alexametrics

Menelisik Prostitusi PSK Hamil di Semarang, Pelanggannya Mahasiswa, Pengusaha hingga Pejabat

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Praktik prostitusi tak hanya dilakukan oleh perempuan biasa. Pekerja seks komersial (PSK) hamil alias bumil pun marak di Kota Semarang. Layanan bumil ini banyak diburu para pria hidung belang yang menginginkan sensasi berbeda.

Sabtu (9/10/2021) pukul 23.00, Jawa Pos Radar Semarang sudah janjian bertemu dengan SL. Perempuan open BO (booking out) ini usianya 32 tahun. Jawa Pos Radar Semarang mendapatkan kontak SL dari media sosial Facebook. Ia memang terang-terangan membuka open BO alias bisa diajak kencan.

SL juga memposting foto wajah yang tampak cantik. Perutnya dalam kondisi bunting juga diperlihatkan. Ia membandrol tarif short time Rp 500 ribu. Durasi waktu kencan, maksimal 60 menit.

Iya, Tarif Rp 500 ribu sekali keluar. Sudah include sama kamar,” kata SL kepada Jawa Pos Radar Semarang.

SL stay di rumah kos di Jalan Supriyadi, Kalicari, Pedurungan. Koran ini pun mendatangi tempat kosnya. Hampir tengah malam. Rumah kosnya cukup mewah, dan mudah dijangkau. Di bawah terdapat area parkir roda empat yang luas. Kamarnya terletak di lantai bawah.  Letaknya di  depan. Dekat dengan gerbang masuk.

Kos eksklusif itu terlihat sepi. Seperti tidak ada penghuninya. Mungkin sudah pada tidur. Hanya ada satu pintu kamar yang terbuka. SL tinggal di kamar itu. Rupanya SL sudah menunggu. Dia mengenakan daster warna cokelat. Sudah berdiri di pintu kamarnya. SL mempersilakan koran ini masuk.

“Masuk aja Mas. Santai aja, sekalian minta tolong pintunya ditutup ya,” pintanya sembari duduk di  atas spring bed.

Wajah SL tampak cantik. Sama dengan foto yang dipasang di media sosial. Rambut panjang sepunggung, sedikit bergelombang. Bibirnya merah. Kulit putih. Ia memakai softlens mata.  “Mas, mau minum apa, mau kubuatkan kopi?” tawar wanita yang mengaku asli Kota Semarang ini.

Ia duduk di spring bed dengan dua kaki bersimpuh. Perempuan ini mengaku tengah hamil tujuh bulan. Dia mengaku terpaksa mencari nafkah menjadi perempuan open BO karena tuntutan kebutuhan.

Baca juga:  Dihantui Banjir Sungai Beringin

Ya masih melayani, gimana lagi namanya butuh duit. Sehari saya hanya melayani tiga tamu. Sekarang memang saya batasi. Kalau pas tidak hamil dulu,  bisa sampai enam sampai tujuh tamu. Kalau sekarang eman-eman perutnya,” akunya.

Baca Juga: Pengakuan Cewek Open BO di Semarang, Pernah Dibooking Pasutri untuk Layani Threesome

Dikatakan, tarif Rp 500 ribu tersebut memang lebih mahal ketimbang tarif saat dirinya tidak hamil. “Lebih tinggi sekarang, sensasi bumil kan mahal, Mas. Kalau dulu sebelum hamil Rp 400 ribu nett. Kalau sekarang Rp 500 ribu. Kalau di luar kota bisa sampai Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu. Saya juga panggilan ke sana (luar kota, Red). Itu sudah include,” jelasnya.

SL mengaku, pelanggannya dari berbagai kalangan, mulai masyarakat umum, mahasiswa, pengusaha, hingga kalangan pejabat. Namun, secara tegas, dia menolak melayani tamu anak di bawah usia 17 tahun.

“Yang mencari bumil itu rata-rata mereka bumillover. Bukan orang yang biasa-biasa. Jadi, sukanya nyari yang ibu-ibu hamil. Pejabat banyak. Rata-rata dia mencari sensasi. Pada penasaran,” jelasnya.

“Saya lebih tertarik  sama laki-laki yang lebih tua. Yang penting bersih, wangi, dan yang pasti banyak duit. Mereka masuk sini, harus mandi dulu. Kalau pulang terserah mereka,” sambungnya.

Salah satu pria hidung belang yang biasa memboking PSK bumil, sebut saja Is, mengaku sengaja kencan dengan bumil karena mencari sensasi lain. Tarif PSK hamil lebih tinggi dibanding pada umumnya. Rata-rata mereka mematok tarif Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta.

“Kalau ibu hamil yang biasa saja paling Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Kalau mungkin yang belum pernah melahirkan ya bisa sampai Rp 1,5 juta, tergantung usia dan kecantikannya,” jelasnya.

Baca juga:  Pernah Bangun Tower 102 Meter, Terpaksa Turun Lagi Kalau Kebelet Buang Air

Menurutnya, rata-rata para PSK ini melayani tamu di hotel dan tempat kos. Sedangkan cara menggaet pelanggan, seringnya memanfaatkan media sosial. “Kebanyakan di Facebook dan MiChat. Ada yang hanya modus panggilan pijat atau massage. Ada yang terus terang, memang open BO,” jelasnya.

“Kalau mijat saja kan paling Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu. Terus nanti menawarkan, kalau mau diservis sekalian ya nambah. Layanan mandi kucing atau petik mangga, paling nambah Rp 50 ribu, cuma nyentuh megang-megang, meraba,” sambungnya.

Is mengaku, kencan dengan PSK sejak masih usia 18 tahun. Perjakanya hilang di salah satu lokalisasi di Kota Semarang yang kini telah ditutup.  “Kalau ngamar dengan PSK hamil pernah dua kali, di lokalisasi dan open BO. Tarifnya ya segitu (Rp 500 ribu),” terangnya.

Perempuan hamil yang menjadil PSK sangat berisiko. Baik bagi ibu yang mengandung maupun janinnya. Sebab, PSK adalah pekerjaan yang multipartner seksual alias tidak hanya berhubungan dengan satu pasangan saja.

Dokter  spesialis kebidanan dan kandungan RS Roemani Muhammadiyah Semarang dr Aristo Farabi SpOG menjelaskan, risiko penyakit menular seperti sipilis, gonore, HIV atau AIDS sangat mempengaruhi masa kehamilan. “Meskipun PSK hamil itu tidak terjangkit penyakit, mereka tetap harus waspada,” kata Aristo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, penyakit menular seksual yang dialami ibu bayi akan bisa menular ke janin. Pada penyakit HIV/AIDS, ibu bisa menularkan lewat transmisi. Pada penyakit gonore akan berbahaya pada saat melahirkan. Ketika ada kontak dengan si ibu, akan menyebabkan infeksi pada bayi.“Banyak penyakit menular seksual yang lain yang bisa mengancam kesehatan bayi,” ujarnya.

Misalnya, pada PSK yang memiliki penyakit seksual, seperti sifilis akan memberikan dampak pada janin berupa kecacatan pada bayi, infeksi, dan terjadi sifilis kongenital.

Namun, diakui, tidak semua penyakit bisa transmisi vertikal. “Jadi, tergantung penyakitnya. Sifilis bisa langsung terdampak, gonore akan memberi dampak ke bayi ketika ada kontak pada saat melahirkan. Kondilum (kutil vagina) bisa terinfeksi pada saat melahirkan,” jelasnya.

Baca juga:  PNS Tak Boleh Terima dan Kirim Parsel

Ia menambahkan, masa kehamilan seseorang dapat terbagi menjadi beberapa tahap. Yakni, pada saat hamil, saat melahirkan, dan masa setelah nifas. Pada masa sebelum kehamilan dengan riwayat penyakit menular seksual memiliki risiko yang tinggi. “Saat dia hamil trimester pertama ketika umur kehamilan 0 sampai 12 minggu adalah masa yang rentan,” tegasnya.

Pada pekerja seksual, kata dia, karena kerap melakukan hubungan badan bisa menyebabkan salah satunya rangsangan pada rahim yang menyebabkan risiko keguguran tinggi.  Dalam proses kehamilan trimester kedua, pekerja seksual akan mengabaikan nutrisi, dan awareness-nya terhadap kehamilan yang rendah. Yang otomatis menyebabkan kecukupan atau asupan pada kehamilannya banyak yang tidak terpenuhi.

“PSK kan kerjanya malam hari, siangnya tidur. Jadi life style semacam itu tidak sehat. Sehingga kandungannya juga tidak sehat,” ungkapnya.

Pada masa trimester ketiga menjelang persalinan, terutama pada akhir kehamilan, penyakit menular seksual bisa menular pada janin, karena adanya kontak proses transmisi langsung dari ibu ke bayi melalui plasenta.

“Jadi PSK hamil akan sangat berbahaya bagi ibu maupun janinnya. Pada trimester satu bisa menyebabkan keguguran, trimester kedua akan mengakibatkan prematur, dan trimester ketiga akan mengakibatkan ketuban pecah dini,” bebernya.

Selain itu, keamanan dari terinfeksi penyakit juga tidak bisa terjamin, karena pasangan yang diajak berhubungan belum tentu aman. Pasangan multipartner tidak bisa dijamin keamanannya. Bahkan dengan berhubungan dapat mengakibatkan infeksi oportunistik.

Menurutnya, dengan berhubungan multipartner keasaman vagina akan berubah-ubah. Akibatnya, bakteri yang tadinya normal di vagina bisa menyebabkan infeksi. “Kalau terjadi infeksi vagina, otomatis akan merangsang reaksi inflamasi yang merangsang terjadinya kontraksi pada kehamilan,” jelasnya. (mha/mg15/cr5/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya