alexametrics

Pelatih Harus Jaga Mood Pemain dan Gunakan Perasaan

SSB Putra Pelopor Pekalongan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Olahraga sepakbola selama ini identik dengan olahraga kaum laki-laki. Ternyata tidak demikian. Banyak klub sepak bola cewek yang eksis hingga kini.

Meski menyandang nama “putra”, Sekolah Sepak Bola (SSB) Putra Pelopor Pekalongan ternyata punya kesebelasan putri. Disebut-sebut sebagai klub sepak bola perempuan yang kali pertama ada di Pekalongan.

SSB Putra Pelopor berdiri sejak 2017 di bawah bendera Batalyon B Pelopor Sat Brimob Polda Jateng, Pekalongan. SSB ini awalnya untuk laki-laki. Namun pada tahun 2020, membuka tempat untuk perempuan.

Saat itulah Shabrina Allysya, 14, ikut bergabung. Ia adalah satu dari 35 peserta lain. Terjun ke lapangan sepak bola dan mengikuti semua materi latihan.

Sebelumnya ia pemain voli di tim sekolah. Tetapi sepak bola, benar-benar baru baginya. Meski darah pemain sepak bola mengalir dari ayahnya. “Iya, di Putra Pelopor ini kali pertama saya main sepak bola. Awalnya hanya ingin seperti ayah,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (30/4/2021) malam.

Ia merasa aneh saat kali pertama mengenakan kostum sepak bola. Apalagi, kata dia, saat harus mengenakan sepatu sepak bola. Itulah pengalaman unik yang berkesan baginya saat kali pertama berlatih sepak bola. “Itu kan sepatunya khusus, ada pull-nya. Saya kira saat dipakai di lapangan akan bunyi kethoplak-kethoplak, begitu. Ternyata tidak,” ucap gelandang serang Putra Pelopor ini.

Baca juga:  Damkar Juga Turut Tangani Satwa Liar

Cerita senada diungkapkan Nina, 16. Namun ia lebih tentang peralihannya dari seorang pemain belakang (bek) menjadi penjaga gawang (kiper). “Sempat takut menangkap bola. Karena biasanya menendang, kemudian jadi kiper harus menangkap,” kata pemain bernomor punggung 99 ini.

Baik Shabrina maupun Nina, memiliki cerita di luar lapangan. Selain mendapat pujian, mereka tak jarang mendapat nyinyiran. Namun mereka menanggapinya cuek. “Cuek saja. Wong orang tua saja mendukung,” kata mereka.

Awalnya Tak Minat Melatih

Sejak berdiri tahun 2020 hingga sekarang, tim sepak bola perempuan Putra Pelopor Pekalongan telah mengoleksi sembilan trofi. Baik dari kompetisi maupun laga persahabatan. Putra Pelopor telah beberapa kali bertandang keluar kota.

Menurut sang pelatih Andi Syahfrudin alias Bocor, 31, tim perempuan itu tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Awalnya ia bahkan enggan dan tak minat melatih perempuan. Ia fokus melatih tim putra. “Karena takut orang tua mereka tak mengizinkan. Di Pekalongan, sepak bola perempuan masih awam,” ucapnya.

Baca juga:  Pemkot Pekalongan Siap Gelar Kejuaraan Olahraga Pelajar

Namun itu semua terbantahkan. Pada sela-sela melatih tim putra, ada dua anak perempuan memaksa ikut latihan. Ia sempat berpikiran menolak. Namun dua anak menampakkan semangat ingin berlatih. Akhirnya Andi mengizinkan. “Pertemuan selanjutnya, ternyata mereka mengajak teman-temannya. Jumlahnya kian bertambah, sampai sekarang ada 35 orang,” ceritanya.

Kata dia, tak ada perbedaan mendasar pola melatih tim perempuan dan laki-laki. Materi yang ia berikan kepada tim laki-laki, ia berikan persis kepada tim perempuan. Di antaranya, passing, drible, heading, shooting, hingga latihan fisik. “Materinya sama. Hanya saja kadarnya yang berbeda,” katanya.

Perbedaan kadar tersebut, kata dia, berkaitan dengan mood tim perempuan. Pada awal-awal melatih ia sering menjumpai beberapa anak yang masih malu-malu dan manja. Itu menjadi tantangan saat menerapkan kedisiplinan dalam latihan. “Maka saya harus menyesuaikan. Memang harus pakai hati melatih tim perempuan ini,” paparnya.

Baca juga:  Exit Tol Warungasem Ditutup, Tingkat Kunjungan Kota Batik Turun

Di luar lapangan, Andi perlu menjaga mood para pemain. Ia menerapkan kekeluargaan. Tak ada batas pelatih dan pemain saat di luar lapangan. “Bahkan kalau ada yang ulang tahun, pernah kami rayakan dengan laga persahabatan,” katanya.

Usia pemain sepak bola perempuan Putra Pelopor Pekalongan mulai 14-22 tahun. Pemainnya tak hanya berasal dari Kota Pekalongan. Ada dari Batang, Kabupaten Pekalongan, bahkan ada dua dari Papua. “Karena mereka sedang menjalani pertukaran pelajar di Pekalongan. Dua pemain dari Papua ini termasuk andalan kami,” ujar Andi.

Paling jauh, tim sepak bola perempuan bertandang ke Kendal. Pertengahan April lalu, tim ini sebenarnya diundang bertandang ke Cirebon. Namun gagal karena terbentur Ramadan. Dua pemain dari tim sepak bola putri Putra Pelopor kini sedang dikirim ke Cirebon. Mereka sedang digodok untuk menjalani seleksi di Borneo persiapan Liga Pertiwi Nasional. “Menurut saya ini jadi bukti untuk anak-anak perempuan, ke depan. Peluang untuk menjadi pemain Timnas masih terbuka lebar. Karena persaingannya belum begitu ketat,” kata Andi. (nra/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya