alexametrics

Dari Tim Likuidasi Terjun Jadi Advokat

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Menjadi wanita pejuang adalah mimpi advokat Monalisa Camella Fransisca Daniel sejak duduk di bangku Sekolah Menegah Farmasi (SMF) Theresiana Semarang. Namun perjuangan yang dijalankannya adalah sebagai pembela klien yang mengalami permasalahan hukum, yang tidak lain berjuang sebagai advokat wanita. Monalisa memang ketika masih kecil bercita-cita sebagai dokter. Namun jalan hidupnya berubah sejak duduk di bangku SMF.

Apalagi sejak ia dipercaya sebagai tim likuidasi Bank Indonesiadan  ditempatkan pada Bank Harapan Sentosa pada 1999. Karena tugas likuidasi juga berkaitan eksekusi dan berhubungan dengan lembaga peradilan, maka untuk berkecimpung di dalamnya juga membutuhkan kartu advokat. Ditambah di masa itu karena masih sedikit advokat wanita yang mencolok. Maka pada 1999, ia memutuskan diri untuk mendaftar sebagai advokat dan dilantik sebagai advokat pada 2000 oleh Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Tengah. Disumpah setelah lulus ujian advokat di bawah pengawasan Departemen Kehakiman. Sedangkan organisasi profesi advokat saat itu lebih membidangi masalah kode etik.

“Saya dulu jurusan farmasi, cuma pengen jadi ahli hukum. Makanya begitu lulus SMF langsung kuliah hukum. Kalau niat jadi advokat memang sejak duduk di bangku SMF,” kenang Monalisa kepada Jawa Pos Radar Semarang Selasa (20/4/2021).

Karirnya sebagai advokat tidak lepas dari dua sosok yang menginspirasi. Pertama adalah sahabatnya yang merupakan seorang advokat di masa itu. Yakni almarhum Haris, yang juga Asisten Menteri Kehakiman era 1998–1999, Prof Dr Muladi. Kedua adalah sosok Prof Ignatius Ridwan Widyadharma. “Dari situ terinspirasi. Karena awalnya sudah sempat diterima kuliah di notariat Undip, baru lihat dia (almarhum Haris) kerja enak sekali, akhirnya lebih mantap daftar magister hukum Undip tahun 2000, untuk menekuni advokat secara profesional, kan awalnya cuma gara-gara tim likuiditas,” jelasnya.

Baca juga:  Operasional Pompa Ditanggung Pemkot

Ditambah, ia melihat advokat wanita masih minim di masa itu. Akhirnya terjun untuk mengambil peluang. Ia aktif sebagai tim likuidasi dari 1999 hingga 2002. Kemudian pada 2002 memutuskan mundur dan langsung bergabung di Law Office Prof Ignatius Ridwan Widyadharma & Associates hingga sekarang. “Spesialis saya khusus bidang hukum ekonomi dan hukum teknologi. Kalau perkara sejak di tim likuidasi sampai sekarang sudah ada 500 kasus, itu ditangani tim maupun sendiri,” sebutnya.

Semua kasus yang ditanganinya memang dominan perdata dan ke arah pengacara perusahaan. Kliennya juga beragam, yang paling jauh ada dari Riau, Denpasar, dan Jakarta, dan mayoritas pengusaha. Namun demikian beberapa kasus juga ada pidana, tata usaha negara, hingga hubungan industrial. Peraih Anugerah Jawa Pos Radar Semarang kategori Inspiring Woman Tahun 2019, itu juga selalu berprinsip menerapkan setiap masalah dengan penyelesaian sesuai aturan hukum. “Biasanya kalau ketemu klien membandel diluruskan dan kalau bisa didamaikan, jadi sesuai aturan hukum yang ada. Plus litigasi dan nonlitigasi juga jalan beriringan,” kata Wakil Ketua I Peradi Semarang versi pimpinan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Peradi Dr Luhut MP Pangaribuan.

Selain dua orang yang mengispirasinya, tak dipungkiri Monalisa, akibat seringnya membaca buku novel misteri tentang hukum membawanya mengubah cita-cita, karena awalnya ingin menjadi dokter. Sejumlah buku yang sering dibaca dan ada beberapa yang masih dikoleksi seperti karya John Grisham, Agatha Christie dan Sidney Sheldon.

Baca juga:  Tak Bisa Sembarangan, Begini Tips Memelihara Ikan Koi yang Benar

Sekalipun sudah tergolong sukses menjadi advokat. Monalisa tak memungkiri memiliki pengalaman tak terlupakan hingga sekarang. Kejadian itu terjadi pada 2005 lalu, saat mendampingi perkara di Kalipancur, Semarang. Ketika itu ia sempat bersitegang oleh warga kampung yang menghuni tanah milik kliennya di kawasan itu. Padahal ia sudah menang dari tingkat pengadilan negeri sampai mahkamah agung. Karena merasa iba, akhirnya atas kesepakatan kliennya dengan para warga, dicarikan jalan tengah agar bisa menyicil untuk tetap menghuni kawasan itu, hingga mereka akhirnya bisa memiliki sertifikat sendiri setelah dipecah-pecah. “Awalnya benci bahkan sampai aku mau dikeroyok, tapi setelah melihat mereka, ndak tega eksekusi, akhirnya ada jalan tengah. Begitu beres, saya sampai dikasih ubi, ketela, dan pisang banyak banget,” kenangnya.

Monalisa bersama teman-temannya yang tergabung dalam Komunitas Arisan The Stars. (Istimewa)

Arisan Sambil Aksi Sosial

Menjadi advokat sukses tak membuat Monalisa Camella Fransisca Daniel tutup mata pada lingkungan sekitar. Karena beberapa bulan sekali ia dan kelompoknya akan melakukan aksi sosial. Di antaranya rutin digelar bersama Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Srikandi Pemuda Pancasila Jawa Tengah, Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang dan Komunitas Arisan The Stars, di mana ia juga duduk di kursi pimpinan.

Komunitas Arisan The Stars merupakan komunitas yang didirikan bersama rekan-rekannya pada dua tahun terakhir. Anggotanya lebih dari 30 orang, dengan latar belakang beragam. Ada advokat, notaris, bankir, pengusaha pengusaha, polisi, koki, artis, aktivis, hingga perancang busana. “Semua awalnya teman main lalu berkembang jadi komunitas. Kegiatannya selain arisan, kalau pas ada bencana alam atau acara keagamaan biasanya kami membuat aksi sosial,” kata Monalisa.

Baca juga:  Kairul Anwar Kembali Pimpin AAI Semarang.

Sedangkan sebagai Ketua DPW Srikandi Pemuda Pancasila Jateng, Monalisa juga telah menyiapkan sejumlah program yang nantinya bisa bermanfaat untuk warga Jawa Tengah. Salah satunya fokus pembentukan cabang Srikandi PP kabupaten/kota di Jateng, karena saat ini baru ada 25 cabang.

Kepengurusan Srikandi PP Jateng juga mulai fokus mengadakan seminar online, mulai bahaya narkotika yang nantinya bekerjasama dengan Polda Jateng, seminar kekerasan perempuan dan anak serta toleransi antarumat beragama untuk mencegah terorisme. Selain itu sosialisasi mengenai covid-19, serta bahaya gadget bagi kalangan remaja bekerjasama dengan Disporapar dan Dinas Pendidikan.

Pada perayaan Hari Kartini, 21 April 2021, menurutnya, penghalang bagi wanita adalah datang dari diri sendiri. Ia memberi contoh, terkadang wanita tidak memiliki cita-cita tinggi, merasa takut gagal, atau bahkan merasa tidak mampu. Padahal, lanjut Monalisa, salah satu kunci keberhasilan untuk mencapai posisi puncak adalah dengan adanya cita-cita dan impian yang membuat langkah lebih terarah, semangat dan energi berkembang untuk bangkit. Karena setiap wanita yang berdaya mampu menjadi inspirasi untuk bidang yang digelutinya.

“Kartini adalah salah satu contoh dari keteguhan menggapai impian itu. Tentu masih banyak sosok wanita lain di masa kini yang memiliki keteguhan yang sama, yang di setiap bidang yang digelutinya terus berjuang mewujudkannya, dan itu bisa dicontoh oleh wanita di Jateng,” jelasnya. (jks/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya