alexametrics

Galang Modal Usaha Lewat Crowdfunding, Bagi Hasil Tiap Enam Bulan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Berbisnis yang terpenting bukan modal. Namun keberanian dan konsep membangun bisnis. Modal usaha bisa didapatkan dari berbagai cara. Salah satunya dengan menggandeng investor atau crowdfunding.

Bermula dari ketidaksengajaan Rusmiyati, 40, terjun ke bisnis besi. Ternyata bisnis ini sukses besar. Apalagi sebagian modal didapatkannya dari investor yang mau ikut membiayai.

“Sebenarnya gak niat banget terjun ke bisnis besi ini. Karena saya tidak ada ilmu perbesian sama sekali,” kata perempuan yang akrab disapa Kak Ros ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Awalnya, Kak Ros sudah memiliki bisnis berupa car wash. Seiring berjalannya waktu, rupanya bisnis itu kurang mencapai target pasar sehingga ditutup.

Pada 2018, ia memutuskan berbisnis toko besi. Dengan mengusung nama Besi Rosteel, toko pertama berdiri di Banyumanik. Ternyata bisnis besi membawa hoki baginya. Bisnisnya berkembang hingga mampu membuka cabang di Meteseh.

Baca juga:  Nike Permatasari, Percaya Diri dalam Bisnis WO

Tak berhenti di situ, cabang berikutnya siap dibuka di Ngaliyan. Kali ini Kak Ros tidak merogoh kocek sendiri sebagai modal. Ia bekerja sama dengan salah satu equity crowdfunding resmi di Indonesia yaitu Santara. Usaha ini untuk mendapatkan investor yang akan mendukung usahanya.

Diakuinya, membuka cabang baru memang membutuhkan biaya yang cukup besar. Sehingga diputuskan menjual sebagian saham perusahaannya melalui Santara. “Saya gabung Santara itu baru setahun ini. Sistemnya bagi hasil. Dan itu pun tiap 6 bulan sekali,” ungkapnya.

Ketika ditanya jumlah investornya, Kak Ros hanya tersenyum. Lantaran, yang tahu pasti jumlah investor di tokonya ialah sistem dari Santara.

Toko Besi Rosteel memang hanya ada di tiga tempat di Semarang. Tapi penjualan produk sudah di berbagai wilayah Jawa Tengah. Seperti Salatiga, Kendal, Solo, Jepara, Pati, Kudus, dan Ambarawa. “Nah, sampai saat ini sudah ada 2.186 pelanggan tetap di toko besi saya,” ujar ibu 3 anak ini.

Baca juga:  Seabad Menjaga Cita Rasa Limun Oriental

Selama pandemi, penjualan besi di tokonya pun tidak terpengaruh secara signifikan. Itu karena, banyak orang yang melakukan WFH (Work from Home). Hal itu membuat orang-orang yang WFH semakin memerhatikan rumah karena ingin merasa nyaman bekerja dari rumah. Sehingga, mereka terpikirkan untuk memperbaiki rumah atau menambah fasilitas. Seperti menambah teralis jendela, kanopi, dan pagar rumah.

“Itu yang jadi peluang bagus selama pandemi. Dan penurunan penjualan itu sekitar 10 persen sampai 20 persen,” ucap perempuan asli Yogyakarta ini.

Adapun pemasaran produknya itu melalui sosial media instagram, website, reklame, dan papan nama. Selain itu, pemasaran yang paling cepat yakni melalui mulut ke mulut. “Karena kita jual dengan ukuran riil dan tidak ada toleransi di ketebalan maupun ukuran besi. Jadi pelanggan itu sudah menaruh kepercayaan pada kita, sehingga penjualan kita semakin meningkat,” tuturnya.

Baca juga:  Tergerus Zaman, Nasib Becak Kayuh Semarang di Ujung Tanduk

Saat ini, total karyawan di Toko Besi Rosteel mencapai 27 orang. Bahkan selama pandemi, tidak ada karyawan yang dirumahkan. Adapun omzet per bulan dari semua outlet yakni mencapai miliaran rupiah. “Omzet tersebut tidak hanya dari penjualan besi, tetapi produk pendukung lainnya seperti atap, asesoris dan peralatan las lainnya,” tegasnya.

Kak Ros berharap harga besi saat ini bisa mengalami penurunan. Sehingga tidak memberatkan pelanggan dan dirinya selaku penjual. “Saya juga pengen usaha saya ini lebih maju lagi. Dan saya masih punya cita-cita pengen punya pabrik besi sendiri,” harapnya. (dev/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya