alexametrics

Hasil Jualan Bonsai untuk Pengembangan Pondok Pesantren

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bonsai dihargai mahal karena usianya, seni, dan keunikannya. Termasuk perjuangan mendapatkan pohon harus menembus lebatnya hutan, gunung, tebing, dan jurang.

Saat kecil, masih berumur 9 tahunan, Supriyanto, 56, merasa prihatin dengan tindak pembabatan hutan yang merajalela. Tepatnya kala itu tahun 1974. Tak mau berpangku tangan, Supriyanto pun membudidayakan bonsai hingga kini.

Ia menanam pohon bonsai seperti pohon serut, pohon asam, pohon kelapa, randu parigata, pohon beringin, pohon monstera dan lain-lain yang ditanam di tanah seluas dua hektare, di pekarangan rumahnya. Bahkan, di atas rumahnya yang berada di Jalan Kenanga nomor 7 Bannyumanik sekarang ini penuh dengan tanaman bonsai.

“Kalau dikumpulkan ya sampai lima truk tidak muat. Biasanya saya menyiraminya dari pukul 14.00 sampai pukul 21.00 setiap harinya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (27/8/2021).

Baca juga:  Pensiun dari PNS, Nur Hadi Sukses Dirikan Sekolah, Bertani dan Beternak

Ia menjelaskan, bonsai adalah pohon yang seharusnya besar tapi diperkecil dengan cara mengurangi vitamin dan memberikan media yang sedikit. Ia mengaku mendapatkan pohon-pohon tersebut dari hutan, seperti di Magelang, Salatiga, hingga Gunung Ungaran.

Saat ini, ia menyuplai bonsai tidak hanya dari kalangan atas, tapi kalangan menengah ke bawah juga ia suplai. Harga pohon bonsainya sangat variatif, berkisar dari 200 ribu yang masih bahan ditaruh di plastik poliback sampai Rp 500 juta.

“Pohon serut yang daunnya diperkecil. Ini ada dua sudah saya rawat selama tujuh tahun. Saya tawarkan sampai Rp 500 juta. Harus dijual satu paket, untuk perkembangan yayasan yang di Jalan Lempuyang III Banyumanik,” katanya.

Baca juga:  Teror Pelemparan Batu Masih Mengintai, Lima Bulan Terjadi 27 Kasus

Ia menjelaskan, pohon bonsai dihargai mahal karena usianya, seni, dan keunikannya. Ia meminta untuk menghargai pohon bonsai kepada para peminat bonsai, karena nilai karya seni. Di samping itu perjuangan untuk mendapatkan pohon bonsai sangatlah berat, karena harus berhadapan dengan gunung, tebing, dan jurang. “Saya pernah mencapai 50 meter dari tebing karena pohonnya kan menempel di tebing. Maka saya kalau pergi selalu membawa peralatan safety,” tuturnya.

Ia juga mengajak kiai pengasuh pondok pesantren dari Beringin untuk ikut bertanam bonsai. Hasil penjualannya disalurkan untuk pengembangan pondok pesantren di Kecamatan Beringin itu.

Peminat pohon ini sampai ke luar kota, seperti Jepara, Kudus, Jogjakarta, Kendal, Purwodadi, hingga Jakarta. Pemasarannya dengan memanfaatkan media sosial Instagram dengan akun segar_arsaka_hijau dan melalui whatsapp di nomor 085726939666. (cr6/ida)

Baca juga:  Difabel Harus Diberi Kesempatan Bergabung di Sekolah Umum

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya