alexametrics

Pedagang Pasar masih Gunakan Kantong Plastik

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID Semarang -Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 27 Tahun 2019 tentang Pengendalian Penggunaan Plastik telah berjalan hampir dua tahun. Namun total jumlah sampah plastik masih mendominasi di TPA Jatibarang pada urutan kedua setelah sampah sisa makanan.

Jumlah timbunan sampah di TPA Jatibarang tercatat sebanyak 456.873 ton. Sedangkan pada 2020 justru meningkat sekitar 10.000 ton menjadi 466.010 ton. Implementasi pengurangan plastik sekali pakai dari Perwal masih belum menunjukkan dampak yang signifikan.

Abdul Ghofar, aktivis lingkungan dari Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menilai hal tersebut lantaran kurang tegasnya pemerintah melakukan monitoring dan evaluasi kepada para pelaku usaha. Sehingga para pengusaha menggampangkan, bahkan mengabaikan peraturan tersebut. Akhirnya, kesadaran masyarakat juga lebih sulit terbangun.

“Kami mengapresiasi Kota Semarang yang termasuk mengawali aturan pelarangan plastik di Jateng. Tapi perlu ditindaklanjuti dengan monitoring dan evaluasi (monev) yang ketat terhadap pelaku usaha, berapa persen kepatuhan mereka, berapa pengurangan yang dihasilkan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, hingga saat ini belum ada transparasi data laporan soal monev dari pengawasan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Semarang. Baik di website dan di media sosial pun memang belum ditemukan.

Baca juga:  Dibuat dengan Cinta, Tahu Petis Bu Aning Dijual hingga Mancanegara

Saat ditemui koran ini, Kepala Bidang Pengawasan dan Pemberdayaan DLH Semarang Sri Wahyuni mengaku telah melakukan pengawasan langsung di lapangan. Saat kasus Covid-19 sempat menurun, pihaknya berhasil mendatangi sebanyak 39 retail. Terdiri atas 8 hotel, 4 mal, 20 restoran, dan 7 toko. Namun pandemi melonjak kembali, sehingga sulit untuk melakukan monitoring secara langsung.

“Kami beri teguran kalau memang ada yang belum menerapkan aturan perwal ini,” ungkapnya.

Kepala DLH Kota Semarang Sapto Adi Sugihartono mengatakan, sementara ini yang baru dikendalikan dalam penggunaan plastik ada tiga, yaitu pengendalian kantong plastik, sedotan plastik, dan penggunaan styrofoam. Ketiga bahan plastik itu biasa digunakan saat berbelanja di pertokoan.

Masyarakat yang hendak berbelanja ke toko modern pun mulai terbiasa membawa tas belanja. Karena mereka paham bila toko tak memberikan kantong plastik. Adapun sebagian yang malas membawa tas, terpaksa kesulitan membawa barang belanjaan.

Ghofar menilai perlu ada keberanian untuk memperluas jangkauan pengurangan sampah. Terutama di luar tiga jenis plastik, kantong plastik, sedotan dan styrofoam yang telah diatur Perwal. Dengan begitu dampak pengurangan dapat lebih terasa bahkan sampai TPA Jatibarang.

Lebih lanjut Ghofar melihat bila toko modern cenderung mudah diatur dan dimonitoring. Hanya memerlukan pengawasan yang konsisten. Para pembeli pun mudah beradaptasi dengan aturan tersebut.  Tapi masih banyak kafe yang masih menyuguhkan sedotan dan cup pada konsumen. Begitupuun pelaku UMKM banyak yang masih memakai styrofoam. Belum lagi pasar tradisional yang hingga kini masih bebas menggunakan kantong plastik.

Baca juga:  Serapan Dana Covid-19 Jateng Masih Rendah

“Sebanyak 25 persen sampah di TPA Jatibarang berasal dari pasar tradisional.  Makanya pasar perlu segera dijamah aturan ini,” tegasnya.

Sapto sendiri membenarkan hal itu. Ia mengakui telah mencoba melakukan sosialisasi di pasar tradisional. Namun, menurutnya, perlu strategi dan persiapan yang matang. Karena menargetkan pelarangan plastik di pasar cenderung lebih sulit.

“Di pasar kan pedagangnya banyak, dan semua berdiri sendiri, bukan satu bos atau pengusaha, pembelinya pun datang dari mana-mana. Mereka juga lebih memilih praktis saat belanja, milih yang ngasih kresek daripada yang tidak,” katanya.

Saat ini, pihaknya tengah mempersiapkan hal tesebut. Dikatakan, pada 2022 mendatang ia akan mengeksekusi larangan plastik ke pasar tradisional. Rencananya, ia akan menggandeng PPJP di pasar dan sosialisasi lebih dekat dengan para pedagang.

“Seperti ini kan butuh partisipasi dari pembelinya juga, mereka harus mau diajak mengurangi penggunaan plastik,” imbuhnya.

Baca juga:  Kapasitas 22 Penumpang, Angkutan Feeder Sepi Peminat

Pada intinya, dalam pengurangan sampah plastik perlu kontribusi ketiga pihak. Yaitu, pemerintah sebagai pengawas dan pelaku kebijakan, pelaku usaha yang menjalankan implementasi, serta kerja sama masyarakat yang rela membawa tas belanja.

“Semuanya perlu dorongan dan kesadaran dari masing-masing individu, tapi pemerintah punya porsi besar dalam hal ini untuk mendorong kesadaran masyarakat,” tutupnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di TPA Jatibarang masih tampak sampah plastik yang menggunung. Salah satu pengumpul barang bekas di TPA Jatibarang Sriyanto menuturkan, sampah plastik yang datang ke TPA sangat melimpah.

“Ia merasa imbauan dari pemkot sekarang ini muspro. Alias tidak didengarkan oleh warga. Di sini saya bisa sangat mudah dapat sampah plastik. Bahkan kalau selama ini saya lihat ketika pengiriman bisa ton-tonan sampah plastik yang dikirim,” ungkap Sriyanto kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Salah satu sopir truk pengangkut sampah Akbar sambil menunjuk gunungan sampah berujar, dulu tumpukan sampah tak setinggi sekarang. “Tiga tahun lalu masih bisa dilewati truk, tapi sekarang sudah menggunung. Berarti sampah yang dihasilkan masyarakat semakin banyak. Mungkin ini karena masih minim kesadaran masyarakat dan pelaku usaha tentang dampak sampah plastik terhadap kerusakan lingkungan hidup,” ungkapnya. (taf/cr5/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya