alexametrics

Pensiun dari PNS, Nur Hadi Sukses Dirikan Sekolah, Bertani dan Beternak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pensiun dari jabatan teras sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng tidak membuat Nur Hadi Amiyanto berpangku tangan. Ia justru mengabdikan dirinya dengan mendirikan sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) An-Nur di Desa Ngdirojo, Secang, Kabupaten Magelang.

Nur Hadi Amiyanto, 62, sejak pensiun tahun 2019 lalu, kini menghabiskan hari-harinya di Magelang. Dan kadang bolak-balik ke rumahnya yang di Semarang. “Saya bolak-balik. Kebetulan di lingkungan tempat saya tinggal di Semarang juga masih menjabat sebagai ketua RW,” jelasnya.

Meski begitu, kecintaannya kepada dunia pendidikan mendorong Nur Hadi mendirikan sekolah PAUD dan TK. Apalagi dirinya berlatar belakang sebagai seorang pengajar, pernah menjabat kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jateng dan kepala Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jateng. “Sudah sejak lama saya berkeinginan mendirikan sebuah sekolah,” jelasnya.

Baca juga:  Perempuan Harus Berdaya, Bisa Keluar dari Kemiskinan

Keinginan mendirikan sekolah pun mulai direalisasikan tahun 2010 dengan membeli tanah di Desa Ngadirojo, Secang, Kabupaten Magelang. Luasnya 11.500 meter. Selain digunakan untuk sekolah, tanah tersebut juga digunakan Nur Hadi untuk beternak dan bertani. “Awalnya sekolah saya gratiskan. Karena di sekitar rumah banyak anak kecil dari keluarga menengah ke bawah” jelasnya.

Ternyata para orang tua siswa justru menginginkan untuk membayar. Karena adanya anggapan, jika sekolah gratis mutunya kurang berkualitas. Akhirnya orang tua pun membayar sekadarnya. Selebihnya, untuk operasional sekolah berasal dari hasil ternak ayam petelur dan pertanian di lahannya. Saat ini ada 38 siswa yang sekolah di PAUD dan TK An-Nur.

Untuk ternak sendiri, Nur Hadi mempunyai 2.600 ekor ayam petelur. Setiap hari ia selalu menjual telur hasil ternaknya ke Magelang dan Kota Semarang. Hasilnya lumayan. Cukup untuk biaya operasional sekolah dan menggaji lima orang karyawan yang mengurus pertanian di lahannya. Serta tiga orang guru PAUD dan TK An-Nur.

Baca juga:  Wali Kota Pekalongan Belum Izinkan KBM Tatap Muka

Di samping itu, ia juga memelihara beberapa kambing yang kotorannya dimanfaatkan menjadi pupuk. Sebagian dijual dan sebagian digunakan memupuk tananam di lahannya. “Kalau hanya mengandalkan gaji pensiunan, jelas tidak cukup untuk operasional sekolah. Makanya saya beternak dan bertani,” jelasnya.

Nur Hadi pun tidak merasa malu dan terbebani dengan kegiatan beternak dan bertani. Justru ia menikmati kegiatannya tersebut. Terlebih, Nur Hadi punya keinginan untuk menjadi lansia yang mandiri. Tidak merepotkan keluarga maupun orang lain. “Sebelum pensiun, saya sudah terbiasa bekerja dengan tekanan. Sehari tidur paling hanya 3 sampai 4 jam. Jadi sekarang kalau disuruh diam nggak bisa. Malah jadi stres hehe…. ,” kelakarnya.

Di masa tuanya, Nur Hadi tidak ingin mengejar materi. Semua hasil beternak dan bertani murni ia gunakan untuk sekolah maupun menggaji karyawannya. Terkadang, hasilnya dibagikan ke masyarakat sekitar. “Saya merasa senang kalau pulang ke Magelang, karena rasanya menjadi tenang. Kegiatannya hanya bertani, beternak, dan ikut pengajian dengan masyarakat,” jelas Nur Hadi.

Baca juga:  Kadang Ada Dua Tamu, Kadang Kosong Blong

Ia menambahkan agar semakin menarik, ia juga memelihara rusa secara legal. Ia mendapatkannya dari Solo. Kini lingkungan rumah dan sekolahnya semakin terasa unik. Layaknya kebun binatang. “Untuk rusa saya selalu bayar pajak, kemudian pemeliharaannya juga tidak murah. Bersyukur, siswa PAUD dan TK juga senang. Bahkan masyarakat sekitar juga banyak yang datang untuk sekadar melihat,” pungkasnya. (man/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya