alexametrics

Bisnis Taksi Hidup Segan Mati Tak Mau, Sebagian Pilih Jual Armada, Kembangkan Bisnis Kargo

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Alat transportasi taksi yang dulu merajai jalanan Kota Semarang, kini semakin tenggelam oleh perkembangan zaman. Sebagian tak bisa bersaing dengan jasa transportasi online, sebagian melebur dan bersinergi dengan perusahaan jasa transportasi online.

Mobil taksi sudah jarang terlihat melintas di jalanan protokol Kota Semarang. Kalaupun ada, hanya ada satu dua. Padahal zaman dulu sebelum ada transportasi online dan sebelum pandemi Covid-19, masih banyak taksi ngetem di berbagai lokasi strategis demi menunggu penumpang. Saat ini, kalaupun ada hanya satu dua saja.

Nama taksi yang terbilang melegenda adalah Kosti (Koperasi Sopir Transportasi). Coverage area bisnis usaha Kosti ini meliputi tiga kota, yakni Jakarta, Semarang, dan Solo. Di Semarang, kantornya beralamatkan di Kawasan Industri Candi Blok 11D, Jalan Gatot Soebroto nomor 12, Bambankerep, Ngaliyan, Kota Semarang.

Taksi Kosti Semarang berdiri tahun 1996. Dulunya memiliki 315 armada, namun sekarang tinggal 110 armada. Di antaranya, Honda Mobilio, Toyota Limo Gen Satu, Toyota Limo Gen Dua, dan Toyota Limo Gen Tiga. Dulunya, setiap lima tahun sekali mengalami peremajaan, namun sekarang tidak bisa. Apalagi terdampak transportasi online dan pandemi Covid-19.

Kendati begitu, dampak terparah saat pandemi. Benar-benar tidak bisa mengangkut penumpang, karena adanya PPKM. Semakin menuju ambang kematian, saat pangsa pasar taksi dimasuki angkutan sewa khusus yang berbasis online atau transportasi online. “Padahal, perusahaan taksi regulasinya lebih jelas. Bahkan, sebenarnya sudah menyiapkan jasa pelayanan secara online,” kata Ketua Taksi Kosti Semarang, Suhardi, 53.

Baca juga:  Sekolah Tani, Bantu Penanggulangan Kemiskinan

Perlu dipahami, aplikasi transportasi online hanyalah alat komunikasi, bukan perusahaan. Kalau perusahaan taksi sudah jelas. Tapi saat ini, mati bareng. Taksi sudah mati. Otomatis, peremajaan mobil taksi mustahil dilakukan. Apalagi peremajaan mobil harus menggandeng lembaga keuangan. Sedangkan taksi kosti sudah tidak bisa mengangsur cicilan.

Ahmad, salah satu pengemudi New Atlas Taksi masih bertahan dengan taksinya yang kini bisa konvensional dan online. (FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Ia menyayangkan, pemerintah yang mendukung transportasi online yang tidak jelas regulasinya. Kendati alasannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Pemerintah kini tidak memikirkan taksi yang sudah jelas regulasi dan perizinannya yang legal dan jelas,” kata Suhardi yang juga pengurus Organda (Organisasi Angkutan Darat).

Tak ingin terpuruk lebih dalam, kini Kosti Semarang mengubah strategi dengan mengembangkan bisnis kargo atau ke angkutan pengangkut barang. Apalagi saat ini banyak aplikasi yang melayani pengiriman barang yang diperjualnelikan secara online juga.

“Masyarakat dulunya mencari barang lewat mal naiknya taksi. Sekarang cukup di rumah saja, bisa beli apa saja secara online. Makanya kami saat ini fokus ke bisnis jasa angkutan barang,” jelasnya.

Baca juga:  PKM Longgar, Salon Anjing dan Kucing Kebanjiran Order

Pengurus Taksi Kosti, Mukhtar, menambahkan Taksi Kosti Semarang dalam memberikan pelayanan sebenarnya lebih unggul. Karena diwajibkan mengutamakan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Selamat sampai tujuan) kepada penumpang. Selain itu pihaknya mengupayakan kenyamanan dan keamanan. Ketika penumpang masuk akan mencium bau apapun itu di dalam taksi. Ketika di perjalanan, pengemudi harus sopan.

“Ketika sampai, harus ditunggu sampai keluarga ada yang menyambutnya. Kalau sudah sampai, langsung kita tinggal, ga tahunya dia mengalami kecelakaan seperti dibunuh. Kan kita yang disalahkan,” jelasnya.

Suhardi mengakui, pengusaha Taksi saat ini memang harus melakukan inovasi untuk mempertahankan bisnisnya. Setoran di Taksi Kosti dulunya pada saat jaya-jayanya bisa tembus Rp 280 ribu untuk keanggotaan, perizinan, dan perawatan. Namun, sekarang Rp 80 ribu untuk tiga sap dan Rp 50 ribu untuk sedan. “Itu sehari semalam,” jelasnya.

Argo kadang dipakai dan kadang tidak. Karena penumpang lebih membandingkan dengan aplikasi online. “Dulunya tidak memakai argo, kami beri sanksi. Tapi, kalau sekarang kami bebaskan,” jelasnya.

Baca juga:  Kota Semarang Komitmen Kembangkan Energi Listrik dari Sampah

Ia berharap, pemerintah mengerti koperasi usaha. Terutama membantu taksi agar bisa menjaga kelangsungan kehidupan. Saat ini, armada Taksi Kosti banyak yang dijual dengan harga miring diganti dengan truk kargo. Untuk mengangsur bank bersumber dari truk, bukan dari taksi. “Untuk mobil kami jual sekitar Rp 40 jutaan sudah diganti plat hitam. Masih bagus tapi cari uang sangat sulit,” jelasnya.

Untuk persentase pendapatan truk kargo 2012 sampai 2014 yang dimiliki Kosti, 40 persen untuk armadanya, dan 60 persen untuk pengemudinya. “Taksi Kargo baru dioperasionalkan Desember 2020,” jelasnya.

Diakuinya, dampak dari pandemi Covid-19 banyak yang dijual seperti kardus bekas untuk biaya telepon dan biaya listrik. “Sampai enam bulan ga bayar dicabut. Parah itu mas,” katanya.

Setelah Agustus sampai Oktober pihaknya menjual mobil taksi untuk diganti armada truk. “Karena pangsa pasar truk ini bagus. Tapi, kami akan berupaya mempertahankan taksinya,” jelasnya.

Ia menyayangkan, persaingan tarif taksi online dan taksi konvesional masih belum jelas. Padahal tahun 2010, Organda dan pengusaha taksi dipanggil oleh pemerintah melalui KPPU. Kala itu, argo tidak ditetapkan oleh pemerintah. “Pada waktu itu, lembaga konsumen, Organda, dan pengusaha,” jelasnya. (fgr/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya