kesini, sekadar beli es teh dan mengerjakan tugas.

“Lumayan ada wifinya. Jadi saya bisa irit kuota. Selain itu, ada fasilitas seperti kamar mandi, toilet, dan musala,” tegasnya. (cr4/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya