alexametrics

Ada 40 KK yang Budidaya Bonsai di Kampung Pongangan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Selain kampung batik, kampung flora, kampung Jawi, Kota Semarang ternyata kaya akan kampung tematik dan ikonik. Adalah kampung bonsai, paling banyak dijadikan tema kampung di beberapa wilayah.

Tidak sulit menemukan Kampung Bonsai Pongangan. Sudah ada gapura sebagai penanda kampung. Tepatnya di Jalan Kuwasenrejo RT 06 RW 04, Kelurahan Pongangan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Begitu memasuki gapura, pandangan mata akan disambut tanaman bonsai yang berjajar rapi di setiap halaman rumah. Beraneka ragam bunga, menambah keasrian dan keindahan kampung. Kalau diperhatikan lebih jeli lagi, hampir setiap rumah di Kelurahan Pongangan terpajang pot-pot bonsai yang indah menawan.

Nilai estetika tanaman bonsai yang dibuat salah satu warga Kelurahan Pongangan itu, berhasil memikat pembeli dari luar Jawa. Seperti Yogyakarta, Palembang, hingga Riau. “Alhamdulillah, masa pandemi ini malah kebanjiran pesanan,” kata salah satu pencetus Kampung Bonsai Pongangan, Agus Suyatna, 47.

Baca juga:  Menu Andalannya Justru Ayam Bumbu Bali

Tak sendiri, Agus Suyatna-atau yang akrab disapa Pak Tinus-mencetuskan Kampung Bonsai bersama tiga rekannya. Yakni Rustam, Iwan, dan Maryono. Hal itu mendapat dukungan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Kini, kampung tersebut menjadi kampung tematik dan mendapat fasilitas seperti taman bermain, gapura, dan nantinya akan dilengkapi galeri bonsai.

“Sejak tahun 2010, di RT saya ini resmi jadi Kampung Bonsai. Sekarang sudah ada 40 KK yang melakukan budidaya bonsai,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tinus menceritakan, adanya Kampung Bonsai di Kelurahan Pongangan memberikan berkah rezeki bagi masyarakat. Selain menyalurkan kegemaran, kini masyarakat bisa mendapatkan keuntungan, sehingga menambah pemasukan.

Diakuinya, ia dapat menjual bibit tanaman bonsai berumur satu bulan dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu. Untuk satu tanaman bonsai berumur 5 tahun, ia mematok harga kisaran Rp 30 juta hingga Rp 40 juta. “Yang bikin mahal itu nilai estetika dan proses pembuatannya yang lama,” bebernya.

Baca juga:  Suka Duka Bertubuh Jangkung: Sering Terbentur Atap Pintu dan Atap Mobil

Sementara itu, Ketua RT 06 RW 04 Kelurahan Pongangan, Sovie Nuriawan, bersyukur dan mengapresiasi warganya yang telah membudidayakan tanaman bonsai. Bahkan bisa menjadi hobi yang menguntungkan.

Dia katakan, sebelumnya terdapat kelompok tani tanaman bonsai. Namun saat ini kegiatan kelompok tani itu terhenti. “Dari kelurahan mewadahi para petani bonsai itu. Nah dibentuklah kelompok tani. Biar semuanya terstruktur dan lebih mudah untuk pengembangannya,” ujarnya.

Meski begitu, ia berharap Kampung Bonsai Pongangan bisa dikenal dan dikunjungi oleh masyarakat luas. Sehingga memungkinkan pemasarannya menjangkau ke luar pulau. Apalagi tanaman bonsai ini menjadi ikonik di Kelurahan Pongangan. “Semoga bisa jadi penunjang ekonomi warga setempat, sehingga kehidupan masyarakat lebih sejahtera dan mandiri,” harapnya. (cr8/ida)

Baca juga:  Pedagang Gunakan Gayung untuk Sarana Transaksi

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya