alexametrics

Bertekad Jadi Petani Sejak SMA, Omzet Capai Rp 250 Juta Sebulan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Mereka adalah kaum muda pemberani. Berani pulang kampung. Memutuskan menjadi petani. Tentu saja bertani dengan teknik modern. Hasilnya, tak diragukan lagi.

Berasal dari keluarga petani, membuat Agus Wibowo tergerak untuk mengembangkan dunia pertanian. Terutama di tempat tinggalnya, Dukuh Kragon Wetan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Pria berusia 27 tahun ini bertekad menjadi petani sejak masih SMA. Karena prihatin dengan nasib petani di desanya saat itu. “Dulu saya melihat keresahan para petani yang sering merugi. Saya pun berpikir untuk memajukan sektor pertanian di desa,” katanya. Apalagi saat itu sumber daya manusia (SDM) petani di desanya hampir semuanya orang tua. Jarang yang berasal dari anak muda.

Baca juga:  Fingerprint Bisa Diakali Pakai Stempel, Titipkan Absen Sidik Jari ke Tukang Kebun

Tekad itu pun semakin bulat, selepas lulus SMA. Ia mengambil kuliah jurusan Agroteknologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Dengan harapan setelah rampung kuliah dapat mengembangkan dunia pertanian. Ia tidak berpikir untuk bekerja kantoran seperti teman-temannya yang lain.

Agus yakin berkarir di dunia pertanian cukup menjanjikan. Jika dikelola dengan sistem yang bagus. Agus pun memilih untuk mengembangkan tanaman kentang. Sesuai penelitian semasa kuliah. “Saya mulai terjun menjadi petani kentang tahun 2017 saat masih kuliah. Sambil penelitian sekalian bisnis kentang,” tutur Agus.

Ia melihat tanaman kentang memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Agus menanamnya dengan teknik kultur jaringan. Awalnya dipraktikan sendiri di lahannya. Kemudian ditularkan pada petani-petani di desanya. Kini lewat PT Lestari Merbabu yang ia dirikan, sudah ada 70 petani yang bermitra.

Baca juga:  Telan Anggaran Rp 180 M

“Awalnya dulu disepelekan, tetapi setelah tahu hasil panennya, banyak yang bermitra,” katanya. Setiap satu minggu ia selalu panen tujuh ton kentang untuk memenuhi kebutuhan pabrik. Para petani tidak kebingungan mencari pasar. Tidak lagi menjual ke tengkulak dengan harga rendah seperti dulu.

Bagi Agus menjadi petani bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun dapat menjadi bisnis yang menggiurkan dengan hasil besar. Kata dia setiap bulan bersama 70 petani mitranya, ia bisa memperoleh omzet sekitar Rp 250 juta. Berkat kerja kerasnya itu pada tahun 2019 ia terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Global Student Enterpreneur Award (GSEA) yang digelar di Macau China. Ia juga terpilih menjadi juara 2 Mahasiswa Wirausaha Muda Mandiri tahun 2018. (man/lis)

Baca juga:  Pemkot Cari Satu Dewan Pengawas Bank Magelang

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya