alexametrics

Pembuatan Sabun Susu Kambing Paling Rumit

Melongok Sentra Olahan Susu Kambing Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kampung Kuncen, Kelurahan Bubakan, Kecamatan Mijen terdapat sentra peternakan kambing dan sapi. Peternakan ini menghasilkan susu yang dijual secara langsung maupun susu yang diolah menjadi kemasan yogurt dan sabun.

Salah satu pengusaha pengolahan susu kambing Kampung Pekuncen adalah Endang Sugiyanti. Ia menggeluti usaha tersebut sejak tahun 2016 sepulang dari Sumatera bersama suaminya yang terkena PHK. Setelah kembali ke Kuncen, kemudian membuka usaha dengan modal secukupnya.

“Berpikir mau kerja apa, akhirnya membuka usaha ini, membuat kandang kambing. Beli kambing awalnya sembilan ekor ada jenis Etawa dan Sanen. Kebetulan disini sedang dibina dari Dinas Pertanian. Akhirnya kami ikutan, menjual produk sedikit-sedikit,” kata Endang kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Produk yang dihasilkan dinamakan yogurt Aulia. Ada berbagai produk, antara lain original rasa full cream, strawberry, vanilla, coklat termasuk citarasa rempah, dan yogurt. Kemasan botol 200 ml dijual dengan harga Rp 10 ribu. Sedangkan kemasan 500 ml full cream original atau susu murni seharga Rp 17.500.

“Pelanggan saya, di Jakarta, Bogor, Bali juga ada. Pelanggan dari mulut ke mulut, dari temen-temen. Kalau pas mampir di Semarang beli. Dia pesan dulu, nanti kita kemas, tinggal ngambil. Pesanan ada yang sampai 10 liter,” katanya.

Penjualan atau pemasaran juga dilakukan masih secara sederhana, melalui media sosial Facebook dan Instagram. Termasuk kelompok atau grup WhatsApp. Rata-rata, sebagian pelanggan terbanyak masih dalam lingkup Kota Semarang dan sekitarnya.”Pelanggan belinya juga tidak continue. Karena susu kambing juga agak mahal. Satu liter disini Rp 25 ribu. Banyak yang beli susu murni, terus diolah baru di jual,” sambungnya.

Baca juga:  Sungai Blorong Mendesak Dinormalisasi

Selain pembuatan yogurt, juga menghasilkan olahan dalam bentuk sabun. Salah satunya adalah kerabatnya, yang tinggal bersebelahan rumah. Khasiat sabun susu ini adalah untuk membuat kulit lebih halus.

“Warga sini pemasaran juga ada yang di pabrik kosmetik, masih beku. Khasiatnya sebenarnya sama, seperti sabun mandi lainnya. Cuma disini ada kandungan susunya, membuat kulit lebih halus,” katanya.

Menurutnya, sabun susu tersebut juga merupakan peluang bisnis. Penjualan sampai wilayah Jakarta. Sabun yang jadi berupa batangan dengan harga jual sebesar Rp 10 ribu. Hanya saja, proses pembuatan lebih rumit dibanding dengan yogurt.

“Kalau gak konsen mudah membeku. Pemakaian tergantung, kalau untuk seluruh badan ya paling seminggu. Rata rata pelanggan hanya untuk pemakaian muka. Sabun semakin lama semakin bagus, penyimpanan di kulkas. Kalau di lembab ya sama sabun sabun lainnya, mudah berjamur,” ujarnya.

Susu kambing kata Endang juga dikonsumsi untuk masa pemulihan kesehatan pascaoperasi. Selain itu, juga untuk pengobatan penderita sakit paru-paru dan asma. “Katanya sangat bagus. Karena kadar laktase itu lebih rendah. Jadi susu kambing lebih ramah, kolesterol juga lebih rendah. Sama katanya butiran susunya lebih padat. Susu kambing warnanya lebih putih lebih kental,” katanya.

Menurutnya, masa kedaluwarsa susu murni bisa mencapai tiga sampai enam bulan setelah pemerasan. Tempat penyimpanan yang bagus adalah fresher yang berkualitas. “Setelah pemerasan kalau mau diawetkan ya dibekukan. Kalau tidak ada pemadaman listrik bisa sampai 3-6 bulan. Pernah kita coba. Kalau pendingin tidak bagus, ya menggumpal, yang di buang, dijadikan ampas tahu,” bebernya.

Baca juga:  Pasien Gangguan Jiwa Ringan Meningkat 20 Persen Selama Pandemi Covid-19

Bagusnya susu murni di Kuncen, juga telah dilakukan penelitian oleh sejumlah mahasiswa baik dari perguruan tinggi negeri mupun swasta. Pihaknya menyebutkan, pernah ada seorang mahasiswa S2 gizi dari kampus negeri yang melakukan penelitian terkait susu murni.

“Dia lagi mau skripsi penelitian disini, dia cerita kalau di Papua ada peternakan kambing. Penelitian itu tikus disuntik malaria. Tiga tikus, yang satu dikasih obat saja, satunya dikasih susu kambing murni, yang satunya dikasih obat dan susu kambing yang sudah dibuat yogurt. Yang hanya pakai obat saja juga sembuh, tapi lama. Makanya saya juga dapat sedikit ilmu dari situ juga,” sambungnya.

Kesempatan sama, salah satu pelanggan yang datang mengambil kerumahnya, Slamet Mustofa mengatakan mengambil susu murni di tempat ini untuk keperluan keluarganya yang sakit. Mengetahui tempat tersebut juga dari jejaring internet dan media sosial.

“Keluarga baru operasi, di rumah sakit hampir seminggu, terus ambil ini. Katanya untuk penyembuhan bagus. Hampir sebulan tiap hari mengkonsumsi, dimasak diminum tanpa campuran. Rencana juga mau ikut buka usaha ini, siapa tahu berkembang. Nanti ambil disini,” imbuhnya.

Pengusaha Masih Terkendala Pemasaran dan Modal

Meski memiliki potensi bisnis yang bagus, namun jumlah warga yang membuat usaha melalui peternakan kambing dan sapi di Kampung Kuncen semakin berkurang. Bahkan sebelum terjadi Pandemi Covid-19. Sekarang Ini yang masih aktif hanya hitungan jari. Rata-rata mereka terkendala pemasaran dan modal.

“Disini banyak, pengepul juga ada. Sekarang yang masih bertahan sekitar tujuh sampai 10 orang. Alhamdulillah saya masih berjalan, meski penjualan sedikit berkurang,” kata salah satu pengusaha susu kambing Kampung Kuncen, Endang Sugiyanti.

Baca juga:  Operasional Pompa Ditanggung Pemkot

Warga Kuncen yang mengelola usaha ini kata Endang juga sering mendapat ilmu keterampilan dengan dinas terkait. Selain itu, juga sering ikut dalam pameran produk untuk dikenalkan di masyarakat luas. “Kita sebenarnya terkendala modal. Izin untuk ke BPOM juga masih kesulitan persyaratan. Harus steril, tertata. Padahal itu juga butuh modal. Apalagi kita hanya produksi rumahan. Susu itu butuh penanganan khusus,” katanya.

Sekarang ini, ternak kambing yang dipelihara telah mencapai 30 ekor. Sebagian kambing yang tua telah dijual untuk diganti kambing muda. “Saya juga pelatihan di Dinas di Purwokerto, cara pemeliharaan kambing, makannya bagaimana. Pakan itu kan presentasinya kadar hijaunya berapa-persen. Makanan pendampingnya ampas tahu,” katanya.

Pihaknya mengibaratkan kambing seperti manusia. Namun ketika di kandang tidak bisa mencari pakan sendiri dan harus disajikan. Menurutnya, sajian makan tersebut bisa diberikan setiap satu jam sekali.

“Dia kalau kenyang kan berhenti. Kalau lapar kan makan lagi. Jadi ketika dia butuh harus sudah ada. Jangan sampai gak ada. Kalau menaruh pakan pagi sama sore gak apa-apa kalau yang banyak sekalian. Jadi jangan sampai telat,” lanjut Endang.

Menurutnya, kelompok tani di Kuncen sering menjadi juara tingkat Jawa Tengah dalam segi peternakan. Kemudian mewakili tingkat nasional juara dua, di tahun 2016. Sehingga dikenal banyak orang dan kerap menjadi jujugan penelitian mahasiswa. “Mereka datang ke rumah saya, minta diajari membuat yogurt. Ya saya ajari di dapur. Ada juga yang kadang melakukan penelitian, makanannya apa, rumputnya apa,” terangnya. (mha/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya