alexametrics

Puas Jika Binatang di Semarang Zoo Bisa Berkembang Biak dan Beranak Pinak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Dari sepasang harimau, kini Semarang Zoo memiliki 11 harimau jenis Benggala. Kelahiran hampir semua binatang di kebun binatang milik Pemkot Semarang ini, tak lepas dari tangan dingin Hendrik Tri Setiawan sebagai dokter hewan.

Bapak satu anak ini menjadi bagian penting Semarang Zoo sejak tahun 2011. Banyak pengalaman yang tidak terlupakan ketika merawat hewan yang sakit, hingga membantu kelahirannya.

“Bagi saya, ketika bisa merawat dan akhirnya berkembang baik itu menjadi kepuasan tersendiri. Kalau sakit dan bisa sembuh, saya juga merasa senang. Intinya saya ingin melestarikan hewan yang hampir punah,” kata Hendrik ketika ditemui koran ini.

Harimau menjadi hewan yang paling ia sukai. Kucing loreng besar ini memiliki kharisma dan wibawa tersendiri sebagai hewan pemburu di hutan. “Ini yang menarik bagi saya,” katanya.

Baca juga:  Gerakkan Ibu-Ibu Kelola Sampah dengan Ecobrick

Meski harimau di Semarang Zoo melahirkan normal, namun bayi harimau tidak boleh dibiarkan begitu saja. Anakan harimau ini harus dicek kesehatannya. “Caranya, induknya harus digiring dulu dari kandang khusus. Setelah induknya masuk kandang lainnya, baru dicek cacat atau tidak. Ada luka atau tidak. Ya kalau luka baru dikasih obat. Kini dari sepasang harimau, saat ini sudah ada 11 harimau anakan,” tuturnya.

Meski kelahiran harimau di Semarang Zoo tergolong tinggi, tak jarang ada juga anak harimau yang sakit dan akhirnya mati. Hal ini terjadi karena seleksi alam, misalnya dari empat anakan harimau yang lahir, pasti ada yang mati.

“Kayak kucing, anak-anak ini pasti bercanda dengan yang lain. Ada yang nggak sengaja gigit yang lain atau mati. Kadang kukunya nancep lalu infeksi, akhirnya mati. Untuk pencegahan, perlu dicek setiap hari, dibersihin kandangnya dan diberi vaksin,” tambahya.

Baca juga:  Atasi Penat, Main Tik Tok dan Pass The Brush Challenge

Saat merawat hewan buas yang sakit, bagi Hendrik, itu pengalaman tak terlupakan. Apalagi satwa liar punya tingkat stres yang tinggi dan suka mogok makan. Cara pengobatannya dengan memasukkan obat dan vitamin ke dalam daging, jika hewan sudah tidak lagi jinak, tentu harus dilakukan pembiusan terlebih dahulu.

“Memeriksa secara langsung, nggak masalah kalau jinak. Kalau harus secara fisik dan mulai galak, ya harus dibius dulu pakai tulup. Lalu diperiksa secara langsung,” tuturnya.

Selama 10 tahun menjadi dokter hewan di Semarang Zoo, ia pernah digigit salah satunya anakan harimau sampai lebam. Gigitan itu didapatkan saat memeriksa kesehatan harimau tersebut.

Bahkan pernah dikejar merak ketika sedang melakukan monitor kandang. Berbagai pengalaman ini tidak membuatnya kapok. Justru ia jadikan pengalaman.

Baca juga:  Hendi-Ita Menang Telak di Semua Kecamatan, Hanya Banyumanik yang Suaranya Dibawah 90 Persen

“Ya balik lagi, karena aslinya hewan liar. Sejinak-jinaknya hewan liar, pasti punya sifat liar. Makanya harus tetap waspada dan tenang. Paling lucu ya digigit anak harimau, niatnya mungkin bercanda dan manja dengan menggigit. Tapi ya sakit sih,” ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak. (den/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya