alexametrics

Tantangannya Ketika Cuaca Tiba-Tiba Berubah, Angin Tiba-Tiba Kencang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bekerja sesuai dengan passion memang menyenangkan. Meski berada di ketinggian dan risiko tinggi, namun hambatan dan ketakutan itu bisa terlewatkan.

Adalah Andhy Nofandhy, 40. Dia mengenal pekerjaan di bidang ketinggian sejak tahun 1999. Kala itu, Andhy mulai mengenal pekerjaan ini melalui dunia pecinta alam di kampusnya.

Namun ia mulai bekerja dalam bidang ketinggian sejak 2009. Dirinya mulai mendirikan perusahaannya sudah berjalan 4 sampai 5 tahun.

“Dulu saya kuliah di fakultas hukum. Setelah lulus, saya sempat bekerja di bidang investasi kemudian mulai menekuni pekerjaan di bidang jasa building maintenance khusus di ketinggian,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (19/8/2021).

Meski pekerjaan yang ia tekuni saat ini melenceng dari background pendidikan terakhirnya, namun tidak membuatnya merasa rugi. Karena ia mengaku senang menjalankan pekerjaan tersebut. Ia menganggap bekerja layaknya hobi, membuatnya lebih nyaman. Bahkan ia memiliki club panjat dinding khusus pemula baik anak-anak maupun dewasa.

Pekerjaan yang ia lakukan mencakup semua pekerjaan di ketinggian, seperti pembersihan kaca gedung, pengecatan gedung, kebocoran, pemasangan kaca, dan juga pekerjaan di dalam lobang. Untuk jam kerja hampir sama seperti orang bekerja pada umumnya yakni delapan jam kerja, dari jam sembilan pagi hingga lima sore.

Baca juga:  Resa Lawang Sewu: Gunakan Ikon Semarang sebagai Nama

“Tidak semua gedung dapat di-maintenance saat pagi hari. Kadang ada gedung-gedung tertentu yang bisa di-maintenance pada waktu malam hari saja, contohnya seperti mal. Kalau peralatan yang dibawa ada sepatu, tali, full body safety harness, helm, dan lainnya,” jelasnya.

Pria kelahiran 30 November 1980 ini mengaku bahwa selama dirinya bekerja di jasa building maintenance khusus ketinggian tidak pernah mengalami kejadian yang membahayakan. “Kalau pengalaman unik gitu belum pernah sih, paling biasanya cuaca tiba-tiba berubah, angin tiba-tiba kencang, gitu aja sih. Dan itu masih bisa kita lanjutkan untuk bekerja.” ujarnya.

Pekerjaan yang potensi bahayanya sangat besar ini, tentu memiliki beberapa kriteria bagi para calon pekerja. Di antaranya harus memiliki kesiapan fisik dengan kondisi yang sehat dan tidak memiliki rasa takut dengan ketinggian.

“Untuk mengantisipasi kecelakaan, perusahaan kami selalu melaksanakan training kepada calon pekerja dengan tujuan memberikan bekal pemahaman mengenai safety bekerja di ketinggian,” katanya.

Suka dan duka telah ia rasakan selama bekerja. Mulai dari pekerjaan yang sesuai dengan hobi dan memiliki tim kerja yang kompak membuatnya sangat bersyukur. Namun duka juga ia rasakan, ketika menghadapi angin kencang yang dapat membahayakan dirinya dalam bekerja.

Baca juga:  Fokus Low Budget, Spot Mudah dan Ikan Banyak

Di masa pandemi Covid-19, perusahaan Cakar 4 Pilar sendiri tidak mengalami dampak dan tetap berjalan stabil bahkan panggilan pekerjaan makin meluas hingga ke luar kota. “Berlangsungnya PPKM Jawa Bali ini justru perusahaan kami mendapat banyak panggilan dari luar kota, seperti Sumatra, Kalimantan, Batam, dan sebagainya,” katanya.

Rupanya, perusahaan yang ada di Kota Semarang ini menerima semua panggilan jasa building maintenance di seluruh Indonesia. Dengan kompetitor yang sedikit, perusahaan ini berpeluang besar menerima tawaran jasa dari berbagai linu. Marketnya masih sangat besar.

Tak Kejar Proyek Murah, Lebih Tekankan Safety Pekerja

Sudah sepuluh tahun Joko Marwoto bekerja di kontruksi bangunan. Ia Bersama timnya menggarap proyek dari Jawa, Bali, hingga Kalimantan. Bongkar pasang material bangunan di ketinggian sudah menjadi hal biasa baginya.

Untuk menggarap satu proyek, Joko biasanya memerlukan waktu dua bulan. Pengerjaannya 3-4 hari untuk melakukan bongkar pasang satu alat. Lain dengan alat penebang pohon yang hanya sekitar 15 meter. Timnya yang beranggotakan enam orang harus berada di ketinggian 50-100 meter untuk menyelesaikan pekerjaannya.

“Ya memang risikonya nggak sebanding dengan gaji yang diperoleh. Tapi kita juga mementingkan keamanan pekerja seperti helm, rompi, dan tali yang dikaitkan dengan besi,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Memang tak perlu ijazah tertentu untuk bekerja di bidang tersebut. Mental berani dengan ketinggian lebih penting dari persyaratan lainnya. Meski begitu, ada waktu saat pekerja harus beradaptasi di kala baru mulai bekerja. Joko sendiri sebagai pengawas perlu beberapa kali bergabung dangan timnya. “Rasa takut pasti pernah ada, tapi kan lama-lama terbiasa. Jadi ya sekarang biasa saja,” imbuhnya.

Baca juga:  The Saint Tundukkan Amartha Hangtuah lewat Drama Tiga Overtime

Perusahaan tower crane memang sudah lama menggarap proyek bangunan di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai tangan kanan bosnya, Joko memastikan keamanan timnya terjamin. Ia tak mengejar proyek murah yang memangkas biaya keamanan pekerja. “Saya menekankan safety daripada harga murah,” katanya.

Dia katakan, sejauh ini belum pernah ada kecelakaan kerja. Tapi memang harus memperhatikan protokol keamanannya yang bisa dibilang sangat ketat. Memang ada harga yang perlu dibayar untuk pekerjaan yang cukup memacu adrenalin. Itu pun gaji yang diperoleh pekerja tak jauh berbeda dengan UMR Kota Semarang.

“Yang menjadi kebanggan tersendiri itu saat proyek yang kita garap selesai, lalu sudah digunakan. Dari kejauhan kita bisa lihat itu, dipakai orang banyak. Menurut saya itu menarik, karena kita punya cerita di sana,” tutupnya. (mg2/mg9/taf/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya