alexametrics

Virtual Blind Date di Kalangan Mahasiswa, Sekadar Cari Relasi, Syukur-syukur Bisa Dapat pacar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kencan buta secara virtual kini menjadi tren. Mahasiswa/mahasiswi yang belum memiliki pasangan bisa berikhtiar mencari pasangan dengan mahasiswa/mahasiswi beda universitas melalui kencan buta secara virtual. Syaratnya mudah, cukup menggunakan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan bayar Rp 20 ribu.

Perkembangan teknologi telah membentuk budaya baru di kalangan generasi muda dalam mencari pasangan. Kencan buta lewat dunia maya (virtual blind date) tak hanya cerita dari aneka drama Korea Selatan (drakor).

Kini sudah menjadi budaya generasi muda Indonesia. Tak hanya lewat media sosial seperti Instagram dan Facebook. Kini sudah ada penyedia jasa yang terang-terangan menawarkan kencan buta melalui dunia maya.

Adalah @vbd.kampus yang menjadi salah satu penyedia jasa layanan kencan buta virtual ini. Tak sedikit mahasiswa dari kampus ternama yang tertarik untuk sekedar mencoba karena penasaran dan memang benar-benar ingin mencari pasangan. Mereka mahasiswa Undip, UGM, Universitas Brawijaya (Unibraw), dan lainnya.

Dengan membayar Rp 20 ribu, peserta akan dicarikan pasangan dan diberikan kesempatan ngobrol secara virtual. “Sekadar mencari relasi atau syukur-syukur mendapatkan pacar,” kata Mira salah satu mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri yang pernah ikut dalam kencan buta.

Mira tahunya dari teman yang kebetulan menjadi panitianya. Mira pun diajak menjadi salah satu peserta. “Ya publikasinya dilakukan di Instagram, Line, dan Twitter. Kebetulan aku juga masih single, jadi nyoba saja,” kata mahasiswi semester lima ini.

Mira awalnya juga merasa penasaran dengan tawaran virtual blind date ini. Apalagi dilakukan antaruniversitas. “Ya awalnya sih malu dan canggung. Mau ngomong apa coba? Tapi setelah diberi waktu cukup lama oleh panitia, ya kita let it flow aja. Kemarin kami sempat ketemuan secara langsung sih, tapi gak jadian,” candanya.

Baca juga:  Mahasiswa Siap Bersinergi dengan Polres Salatiga

Kriteria pasangan yang Mira cari, sebetulnya yang cerdas dan nyambung ketika diajak sharing. Meski begitu, Mira tak takut tertipu. Apalagi dalam room chat, peserta wajib on camera saat ngobrol virtual.

Misalnya dilanjut kencan atau kopi darat, dirinya tetap yakin tak tertipu. Karena penyedia jasa memiliki data peserta secara lengkap.

“Baru sekali ikut. Nah dikasih waktunya hanya 30 menit. Masing-masing dikenalin sama tiga orang. Makanya nggak takut ketipu, karena wajahnya juga kelihatan,” imbuhnya.

Dari pengalaman kencan buta secara virtual ini bisa membuat pesertanya belajar bersosialisasi, meskipun terpisah jarak. Kadang memang bertemu dengan orang yang malu-malu. Kadang juga sekali bertemu sudah bisa klik kalau diajak ngobrol. “Sejauh ini nggak ada pengalaman buruk, paling ya gangguan sinyal,” pungkasnya.

Lain halnya dengan Ijit, 20, mahasiswa semester lima di perguruan tinggi negeri ternama di Semarang ini. Ia mengetahui virtual blind date ini dari official instagram vbd.kampus. Akun ini terkoneksi dengan akun official sosmed kampus lainnya sehingga informasinya bertebaran secara luas.

Awalnya hanya ingin tahu rangkaian acara kegiatan vbd.kampus. Kebetulan ia mendapatkan informasi tentang kencan buta ini dari medsos.

“Nggak berharap terlalu jauh sih, karena hanya virtual. Belum tahu juga orangnya gimana. Ya penasaran saja sama rangkaian acaranya,” bebernya.

Ijit pun mengitu virtual blind date batch 3 yang diadakan oleh vbd.kampus pada 6 Agustus 2021 lalu. Kali ini memang dibuka untuk mahasiswa/mahasiswi Unibraw, UGM, dan Undip. Pada event ini menerima seribu peserta. Terdiri atas 500 peserta perempuan dan 500 peserta laki-laki.

Baca juga:  Mengajar Hakikatnya Belajar untuk Diri Sendiri

“Pada batch 3 ini paling banyak peminat perempuannya. Bahkan panitianya pun terpaksa melakukan seleksi, sehingga ada peserta yang tidak diterima,” tuturnya.

Bersyukur Ijit berhasil mendapatkan tiket. Niat Ijit hanya untuk menjawab rasa penasarannya. Dia tertarik mengetahui rangkaian acaranya. Apalagi banyak peserta yang mengikuti acara virtual blind date untuk mencari teman dan pasangan.

“Kalau untuk jadi teman atau relasi sih aku gak terlalu mengharapkan. Lagian cuma bertemu secara virtual. Cuma mau tahu saja sih acaranya itu kayak gimana,” ujarnya.

Setiap peserta nantinya diberi kriteria pasangan yang diinginkan. Ijit hanya mencantumkan kriteria berdasarkan sifat-sifat pasangan yang ia inginkan. “Tapi sebenarnya itu cuma buat formalitas,” tuturnya.

Mengenal seseorang secara virtual dan diberi waktu untuk berkomunikasi lewat telepon membuatnya merasa canggung. Karena keadaan tersebut mempertemukan dua orang yang belum saling mengenal, namun diberi kesempatan untuk mengobrol selama 20 menit.

“Selama 20 menit itu kalau gak ada topik pembicaraan bingung mau ngomongin apa. Karena ada juga pasangan yang kita dapatkan itu pasif dan pemalu. Bahkan ada juga yang gak on cam, cuma on mic saja,” ucap Ijit.

Akun instagram vbd.kampus yang menyertakan testimoni di highlight Instagram meyakinkan para peserta bahwa acara tersebut sangat terpercaya. Namun, di bagian acara juga sempat mengalami kesalahan.

Seperti pada kesalahan teknis yang pernah Ijit alami ketika hari H acara dimulai, pasangan yang sudah dipilihnya berhalangan hadir. Kemudian panitia harus melakukan rolling kembali dengan pasangan baru yang tentunya random tidak sesuai dengan yang Ijit inginkan. Belum Ada Niatan Jadikan VBD sebagai Biro Jodoh

Baca juga:  Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang Digelar Sederhana

Virtual Blind Date Kampus ini sebenarnya hanya sekadar untuk melepas penat di tengah kesibukan kuliah. Selain itu, event ini juga sebagai perantara untuk mendapat relasi baru tanpa harus melewati kepanitian atau organisasi antarkampus.

“Mahasiswa bisa mendapatkan kenalan baru tanpa perlu dijembatani oleh tugas-tugas kepanitiaan atau organisasi,” kata Lintang Phalosa, salah satu admin dari akun Instagram @vbd.kampus (VBD) kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sebagai penyedia jasa berbayar, Lintang—sapaan akrabnya- mengatakan, uang yang terkumpul dari hasil pendaftaran VBD dipergunakan untuk membiayai kebutuhan operasional, supaya acara berjalan dengan baik dan lancar. “Uangnya untuk pembayaran zoom meetings pro, pembayaran media partner, dan lain-lain,” ungkap gadis berusia 21 ini.

Sejauh ini, pihak penyedia jasa tidak mengetahui tentang keberlanjutan hubungan antarpeserta setelah mengikuti rangkain acara ini. Bisa jadi berlanjut ke hubungan yang lebih serius, atau bahkan tidak sama sekali.

“Saya tidak pernah tanya kepada peserta. Bagi kami, terpenting acaranya lancar dan peserta mendapatkan pengalaman yang berkesan,” tambah mahasiswa semester satu ini.

Dirinya bersyukur, VBD ini ternyata mendapat feedback positif dari para pesertanya. Makanya acara ini telah terlaksana hingga 10 batch. Tentunya dangan peserta yang cukup banyak pula. Kendati begitu, Lintang dan tim belum memiliki niatan untuk menjadikan VBD sebagai penyedia jasa seperti biro jodoh. ”Tak sedikit lho dari mereka yang mendaftar kembali di batch selanjutnya,” tandasnya. (den/mg9/mg11/mg12/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya