alexametrics

Dulu Nyantri, Kini Jadi Bu Nyai Ponpes Al-Asror

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Menjadi istri pengasuh pondok pesantren (ponpes), secara tidak langsung dituntut untuk ikut berdakwah. Adalah Istighfaroh, istri Al-Mamnuhin Kholid, pemilik Ponpes As-Salafy Al-Asror.

Istighfaroh menikah dengan suaminya pada 2004 akhir. Sejak saat itu, ia naik pangkat, menjadi istri sang kiai. Istighfaroh pun dituntut mengikuti suaminya dalam berdakwah, baik itu di ponpes maupun di tengah masyarakat. “Ya, mau tidak mau, terpaksa harus bisa,” ungkapnya.

Di ponpes, Istighfaroh berdakwah mengenai Thalabul Ilmi (mencari ilmu, red), motivasi untuk disiplin waktu, disiplin belajar, serta disiplin beribadah kepada para santri. Itupun ia ajarkan setiap minggu dengan tema yang berbeda-beda.

Saat berada di lingkungan masyarakat, Istighfaroh berdakwah mengenai tema yang berkaitan dengan peran perempuan dalam masyarakat, keluarga, dan bagaimana cara seorang ibu mewujudkan rumahku surgaku. Ia juga berdakwah tentang bagaimana tata cara wudu, salat, dan mengaji yang benar. “Kalau sudah dewasa, ngajari mereka mengaji itu agak susah. Tapi tetap saya ajari cara yang baik dan benar,” katanya.

Baca juga:  Pekerjaan Tinggal 14,7 Persen, Stadion Jatidiri Semarang Ditarget Kelar 29 Desember 2021

Dalam berdakwah, ustadah atau bu nyai yang juga guru SMA Negeri 12 Semarang ini menggunakan referensi dari Alquran, Hadis, dan kitab-kitab turunan lainnya seperti Tafsir Jalalain dan Durratun Nashihin. Ia juga menyisipkan cerita-cerita dalam isi dakwahnya. Tujuannya supaya dakwahnya tidak monoton dan membosankan. “Kalau melulu soal materi pasti mengantuk. Makanya saya juga kasih cerita. Jadi mereka senang mendengarkan,” jelas guru ekonomi ini.

Selama Istighfaroh berdakwah di masyarakat, ada momen unik yang pernah ia alami saat mengisi dakwah di suatu pengajian. “Waktu itu pernah dapat pertanyaan tentang hubungan suami istri. Wah enggak selesai-selesai itu,” ucapnya sambil tertawa. Jadi waktunya lebih tersita untuk sesi tanya jawab daripada sesi pengajian.

Baca juga:  Fungsi Resapan, Cadangan Air, hingga Objek Wisata

Istighfaroh tidak kaget dengan suasana semacam itu. Ini karena semasa dia kuliah semester tiga di Universitas Negeri Semarang (Unnes), dia pernah menjadi santri di ponpes tersebut.

Kini, selain menjadi seorang istri, ibu rumah tangga, guru, dan ustadzah, perempuan 41 tahun ini juga aktif mengikuti organisasi Fatayat NU. Tak hanya itu, Istighfaroh juga mengelola toko miliknya di ponpes dan di lingkungan masyarakat di Desa Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Istighfaroh berharap dirinya bisa hidup bermanfaat bagi orang lain dan tidak membebani keluarga. Ia juga berusaha memfasilitasi anak-anaknya dengan profesinya sebagai guru. (mg6/mg8/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya