alexametrics

Tunggu Eksplorasi, Candi Balekambang Batang Diuruk Lagi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Candi Balekambang terletak perkebunan karet di Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, Batang. Tak jauh dari objek wisata Pantai Jodo. Situs candi Balekambang ditemukan pada 2019 oleh tim arkeolog Indonesia dan Perancis. Pada penggalian ditemukan juga pecahan gerabah.

Setelah diketahui ukuran dan bentuknya, temuan candi tersebut diurug kembali, dan diberi tanda patok besi. Tujuannya, supaya tidak diambil orang-orang tidak bertanggung jawab sambil menunggu eksplorasi selanjutnya.

Candi yang ditemukan di Balekambang berjumlah dua buah. Semua terbuat dari terakota (batu bata) dengan ukuran 7×7 meter persegi. Karena prasasti belum ditemukan, kedua candi itu pun diberi nama Candi Batu Bata.

Sesepuh Desa Sidorejo Suba’i mengatakan, jika dibenahi, kompleks Balekambang dan candinya akan menjadi objek wisata menarik. “Jika dibenahi, ke depan bersama Pantai Jodo akan menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik,” kata mantan kades setempat ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakui, untuk mengelolanya butuh dana hibah yang besar. Juga butuh akses jalan yang baik. Sebab, saat ini jalan menuju lokasi harus menyeberangi rel kereta api rel ganda tanpa palang, serta dilanjutkan menyusuri jalan setapak tepi rel yang berbahaya.

Baca juga:  Obat Kuat Marak Dijual di Toko Pinggir Jalan, Online, hingga Medsos

Diungkapkan Suba’i, Candi Balekambang atau Candi Batu Bata terbilang unik dan langka. Karena terbuat dari batu bata merah atau terakota berukuran besar. “Kalau dari ahli dan pengalaman kami, berciri khas Hindu, mirip candi-candi di dataran tinggi Dieng,” jelasnya.

Menurutnya, keberadaan Candi Balekambang sendiri tidak lepas dari cerita legenda turun-temurun yang sampai sekarang masih dipercaya masyarakat setempat.

Dikisahkan, asal mula situs Balekambang berasal dari mendaratnya perahu Kaladenta yang ditumpangi oleh bangsa lelembut, dan akhirnya menguasai Alas Tunggorono (hutan sepanjang pesisir utara Batang) dan membuat kekacauan.

Sehingga masyarakat tidak tenang. Perahu Kaladenta digambarkan sangat besar membentang dari Pantai Jodo sampai Kali Prau di Pemalang.

Kekacauan yang ditimbulkan bangsa lelembut membuat sebuah kerajaan besar mengutus seorang pangeran bernama Ragil Kuning. Pengeran ini dalam peperangan melawan bangsa lelembut dikenal pemberani dan mengobrak-abrik musuh seperti banteng, sehingga dijuluki Den Bagus Banteng.

Baca juga:  Begini Kiat Ketua PPJ Atasi Pedagang Liar di Pasar Johar

Tetapi meskipun sakti dan pemberani, Den Bagus Banteng kalah, karena pertempurannya tidak memakai taktik. Pada suatu hari, Den Bagus Banteng bertemu seorang Resi, dan disuguhi bubur panas.

Karena lapar, bubur itu langsung disantap, sehingga lidahnya melepuh. Oleh sang Resi, Den Bagus Banteng diberi wejangan jika memakan sesuatu yang panas hendaknya dari pinggir jangan langsung dari tengah.

Sanepo atau petuah ini, kemudian digunakan menjadi taktik perang dan menyerang bangsa lelembut dari tepi, dan kemudian merangsek ke jantung pertahanan. Taktik ini berhasil, dan bangsa lelembut berhasil dikalahkan.

Oleh Den Bagus Banteng, para lelembut tetap diperbolehkan menetap di Alas Tunggorono, tapi tidak boleh mengganggu manusia.

Untuk diketahui, selain itu, di Batang ada namanya Alas Roban. bBerlokasi di selatan Jalan Daendels atau Jalan Poncowati pada zaman kerajaan Mataram.

Baca juga:  Belum Ada Shelter, Lepas Hewan yang Sudah Diobati

Sampai sekarang meskipun dianggap angker dan auranya kuat, tapi belum pernah terjadi orang kesurupan atau penampakan di lokasi tersebut. Den Bagus Banteng kemudian membuat petilasan berupa kolam untuk mensucikan diri, dan membangun candi untuk meditasi.

“Asal usul Perahu Kaladenta yang ditumpangi bangsa lelembut dan Den Bagus Banteng tidak diketahui, karena prasasti tentang Candi Balekambang belum ditemukan”, kata Suba’i.

Ditambahkan Suba’i, Jayabaya pernah meramalkan Perahu Kaladenta akan muncul kembali, dan mengubah karakter manusia. Ramalan itu sekarang sudah terbukti. Panjang perahu yang membentang dari Gringsing sampai Pemalang diibaratkan sebagai area Industri.

Dan banyak kapal besar lalu lalang melayani PLTU, dan nantinya kawasan industri. Karakter manusia juga berubah. “Jika dulu hanya bekerja sebagai petani dan nelayan, tapi sejak adanya kawasan industri beralih menjadi pedagang dan tenaga ahli,” lanjut Suba’i. (han/aro)

 

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya