alexametrics

Kesempatan Berkarya Lebih Besar di Jakarta

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Tidak dipungkiri tawaran job atau pekerjaan di Ibu Kota Jakarta lebih besar dibandingkan harus menetap berkarya di daerah sendiri. Jamil Aona misalnya, salah satu pelawak kawakan asal Semarang ini harus merantau agar tetap eksis.

Jamil Aona harus merasakan kerasnya perjuangan untuk bisa tetap eksis. Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat para seniman lawak meredup karena sepinya job di lokal maupun nasional.

Kendati begitu, pria yang juga penyiar Radio Rasika Pekalongan ini kerap menyelipkan joke lawak di sela-sela siarannya maupun saat talk show atau program acara lain yang ia pegang.

“Selama pandemi Covid-19 ini kami memang tiarap. Seniman yang punya job sampingan misalnya MC lumayan, ada satu dua job. Tapi kalau jadwal manggung ya sepi,” kata Jamil Aona saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Turunnya angka penderita Covid-19 dan seiring dibukanya berbagai sektor menjadi angin segar bagi para seniman. Kini job manggung mulai berdatangan. Para seniman bisa kembali eksis dan berkarya.

“Kondisi sekarang sudah mendingan ada event. Ya istilahnya bisa hidup lagi dan bernafas, walaupun nggak seramai sebelum pandemi dulu,” jelas pria yang kini berdomisili di Pekalongan.

Jamil menjadi salah satu seniman lawak yang beruntung karena ia banyak tawaran job di Jakarta. Berbeda dengan seniman lainnya yang sudah hidup di Semarang atau Jateng. Selain itu masih ada pekerjaan lainnya sebagai seorang penyiar di salah satu radio swasta yang ada di Pekalongan. Dalam waktu dekat, ia akan manggung bersama ex band lawak Timlo dan lainnya.

“Kalau nggak ada job misalnya, ya diisi dengan shooting YouTube. Bikin konten dengan teman-teman pelawak di Jakarta, misalnya Sule dan lainnya. Biar nggak kepaten obor-lah dan ada kegiatan,” tambah pria 50 tahun ini.

Bisa eksis di kancah nasional, kata dia, tidak bisa dicapai secara instan. Butuh proses panjang yang harus dilewati. Jamil mengaku memulai karir sejak duduk di bangku perkuliahan dan ikut dalam lomba humor mahasiswa yang diadakan sebuah stasiun televisi swasta kategori perorangan dan berhasil mendapatkan juara II di tingkat nasional.

“Prosesnya panjang ya, harus kulo nuwun dulu masuk kesana (nasional, red). Dari lomba itu, saya sebenarnya seangkatan dengan Denny, Wendi, dan Narji Cagur. Ketemu juga sama Sule dan Oni yang ikut kategori kelompok,” katanya.

Dalam karir profesional, kata Jamil, berkarya di Jakarta memang lebih menjanjikan. Contohnya saja pelawak senior asal Semarang, yakni Tukul Arwana yang sukses meskipun harus meninggalkan Semarang yang menjadi kampung halamannya. Jamil pun mengaku sempat ikut dengan Tukul, kurang lebih tiga tahun sebelum berdiri sendiri.

“Semua memang butuh proses dan jalan terjal. Mas Tukul pun sekarang sama. Lucu di Semarang misalnya, belum tentu lucu dan diterima di nasional. Intinya harus beradaptasi,” katanya.

Gaya lawakan di Jakarta atau kancah nasional, kata dia, lebih cepat dalam saling melempar joke. Hal inilah yang menurut Jamil perlu dipelajari oleh pelawak lokal yang ingin berkarir lebih tinggi lagi. “Entah itu lawak tunggal atau grup, harus beradaptasi. Tik-tokannya lebih cepet, harus ada inovasi dan humor yang baru juga,” tegasnya.

Ia menjelaskan, di Semarang ada sebuah paguyuban yang mewadahi pelawak yakni Paguyuban Lawak Semarang (PLS). Paguyuban ini masih aktif sampai sekarang, yang dikomandoi oleh Totok Pamungkas. Gara-gara pandemi, kegiatan seniman lawak di Kota Lunpia ini belum ada lagi yang digelar.

“Ada komunitasnya, masih eksis. Anggota kami kebetulan ada yang jadi pengusaha. Kalau pentas, sumber dananya dari beliau, namanya Mas Ipong. Misalnya kalau dapat job, tapi bayaran sedikit ya beliau yang nalangi. Termasuk kalau sambat nggak punya uang. Tujuannya ya mungkin biar kami bisa eksis,” tutur dia.

Disinggung regenerasi pelawak di Semarang ataupun Jateng, menurut Jamil memang berjalan lambat. Tidak seperti saudara muda mereka yakni Stand Up Comedy yang lebih cepat.

“Ya mungkin karena jarang ada lomba ya, kalaupun ada juaranya di lokal ini belum bisa dibilang mateng kalau bersaing di nasional. Beda kalau ajang pencarian bakat, yang dulu sempat ada. Selain bakat, ya memang ada mentor dan sekolahnya. Tinggal terus diasah,” keluh dia.

Ketika ditanya proses eksplorasi materi lawak, Jamil mengaku jika materi bisa didapat dari mana saja. Misalnya pengalaman pribadi atau lingkungan sekitar yang dikemas dalam sebuah kesenian lawak. “Bisa dengan amati tiru modifikasi. Istilahnya kita harus pandai melakukan eksplorasi,” pungkasnya. (den/ida)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Jaga Soliditas PKB dan NU

Pasar Karangawen Diusulkan Dibangun 2023

Sebut Nama Mantan Saat Bercinta, Lady Diceraikan

Tahapan Pemilihan Rektor Unnes Mulai Maret

Populer

Artikel Menarik Lainnya