alexametrics

Percantik Kota, Usung Tema Besar Variety of Culture

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Seniman Kota Semarang jebolan ISI Yogyakarta Rudi Winarso memberikan apresiasi tinggi kepada Pemkot Semarang yang telah melibatkan seniman untuk mempercantik kota.

Salah satu seniman yang digandeng Pemkot Semarang adalah Rudi Winarso. Kepedulian Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi terhadap para seniman, Rudi apresiasi. “Saya menyambut baik kolaborasi ini. Bahkan, ini kali pertama seniman dilibatkan dalam hal mempercantik kotanya,” kata koordinator seniman patung dalam pembangunan dan revitalisasi taman kali ini.

Baginya Semarang merupakan kota yang memiliki keanekaragaman budaya. Ada kesenian, peninggalan bangunan/arsitektur, religi, dan kuliner yang beragam.

Itu menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kota Atlas ini. “Melihat potensi ini, Pemkot Semarang ingin membangun identitas wilayah yang memiliki pembeda dari tempat lain,” katanya.

Sebenarnya bukan hanya seniman yang digandeng untuk mewujudkan ikon Semarangan ini. Ada juga praktisi desain city branding dan konsultan perencana tata kota untuk melakukan studi dan perencanaan. Akhirnya muncullah ide membangun bentuk visual pencitraan kota, yakni berupa patung. “Bentuk visual dipilih karena mudah tertanam dalam benak setiap orang dan mengikat kuat perasaan,” katanya.

Tema besar yang disung adalah ‘Variety of Culture’. Mengandung makna, kota ini sedang mempercantik diri dan berkembang dengan tetap mempertahankan budayanya yang heterogen. Sedangkan pesan yang ingin disampaikan adalah sentuhan harmonisasi berbagai budaya Jawa bersama budaya China, Arab, dan Belanda, yang masih kuat.

Termasuk memunculkan tokoh-tokoh Pahlawan Nasional maupun masterpiece kebudayaan Kota Semarang. Nantinya tokoh pahlawan nasional akan diwujudkan dalam bentuk patung. Dipadukan dengan taman-taman kota untuk berinteraksi secara sosial dengan destinasi wisata baru yang edukatif dan bernuansa kekinian.

Baca juga:  Arwah Korban Datang Membantu Identifikasi

“Nantinya patung akan dibangun di segenap penjuru Kota Semarang,” kata Rudi.

Pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini membeberkan patung-patung yang akan dibuat di Kota Semarang di antaranya adalah Monumen Nol Kilometer Kota Semarang, Patung Kinetik Penari Semarangan, Patung Pendawa Lima, Patung Pierre Tendean, Patung Mas Tirtodarmo Haryono, Patung Raden Saleh Syarif Bustaman, Patung Dokter Kariadi, Patung Abdurrahman Saleh, dan Patung Jenderal Soedirman.

Selain itu, akan dilakukan perencanaan untuk pembuatan Patung Pangeran Diponegoro, Patung Ki Pandanaran, dan Patung Laksamana Cheng Ho. Dua seniman patung yang digandeng langsung oleh Pemkot Semarang adalah Ponco Widianto dan Hasto Edi Setiwan yang juga alumnus ISI Yogyakarta. Mereka akan berkolaborasi dengan seniman patung. “Ke depan semua seniman aktif kudu bisa terlibat,” tuturnya.

Tetap menonjolkan nuansa kekinian dalam perencanaan pembuatan patung di Kota Semarang. Contoh, Patung Kinetik Penari Semarangan yang melengkapi Taman Kaliwiru. Tidak sekedar patung figur penari gaya Semarangan yang sedang beraksi dalam posisi diam dan membeku. Patung ini dirancang dalam pola gerak dinamis berputar dari bagian kaki sampai perut, berputar ke kiri dan ke kanan, dari bawah ke atas, dan sebaliknya. Pola gerak patung figur penari gaya khas Semarangan yang dinamis. “Makanya diberi nama Patung Kinetik Penari Semarangan.”

Karya patung terbaru yang telah diresmikan oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi 10 April 2021 lalu adalah Patung Pahlawan Nasional Kapten Czi Pierre Andreas Tendean yang terletak di Signature Park Pierre Tendean, di persimpangan Jalan Pierre Tendean dan Jalan Pemuda. Patung tersebut diselesaikan dalam waktu dua bulan dan dikerjakan di studio patung.

Baca juga:  Susah Sinyal, Datangi Siswa ke Rumah untuk Mengajar

Gandeng Seniman, Arsitektur, dan Budayawan

Selain Taman MT Hariyono, tahun 2021 ini akan dibangun tiga taman yang menggunakan dana APBD dan corporate social responsibility (CSR) perusahaan swasta. Yakni Taman Nol Kilometer di depan Kantor Pos Besar Johar, Taman Kaliwiru, Taman Museum Kota Lama/Taman Bubakan, dan lainnya.

Taman Museum Kota Lama/Taman Bubakan akan mengusung konsep Batik Semarang Krawangan. Jadi motif batik khas Semarangan ini akan disorot lampu yang sinarnya menyorot motif batik ke lantai. “Motif batik krawangan ini menampilkan nuansa etnik. Biasanya ditempatkan di areal bangunan publik dan kantor pemerintahan, kali ini di museum,” kata Kepala Bidang Pertanaman dan Pemakaman, Disperkim Kota Semarang, Murni Ediati.

Sedangkan Taman Nol Kilometer saat ini masih ditawarkan kepada pihak swasta untuk membiayai pembangunannya. Konsepnya nanti menampilkan ciri khas Semarangan dengan menampilkan patung Ki Ageng Pandanaran. “Materialnya kami sesuaikan agar tidak melenceng dari local wisdom,” tambahnya.

Sulit terwujud jika hanya mengandalkan dana APBD untuk membangun taman dan ikon Kota Semarang. Apalagi Disperkrim sudah memiliki rencana membangun belasan taman baru serta revitalisasi taman lainnya dengan mengusung konsep sejarah. Pemkot saat ini sudah meminta keterlibatan beberapa perusahaan, di antaranya membangun Taman Abdulrahman Saleh dan Taman Sampangan. “Nanti ada ikon berupa patung di masing-masing taman. DED sudah kami siapkan dan kami tawarkan ke pihak swasta,” kata Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang Ali.

Baca juga:  Kronologi Tewasnya Dua Pedagang Sayur di Magelang yang Diracun Dukun Pengganda Uang

Tak hanya itu, Pemkot Semarang juga akan menambah patung di Taman Madukoro. Kemudian perbaikan Taman Siranda dengan mengangkat local wisdom, berupa burung blekok asem dan buah asem yang menjadi cikal bakal nama Semarang, yakni Asem Arang. “Sekali orang luar melihat, bisa tahu cerita cikal bakal Semarang,” harapnya.

Untuk mewujudkan konsep kesejarahan tersebut, Pemkot Semarang menggandeng para seniman Kota Semarang yang sangat potensial. “Kamis membangun dengan konsep bergerak bersama. Potensi mereka sangat besar. Bahkan banyak karya mereka di luar negeri yang monumental,” katanya.

Selain itu, arsitek dan budayawan juga dirangkul untuk menerjemahkan ide serta kajian sebagai bahan rujukan ikon patung dan pembangunan taman. “Misalnya konsep taman dan patung Tari Semarang di Kaliwiru, kami coba wujudkan menjadi patung tiga dimensi. Ini menjadi karya monumental,” tuturnya.

Pembangunan taman yang masif ini, bagian dari upaya Pemkot Semarang menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) sesuai dengan aturan, yakni seluas 30 persen dari luas kota. Apalagi persentase RTH di Semarang baru 15 persen.

“Taman-taman banyak, aset juga banyak, tapi terkendala pembiayaan. Kami harapkan peran serta CSR turut membangun kota ini. Kami upayakan pembangunan dengan menggandeng pengusaha, agar sesuai aturan yang ada,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang Iswar Aminuddin.

Bahkan setiap sudut kota atapun wilayah di kecamatan akan dibangun RTH. Misalnya Gunungpati. Tembalang, Genuk, dan Pedurungan, yang saat ini belum tertangani dengan baik masalah RTH-nya. “Yang belum kami harapkan ada kerja sama dengan pengusaha,” kata mantan kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang ini. (cr7/den/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya