alexametrics

Upload Video Penangkapan Para Pelaku Kejahatan untuk Edukasi

Aipda Rahmat Heri Setyawan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Sekarang ini banyak anggota Polri yang hobi ngevlog. Mereka ngevlog untuk melengkapi tugas, mengedukasi masyarakat, dan lebih dekat dengan masyarakat agar berani melapor jika ada tindak kriminalitas.

Salah satunya adalah Anggota Resmob Satreskrim Polrestabes Semarang, Aipda Rahmat Heri Setyawan alias Hery Jabrik. Hobi barunya dia awali tahun 2020 lalu. Hampir semua kontennya berkaitan dengan tugas-tugasnya di Kepolisian. Di antaranya video penangkapan para pelaku kejahatan, mulai kasus begal jalanan, pencurian, pembunuhan, maupun kasus lain yang terkait segala tindak kriminalitas.

Kali pertama yang diabadikan lewat video dan upload di Youtube, terkait kasus pembacokan di Kecamatan Mijen. “Tapi kala itu saya minta izin dulu sama Almarhum Pak Janadi (pimpinannya kala itu, red). Pak izin saya shooting (video) untuk dokumentasi. Untuk saya masukan (upload) ke Youtube. Beliau bilang OK,” bebernya.

Makanya dia menolak jika hobinya dianggap iseng dan ingin terkenal. Semua bertujuan mengedukasi masyarakat supaya tidak melakukan hal negatif. “Ini lho tugas Resmob Polrestabes Semarang memberantas kejahatan dan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat Kota Semarang,” ungkap pria yang akrab disapa Hery Jabrik kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hery Jabrik bersama tim Resmob Satreskrim Polrestabes Semarang selalu solid dalam memburu pelaku tindak kejahatan. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG )

Semangatnya ngevlog termotivasi saat bertemu dengan anggota Jatanras Polda Metro Jaya, bernama Jakaria yang akrab disapa Bang Jack (kependekan Jacklin Choppers). Di sela pertemuan itu, Hery Jabrik mendapat saran dari Jacklin untuk ngevlog. “Her, coba Polrestabes Semarang bikin channel Youtube-lah. Waduh gimana caranya ya bang, saya belum pernah. Kalau enggak, kamu saja. Kalau perlu apa-apa sharing sama saya aja. Apa dan bagaimana yang harus kamu lakukan,” katanya.

Baca juga:  Waduh, Ratusan Warga Nekat Berjubel Demi Bisa Padusan di Kalitaman Salatiga

Kemudian Heri Jabrik sharing dengan teman-temannya dalam tim di Satreskrim Polrestabes Semarang. Termasuk aktif sharing dengan Jacklin juga. Dirasa saran tersebut positif, Heri Jabrik mencoba ngevlog setiap ada kesempatan menjalankan tugasnya. “Waktu awal ya masih kasar. Video-video dijadiin satu. Kaya gitu-gitu saja. Jalan ceritanya enggak ngerti. Alat atau sarana hanya menggunakan handphone,” jelasnya.

Menurutnya, awal ngevlog masih merasa bingung untuk opening dan penutupan. Bahkan, Hery tak banyak ngomong saat ngevlog. Tetap fokus pengambilan gambar dan tugas utamanya. “Saya tidak banyak ngomong. Takut nanti kurang pas atau masyarakat kurang berkenan. Ngomongnya takut menyakiti hati orang, menyinggung perasaan orang. Jadi selama ini saya ngevlog, ya enjoy-enjoy saja tanpa ada suara dari saya. Kadang nyletuk sama teman-teman tim, buat supaya fresh saja,” bebernya.

Hasil video ngevlog, kadang ia edit sendiri tanpa campur tangan orang lain. Dia lakukan ketika sedang longgar. Setelah jadi, kemudian di-upload di channel Youtube dengan nama Hery Jabrik. “Jumlah video sekarang 20 lebih. Kalau subscribe-nya ada 27.400 ribuan,” jelasnya.

Jabrik membeberkan, sebelumnya sudah berkoordinasi dengan almarhum Janadi, yang merupakan kepala timnya terkait penggunaan channel Youtube Hery Jabrik. Bahkan telah mendapat persetujuan menggunakan nama tersebut.

Baca juga:  Kapasitas 22 Penumpang, Angkutan Feeder Sepi Peminat

“Yang penting tetap pada kegiatan Resmob. Jadi video saya itu isinya semua kegiatan Resmob. Atas nama saya dan sudah atas persetujuan almarhum Pak Janadi. Kala itu Kanitnya Pak Avit dan sudah OK, kemudian Pak Reza tambah Ok. Kemudian sekarang Pak Wendi,” jelasnya.

Durasi video yang sudah di-upload ke channel Youtube bervariasi. Ada yang lebih dari lima menit, bahkan ada yang sampai lebih dari 25 menit. Durasi tersebut mulai pengambilan gambar dari penyelidikan, olah TKP, penangkapan sampai jumpa press, kemudian digabung menjadi satu.

“Kalau durasi, saya juga awalnya sharing sama Bang Jacklin. Bilangnya biar bisa dimonetis, minimal lima menit. Monetis itu saja saya enggak ngerti waktu itu. Terus saya ada gambaran gini, kalau di atas lima menit OK. Semakin lama, akhirnya sesuai kebutuhan,” terangnya.

Diakuinya, video yang diambil terkadang dilakukan bersama rekan-rekannya dalam satu timnya yang berjumlah 14 orang. Tidak semua video ngevlog di-upload di Youtube. “Kejadian yang menjadi perhatian masyarakat atau heboh, entah itu begal, perampokan, pembunuhan kami upayakan mendapatkan videonya untuk di-upload,” jelasnya.

Ngevlog terjauh sampai di daerah Lombok. Saat mengejar pelaku pembunuhan di Gunungpati. “Kami satu tim saling support, dan saling backup. Kalau seumpanya melakukan penangkapan, yang enggak megang pelaku, dia merekam. Nah ini, kadang kan merek HP, serinya teman-teman beda-beda. Hasilnya juga beda-beda. Ada yang agak terang dan jernih, ada yang tidak,” katanya.

Baca juga:  Healing lewat Glamping, Berikan Pengalaman Kemah dengan Rasa Mewah

Jabrik mengaku netizen yang memberikan komentar di channel Youtube-nya sangat banyak. Bukan hanya dari dalam wilayah hukum Polrestabes Semarang, ada yang dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta, bahkan luar pulau Jawa. “Mereka malah suka konten video yang natural. Bukan dibikin-bikin, tidak diedit. Saat kita yang merekam deg-degan, mereka yang melihat ya ikut deg-degan,” katanya.

Jabrik bersyukur, selama ini tidak pernah terjadi hal yang negatif dalam ngevlog, baik di tengah masyarakat maupun di internal kepolisian. Selama ini belum dapat teguran dari atasan, mulai kasat hingga kapolrestabes. Meski demikian, dirinya berharap support dari masyarakat dan para pimpinan.

“Dari Kanit, Katim, responnya bagus. Alhamdulillah feedback dari masyarakat, berupa komentar di Youtube, Instagram, medsos, semua positif. Harapannya, planning ke depan lebih baik lagi, lebih rapi bikin videonya,” katanya.

Diakuinya, panggilan Jabrik memang sesuai dengan gaya rambutnya yang tebal dan sering ditata ke atas. Dia bertugas sebagai anggota Satreskrim Polrestabes Semarang, sejak tahun 2013. Sedangkan kali pertama masuk dan bergabung sebagai anggota Polri sejak tahun 2000.

“Jadi yang ngasih nama Jabrik ya almarhum Pak Janadi. Beliau memang sangat berkesan. Beliau menjadi panutan dan pamomong sehingga tim kami solid sampai sekarang,” pungkasnya. (mha/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya