alexametrics

Kesenian Dengklung Mati Suri karena Kesulitan Regenerasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kesenian Dengklung dari Desa Bandar, Kabupaten Batang punya ciri khas tersendiri. Lazimnya, dengklung dimainkan oleh laki-laki, di sana pemainnya adalah para wanita. Mereka padu memainkan alat musik terbang Jawa, dengan lantunan lagu-lagu islami Jawa, sembari diiringi penari.

Kesenian itu dikenal sebagai Dengklung Al-Kafi Desa Bandar. Tumbuh dan dikembangkan di desa tersebut oleh Kafi A Kadir. Ia telah meninggal beberapa tahun lalu. Sampai saat ini belum ada penerus kesenian dengklung tersebut. Biasanya, dengklung tampil di berbagai acara. Mulai dari hajatan, kegiatan pengajian, khitanan, dan lain sebagainya.

Namun saat ini dengklung dari Desa Bandar sudah tidak bisa dijumpai. Salah satu pelaku seni itu adalah Kustantinah, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud). Dahulu, wanita yang akrab disapa Uting itu adalah penyanyi dan penari dari kesenian Dengklung. Ia aktif saat awa Dengklung Al-Kafi berdiri.

Yen pengen urip, urip pancen…,” begitulah syair yang masih diingatnya semasa menjadi penyanyi dengklung.

Uting menyanyikan itu sembari mengingat-ingat lanjutan liriknya. Ia menyerah, tidak sanggup melanjutkan nyanyiannya. Uting terakhir ikut kesenian itu pada tahun 80-an. “Lagu-lagunya itu lagu islami, khas menggunakan bahasa Jawa untuk menyebarkan syiar Islam. Alat musiknya besar-besar,” ujarnya.

Koran Jawa Pos Radar Semarang bertemu Uting di kantornya. Ia sudah tidak mengetahui perkembangan kesenian tersebut karena kiprahnya sudah tidak terdengar. Bahkan Uting menganggap dengklung dari Desa Bandar sudah tidak ada. “Sekarang sudah tidak ada, tidak ada regenerasi,” ucapnya.

Ia menjelaskan, kesenian tradisional dengklung di dalamnya mengandung nafas islami. Bentuknya diwujudkan melalui syair lagu, iringan, gerak tari, dan tata busana. Tabuhannya punya ketukan yang unik sesuai namanya, tabuhannya berbunyi dengklung. Begitulah kira-kira bunyi ketukan perpaduan instrumen kendang, kemung, kempur, bibit, kempling, jidur, dan tamri atau tamborin. Alat musik tersebut terbuat dari kayu gelondongan. Seperti kayu glugu. Ukurannya beraneka ragam, mulai 20 sentimeter hingga 50 sentimeter.

Baca juga:  Belum Ada Kejelasan, Proyek Semarang Outer Ring Road Bikin Galau

Setelah bertemu dengan Uting, koran ini bertemu dengan Suprayati, 60, di kediamannya, Desa Bandar, Kecamatan Bandar. Ia tinggal seorang diri sepeninggal suaminya. Suprayati merupakan salah satu orang yang memiliki tugas bernyanyi di kesenian dengklung. Hingga saat ini ia dipercaya untuk melakukan regenerasi terhadap kesenian tersebut. Hal itu karena Suprayati punya keahlian khusus.

Ia menguasai berbagai teknik bernyanyi dalam kesenian dengklung. “Dengklung itu sudah mati lah intinya, tidak pernah latihan satu tahunan ini karena pandemi,” jelasnya.

Munculnya pandemi memaksa Suprayati dan beberapa pelaku seni dengklung vakum. Alat musiknya kini disimpan di TPQ desa setempat. Dahulu disimpan di kediaman Kafi A. Kadir sebelah Kantor Pos Bandar. Aktivis kesenian dilarang oleh pemerintah. Kegiatan kumpul-kumpul dikhawatirkan menjadi sarana penyebaran covid-19.

Walau demikian, Suprayati yang menjadi salah satu penggede dengklung tetap berharap kesenian itu bisa eksis kembali. Ia masih punya PR untuk melatih para pemuda untuk bisa bernyanyi. Melantunkan suara khas kesenian dengklung. Suprayati dahulu merupakan salah satu penyanyi di kesenian tersebut.

Hal senada juga diutarakan Kepala Desa Bandar, Wahyudin, 54. Jika larangan karena pandemi sudah tidak ada, pihaknya akan kembali menggerakkan kesenian Dengklung. Ia menjelaskan, generasi penerusnya sekarang lebih tertarik dengan dunia gadget. Ketimbang beraktivitas kesenian.

Baca juga:  Siapkan Antologi Puisi Siswa dan Guru

“Dengklung itu sudah menjadi ikonnya Bandar. Karena pandemi vakum, sudah saya sampaikan beliau-beliau yang siap untuk melatih. Dengklung bakal dihidupkan kembali setelah pandemi mereda,” tegasnya.

Deng dari Bunyi Kendang dan Klung dari Kemung

Kesenian dengklung dari Desa Bandar, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang pernah berada di masa jayanya. Kesenian itu bahkan dipercaya mewakili Kabupaten Batang tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1984. Hingga diundang di acara TVRI Jogjakarta. Bahkan dengklung mendapat juara satu koreografi terbaik tahun 1991 pada lomba tingkat kabupaten.

SALAH satu pelaku seni itu adalah Suprayati, usianya sudah menginjak 60 tahun. Ibu rumah tangga yang bekerja sebagai tukang masak itu aktif di kesenian dengklung sejak awal dibentuk. Kesenian tersebut dahulu bernama terbang Jawa. “Atas inisiatif Kafi A Kadir, kesenian itu berubah menjadi Dengklung. Karena tabuhan kendang berbunyi, deng. Dan kemung berbunyi, klung. Akhirnya disebut kesenian dengklung,” ucapnya pada Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya.

Suprayati menjelaskan sejak awal mula kesenian tersebut dipimpin oleh Kafi A Kadir. Selain pemimpin, ia juga melatih secara langsung para pelaku seninya. Kesenian dengklung atau terbang Jawa dahulu identik dengan laki-laki. Namun di Desa Bandar, kesenian itu pelakunya adalah wanita. Kelompok dengklung pimpinan Kafi A Kadir resmi berdiri 1 Agustus 1975. Menggunakan nama Dengklung PKK Bandar.

Seiring berjalannya waktu, kelompok tersebut berubah nama, menjadi Dengklung Al-Kafi Desa Bandar tahun 2007. Dengklung dengan personel wanita kini mati suri. Sudah tidak ada aktivitas latihan maupun tampil. Kendala regenerasi muncul sejak Kafi A Kadir meninggal tiga tahun silam.

Baca juga:  Terbuai Rayuan Kenalan di Facebook, Motor, HP dan Perhiasan Raib

Sejak itu, tidak ada pemimpin yang menggantikannya. “Dengklung Al-Kafi Desa Bandar tidak ada pemimpinnya, terakhir sejak pandemi covid tahun 2020 awal aktivitas kesenian berhenti. Tidak ada latihan, tidak ada kegiatan untuk regenerasi para pemuda,” imbuhnya.

Suprayati sangat menguasai syair berjanjen dari kitab Al-Barjanzi. Hingga sekarang ia merasa kesulitan mengajarkannya ke para penerus kesenian dengklung. “Cah saiki kan ora mudeng seperti berjanjen, dan berbagai macam syair-syair lainnya. Terutama yang menggunakan bahasa Jawa. Syair-syair Jawa itu diciptakan sendiri oleh almarhum Kafi A Kadir,” ucapnya.

Salah satu syair dalam kesenian dengklung berjudul I’tiraf. Syair tersebut menjelaskan bahwa Allah Maha Pengampun. Manusia menyakini bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah dilakukan oleh umat-Nya. Caranya adalah dengan bertaubat, juga mengakui segala dosa yang diperbuat.”Kesenian dengklung merupakan gambaran syiar, bisa dikatakan sebagai sarana dakwah,” jelasnya.

Selain itu, gerak tarinya pun menggambarkan agama Islam. Seperti gerak wudu. Ada juga gerak sembahan, njut-njutan, membasuh tangan, berkumur, membasuh air ke hidung, membasuh wajah, membasuh lengan, menyapu kepala, membasuh telinga, membasuh kaki dan lain sebagainya.

Gerak tari itu serempak dengan lagu yang dinyanyikan. Juga ketukan dari tabuhan terbang jawa. Setiap tampil, penarinya berjumlah empat hingga enam orang. Sementara yang memegang alat musik ada tujuh orang, dan penyanyinya ada tiga orang. Penyanyi dan penabuh musik semuanya duduk. Kecuali saat kegiatan yang mengharuskan untuk berdiri.

Pakaian yang dikenakan adalah baju bernuansa islami dengan kain bergaya lokal. Seperti penggunaan batik dan lain sebagainya. (yan/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya