alexametrics

Kuasai Banyak Bahasa, Ngobrol sering Pakai Bahasa Campur-Campur

Komunitas Polyglot Chapter Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Polyglot adalah sebutan untuk orang-orang yang menguasai banyak bahasa. Biasanya lima bahasa atau lebih dengan kemampuan berbahasa yang baik. Bukan sekadar tahu saja, namun juga bisa berbicara, menulis dan memahami bahasa asing dengan cepat.

Di Kota Semarang, mereka yang mempunyai kemampuan banyak bahasa itu tergabung dalam Komunitas Polyglot Chapter Semarang. Komunitas ini berdiri sejak 2012, dan diresmikan di tahun berikutnya.  Komunitas polygot rutin mengadakan pertemuan di sepekan sekali.

Tetapi dikarenakan pandemi, mereka terpaksa mengalihkannya ke pertemuan secara virtual. Sebelum pandemi, mereka mengadakan kegiatan seperti regular meet up, friday night fun, dan juga sering kolaborasi dengan komunitas lain yang biasanya diadakan di kafe.

Di setiap pertemuan, mereka akan membawakan tema-tema yang berbeda. Mereka akan membagi teman-teman komunitas sesuai bahasa yang ingin dipelajari. Di dalam forum bahasa masing-masing akan dilakukan komunikasi secara interaktif yang secara tidak langsung akan memaksa untuk berbicara atau bisa dikatakan belajar dengan cara praktik lapangan (learn by practice).

Menurut Koordinator Komunitas Polyglot Chapter Semarang Galang Widiono,  saat ini sudah ada 25 member yang resmi bergabung. Sedangkan pengurus komunitas ini berjumlah 15 orang. Meskipun member aktifnya hanya 15 orang, komunitas ini akan sangat ramai saat diadakan regular meet up.

Pertemuan ini terbuka untuk umum. Tak heran, setiap kali digelar regular meet up, banyak orang yang datang karena penasaran ingin belajar bahasa, serta mengetahui komunitas ini.

Ia mengakui, mempelajari bahasa asing mempunyai tingkat kesulitan masing-masing. Setiap orang juga mempunyai kemampuan yang berbeda. Sehingga dalam mempelajari bahasa asing, diperlukan niat yang kuat, serta keberanian dalam mencoba .

Baca juga:  Perempuan Harus Berdaya, Bisa Keluar dari Kemiskinan

“Ada beberapa bahasa yang saya kuasai, belajanya otodidak. Seperti bahasa Rusia. Menurut saya, bahasa Rusia itu yang paling sulit dipelajari dibanding bahasa asing lain yang saya kuasai,” ujar pria yang ingin mempelajari Bahasa Perancis ini.

Galang sendiri sudah bergabung di komunitas polyglot hampir empat tahun. Setidaknya ia menguasai lima bahasa asing plus Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. “Untuk sekarang itu saya bisa berbahasa Rusia, Jepang, Inggris, Spanyol, dan Vietnam dikit-dikit,” akunya.

Ia merasa senang setelah bergabung dengan komunitas polyglot. Sebab, komunitas ini mewadahi minat para penggiat bahasa dan mempertemukannya. Sehingga dalam pembelajaran dan pendalaman bahasa asing, ia dapat mencari partner belajar lebih mudah.

“Sejak kecil saya suka bahasa asing. Yang pertama saya pelajari bahasa Inggris. Semua saya pelajari secara otodidak lewat internet,” imbuh Lala Nur Fitriani, anggota Komunitas Polyglot Chapter Semarang yang sekarang tinggal di Belanda.

Lala –sapaan akrabnya–awalnya juga mencari partner berkomunikasi bahasa asing melalui media sosial Facebook. Dengan adanya komunitas polyglot ini, otomatis Lala merasa sangat terbantu dalam mencari partner belajar.

Ia mengatakan, saat sedang kumpul bersama komunitas polyglot lainnya, mereka sering ngobrol dengan sesama anggota menggunakan bahasa Inggris. Dengan adanya komunitas ini, ia juga mendapatkan banyak relasi.

Yang menarik, karena banyak bahasa asing, terkadang saat berkomunikasi antaranggota sering tertukar kosakata dengan bahasa lain. Jangan heran, jika ada anggota komunitas ini yang saat ngobrol menggunakan bahasa campur-campur. Tetapi menurut mereka, itu adalah hal yang wajar. Dikarenakan banyak kosakata yang pengucapannya sama dengan bahasa asing lain walaupun artinya berbeda.

Baca juga:  Openaire Resto Bar Market Semarang, Menyuguhkan Ruang Terbuka dengan Konsep Hutan

Setelah gabung dengan komunitas polyglot, Lala juga pernah mendapat pengalaman diundang menjadi tutor bahasa Perancis dan bahasa Inggris di kampus Universitas Diponegoro (Undip).

Sekarang ia melanjutkan hidupnya di Belanda bersama suaminya. Mau tidak mau, ia pun belajar Bahasa Belanda agar bisa berkomunikasi dengan baik di Negeri Kincir Angin tersebut.

“Bagi orang-orang di luar sana yang sedang belajar bahasa asing, silakan lanjutkan dengan niat yang kuat. Janganlah takut untuk salah dan malu untuk berbicara di depan umum. Karena justru kesalahan itulah yang membuat kita menjadi lebih baik ke depannya dengan evaluasi diri. Latihan juga harus sering dilakukan agar kemampuan berbahasa selalu terasah. Seperti ungkapan practice makes perfect.” pesan Lala.

Bendahara sekaligus PIC table Perancis dan table Inggris Komunitas Polyglot Chapter Semarang Febriana Sugiyarno menambahkan, ketika berkomunikasi dengan komunitas karena di polyglot ada banyak penguasaan bahasa asing, maka ketika di forum yang besar dan semua berkumpul, bahasa yang digunakan adalah Inggris dan Indonesia. Begitu dipecah ke table, baru fokus menggunakan bahasa table masing-masing.

Di Polyglot chapter Semarang sendiri bahasa asing utama yang digunakan adalah bahasa Inggris. Sedangkan bahasa aktif anggota, di antaranya bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, Jepang, Arab, dan Mandarin.

Baca juga:  Dedikasikan Program BISA, Bangkitkan Pariwisata Kendal

Diakui, keseruan di setiap event sering dirasakan. Polyglot kerap menggelar acara kolaborasi dengan berbagai komunitas. Seperti komunitas lemari buku-buku, Equipthap, dan volunteer-volunteer Skotlandia, Jerman, dan Belanda.

“Kalau saya sendiri basic-nya travel planning. Jadi, setiap acara, selain belajar bahasa, juga mengenalkan tempat-tempat yang jarang dikunjungi,” ungkap alumni Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta ini.

Selain kolaborasi, kegiatan rutin lain yang digelar adalah body class setiap Jumat malam. Sedangkan untuk umum ada meet up bulanan. Polyglot Indonesia Nasional Gathering (PING) juga menjadi salah satu ajang untuk bertemu antaranggota polyglot seluruh Indonesia.

Kisah unik diceritakan Febi ketika bertemu dengan orang lain, ia kerap menggunakan bahasa campuran. Dalam sehari-hari, ia bisa tanpa sadar berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

“Bahkan terkadang jika ingin bercerita yang tidak ingin orang di sekitarnya paham, biasanya menggunakan bahasa asing,” ujar Febi yang bergabung Polyglot Chapter Semarang sejak Oktober 2018.

Kalau pengin lebih luas, ia menggunakan bahasa Inggris. Karena di polyglot, bahasa yang paling umum adalah bahasa Inggris. Semua anggota hampir bisa bahasa Inggris, baik secara aktif maupun pasif.

Febi juga bercerita ketika di rumah pun bahasa yang digunakan berbeda-beda. Ketika berbicara dengan kakak nomor dua, pakai bahasa Inggris. Bicara dengan ibunya menggunakan bahasa Indonesia, karena ibunya hanya menguasai bahasa Indonesia dan Mandarin. “Bicara dengan bapak dengan bahasa Jawa. Kalau dengan kakak pertama dengan bahasa Indonesia dan Jawa,” ceritanya. (mg15/mg18/cr5/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya