alexametrics

Berbisnis sekaligus Kerja Sosial

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kumpulkan modal usaha tak melulu lewat investor yang tak dikenal. Bisa juga dari program pendanaan event kewirausahaan di kampus.

Jiwa bisnis Rica Amalis sudah terbangun sejak kuliah di jurusan Antropologi Sosial Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Ia tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Riset dan Bisnis. Ternyata kegiatan bisnis membuatnya ketagihan menjadi sociopreneur. Menjalankan bisnis sekaligus mengatasi masalah sosial.

Keinginannya memiliki brand bisnis pun dirintis bersama temannya. Mula-mula Rica dan kedua temannya menjual coklat di lingkungan kampus. Beberapa pelanggan lantas menanyakan buket bunga. Tanpa ragu ia merespon keinginan pelanggan dan mencoba menjual bunga. Ia membuka Rizs Florist dan kini memberdayakan puluhan orang dalam praktik bisnisnya.

Baca juga:  Tumbuhkan Jiwa Enterplenuer dengan Pembelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan

“Sejauh ini nggak ada investor. Kita beberapa kali dapat pendanaan event kewirausahaan dari kampus, selebihnya uang modal muter dari hasil bisnis,” kata pengagum dokter sekaligus social entrepreneur Gamal Albinsaid ini.

Ketika permintaan bunga meningkat, ia merangkul petani bunga di Bandungan, Kabupaten Semarang. Lewat kerja sosial ini, belasan petani bunga pun memiliki akses ke pasar yang stabil dan dapat diandalkan. Pada 2019 bisnis semakin berkembang. Rencana bisnisnya terus berjalan seperti yang diinginkan. “Kita udah bikin workshop, cashflow udah stabil banget. Eh nggak disangka 2020 covid datang,” tuturnya.

Mereka terpaksa harus melewatkan event-event besar seperti wisuda, hari raya dan sebagainya. Namun waktu tersebut dijadikan momen untuk mengevaluasi bisnis. Rica melihat banyak toko buket sepi. Para petani juga ikut frustasi. “Akhirnya kita bikin marketplace yang bisa menghubungkan para petani lokal kita dengan UMKM di luar kota,” imbuh Rica.

Baca juga:  Menekuni Pekerjaan dengan Perilaku Kerja Prestatif

Rica dan timnya berhasil bermitra dengan pengusaha di berbagai daerah. Mulai dari Bekasi, Lampung, Palembang, Malang, hingga Surabaya. Petani terbantu. Mereka tetap dapat menjual hasil panen bunganya.

Momen krisis tersebut juga melahirkan beberapa produk baru untuk tokonya Rizs Florist. Mereka mulai membuat hampers, bunga kering, dan bunga papan. Sehingga pelanggan di luar kota tak perlu khawatir bila orderannya busuk di jalan.

Tak hanya itu, ia terpaksa berpindah rumah produksi karena tokonya di Semarang tutup. Rica pun mencoba memberdayakan lulusan SMK di sekitar rumahnya untuk bekerja bersamanya. Ajakannya mendapat respon baik. Pemudi asal Demak itu dapat dikatakan mengurangi angka pengangguran selama pandemi.

Baca juga:  Gerakkan Ibu-Ibu Kelola Sampah dengan Ecobrick

Selama menjalankan bisnis, ia juga membuka workshop untuk para pemula yang ingin belajar merangkai bunga. Ia tak takut bila keuntungan bisnisnya berkurang karena semakin banyak pesaing. Ia justru senang bisnis yang ditekuni membawa manfaat besar.

Pada puncaknya, Rizs Florist mampu menghasilkan omzet Rp40 juta per bulan. Meski begitu ia tak mengejar omzet tinggi. Karena tujuan awalnya berbisnis adalah membantu orang lain. (taf/ton)

 

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya