alexametrics

Perempuan Pesantren Harus Berdaulat dan Sekolah Tinggi

Kesibukan Para Ustadah Muda saat Ramadan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Menjadi ustadah atau bu nyai yang mengampu pondok pesantren (ponpes) kerap diidentikkan dengan sosok yang sepuh (tua, red). Namun di era sekarang, ternyata banyak ustadah muda yang menjadi tauladan para santrinya. Salah satunya adalah Ning Nawal Arafah Yasin, istri Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin yang mengampu Ponpes Al-Anwar 4 Sarang, Kabupaten Rembang.

Umur boleh muda, tapi pengetahuan tak membedakan tua atau muda. Ning Nawal Arafah sejak kecil sudah berada di lingkungan ponpes di tempat kelahirannya Cirebon, Jawa Barat. Namun tidak seperti kebiasaan ponpes salaf pada umumnya, yang tak terlalu mementingkan pendidikan bagi kaum perempuan.

Justru Ning Nawal sejak kecil sudah ditanamkan untuk sekolah formal setinggi mungkin. Wajar kalau mendapatkan dukungan keluarga untuk melanjutkan sekolah di Mujama’ Syekh Ahmad Kaftaro Damaskus Syiria. Namun karena Syiria sedang dilanda perang, kuliah pun dilanjutkan di Institut Agama Islam Al-Akidah Jakarta. Dan kini sudah lulus jenjang S2 di Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta. “Perempuan harus berdaulat atas dirinya sendiri,” kata Ning Nawal yang mengingat pesan sepupunya yang tokoh feminis KH Husein Muhammad dari Cirebon ini.

Baca juga:  Tilang E-TLE Tak Maksimal, Peralatan Sound Voice Banyak Nganggurnya

Dengan pendidikan tinggi, pengetahuan semakin luas, bahkan bisa mandiri sebagai perempuan. Namun hal itu tak membuatnya meninggalkan dunia pesantren. Justru waktunya harus dibagi sangat ketat untuk mengasuh para santri penghafal Alquran, mengelola Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Sarang Rembang, menjadi dosen tetap Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar dan IKIP Veteran Jepara.

Kesibukannya kian bertambah semenjak sang suami KH Taj Yasin Maemun menjabat Wakil Gubernur (Wagub) Jateng mendampingi Gubernur Ganjar Pranowo. Ning Nawal selain mendampingi suami, juga didapuk menjadi ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jateng dan wakil ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Jateng.

“Saya memang harus bolak-balik Sarang-Rembang. Bahkan, kalau jadwal tugas sebagai istri Wagub sangat padat, anak-anak pondok saya boyong ke Semarang beberapa hari. Pojokan rumah dinas Wagub pun menjadi Ponpes,” kata ibu empat anak kelahiran 3 Agustus 1987 ini.

Baca juga:  Terletak di Tengah Perumahan, Mengaji Kitab Ulama Besar Nusantara

Pandemi Covid-19 ini, justru meringankan jadwal padatnya. Karena semua bisa dilakukan secara daring, kini bisa lebih lama mendampingi santri dan tetap menjalankan tugas sebagai istri Wagub Jateng.

“Perempuan memang harus bisa berbagai macam peran. Ini bukan soal sebesar kecilnya memiliki penghasilan finansial. Tapi bagaimana bisa menerapkan multi peran yang bermanfaat bagi lingkungan dan sesama,” kata jebolan sekolah dari Damaskus Syiria ini.

Sesibuk apapun, semua dijalani dengan ikhlas dan senang hati. Apalagi Ramadan penuh berkah. Selama 15 hari Ramadan, kini fokus mendampingi santri di Sarang Rembang. Jadwal rutin harian di ponpes, pagi habis Subuh mengaji kitab Asy-Syama-ilul Muhammadiyah (kitab tentang budi pekerti dan keseharian Rasulullah SAW), saat waktu dhuha atau sekitar pukul 09.00 mengaji kitab yang sama di SMK Al-Anwar. Jam 11.00 rehat sebentar menunggu salat Dhuhur, kemudian mengaji lagi kitab yang sama. Habis Asyar menyemak hafalan Alquran para santri, kemudian Magrib dan Isya dilanjut jamaah salat taraweh. Habis taraweh, semakan Alquran lagu sampai pukul 22.00.

Baca juga:  Jelang Libur Lebaran, Kemenag Data Kepulangan Santri

“Ini sengaja mengajarkan kitab Asy-Syama-ilul Muhammadiyah agar generasi bangsa ini memiliki contoh yang baik, yakni Rasulullah SAW. Maka perlu dikenalkan sejak dini, agar bisa mahabbah atau cinta kepada Rasulullah,” tutur pendobrak bias gender di kalangan pesantren ini.

Ning Nawal memiliki tekad mengawinkan tradisi pesantren dengan lembaga pendidikan formal. Sehingga ada kajian dan penelitian yang mewarnai pesantren. Menelaah lebih dalam kitab kuning. Terutama kaum perempuan. “Selama ini kaum perempuan hanya menghafal Alquran dan mengaji kitab, tanpa memahami dan mendalami kandungan,” kata pengurus Jam’iyyah Pengasuh Pesantren Putri dan Muballighah (JP3M) Jateng ini. (ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya