alexametrics

Harusnya Guru Lebih Dulu Mencintai Puisi

Puisi Ajarkan Kepekaan Sosial

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Hari Puisi 2021 di tengah pandemi Covid-19, gebyarnya memang kurang meriah. Namun karya puisi tak pernah lekang oleh waktu, kendati generasi sekarang lebih suka kata lugas yang disampaikan lewat media sosial (medsos). Tentunya, menjadi tangung jawab bersama, puisi bisa tetap dicintai generasi kini dan mendatang.

“Sepasang anak ayam

Diam, di petarangan

Liar, di pekarangan”

Demikianlah sebait puisi karya guru bahasa Indonesia pada SMA Ksatrian 2 Semarang, Teguh Satriyo. Puisinya memang tampak sederhana, namun sarat makna. Puisi tiga bait berjudul “Sepasang Anak Ayam” itu dibuat tahun 2008. Teguh menggambarkan pergaulan bebas kalangan milenial. “Puisi itu memang sederhana, tapi tidak pernah lepas dari ingatan saya,” kenang Teguh atau dalam nama pena sering disapa dengan sebutan Tegsa.

Puisi itu, salah satu karya dari 117 puisi buatannya yang sudah dibukukan dalam antologi tunggal berjudul “Kumpulan Puisi Jejak Tubuh” yang diterbitkan Garudhawaca, Jogjakarta 2019 silam.

Puisi itu dibuat oleh pria kelahiran Pati, 31 Januari 1988 ini, saat pulang kampung pada 2008 silam. Saat dirinya masih menjadi mahasiswa di IKIP PGRI Semarang (sekarang Universitas PGRI Semarang/Upgris). Ketika itu, dia masih berstatus mahasiswa, tidak berani pacaran. Namun di kampungnya ada pelajar SMP sudah berani bawa pacarnya pulang ke rumah. Bahkan gaya pacarnya sudah kelewat batas.

“Sepajang perjalanan dari Pati-Semarang terbayang pikiran itu. Sampai di kos masih terbayang terus. Pikiran saya baru plong pas buka HP dan mencatatnya menjadi puisi,” jelasnya.

Di dunia satrawan, Teguh Satriyo, bukanlah orang baru. Selain antologi puisi tunggal yang sudah dibukukan, ia memiliki 20 lebih puisi dalam antologi bersama. Termasuk di 2021 ini, sudah menyusun 70 karya kumpulan puisi dan naskah teater dalam buku antologi tunggal. Berbagai juara lomba kerap dia raih. Tercatat pernah meraih juara 1 lomba menulis puisi tingkat nasional di Unnes tahun 2019. Kemudian juara 2 baca puisi nasional di Universitas Pekalongan dan juara harapan lomba baca puisi tingkat nasional di Bali, serta berulang kali masuk nominasi 10 besar di sejumlah penyelenggara tingkat nasional.

Baca juga:  Terinspirasi Paman, Kejar Impian Jadi Pilot Pesawat Tempur

“Buat puisi itu gampang-gampang susah, tinggal mengikuti suasana hati,” kata Tegsa, sembari terkekeh saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di ruangannya, Rabu (17/3) kemarin.

Menurut lelaki berjanggut dan berkumis tipis ini, minat masyarakat khususnya pendidik dam pelajar terhadap puisi masih sangat rendah. Termasuk di kalangan guru bahasa Indonesia sendiri. Ironis memang. Semestinya guru bahasa Indonesia lebih dulu memahami dan mencintai puisi dan karya sastra lainnya.

“Saat ini, masih banyak guru bahasa Indonesia yang justru tidak berminat untuk menguasai puisi dan sastra lainnya. Kalau gurunya saja minatnya rendah, bagaimana dengan siswanya,” sebutnya.

Ia memiliki cara khusus agar puisi benar-benar dicintai kalangan milenial. Khususnya anak didiknya. Salah satunya membuat buku karya siswanya berjudul “Tangan Yang Menangis.” Ini merupakan kumpulan puisi karya siswa kelas 10 SMA Ksatrian 2 Semarang tahun 2019. Buku itu resmi ber-ISBN (International Standard Book Number). Namun demikian, buku itu hanya diambil 10 besar terbaik di setiap kelas 10. Sedangkan 2019 lalu, kelas 10 ada 8 kelas. Ia memberikan pelayanan terbaik bagi siswanya yang mengiginkan bimbingan untuk membuat karya puisi dan sastra lainnya.

Baca juga:  Anak Penerima ASI dan Anak Pendonor Kini Akrab

“Karya buatan sendiri, jujur tidak plagiat, saya bukukan. Ada juga yang saya ikutkan lomba-lomba. Kalau materi puisi, dulu paling cuma buat puisi yang dikumpulkan. Sekarang setiap siswa yang buat puisi, karyanya saya simpan. Yang terbaik saya bukukan. Cuma karena pandemi Covid-19, jadi terkendala,” sebutnya.

Pria yang suka berkemeja batik ini, mendorong penyair tidak hanya menggunakan bahasa puisi yang kaku atau terlalu tinggi. Itu susah dicerna masyarakat awam.

“Cukup seperti Joko Pinurbo, bahasanya enak dan mudah dipahami. Pasti yang baca minimal bisa kesengsem. Saran saya, agar puisi mudah dicintai bahasanya jangan terlalu simbolis, terlalu tinggi, tapi tetap jangan dibuat dengan bahasanya apa adanya. Tetap ada unsur sastranya, estetik bahasanya,” ungkapnya.

Ia tak memungkiri, ada efek mencintai puisi. Seperti dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hati lagi gundah, marah, dan emosi. Karena sudah cinta puisi, akan diubah menjadi karya. Sehingga kemarahan itu diubah menjadi puisi. Termasuk saat kangen dengan orang tua yang jauh atau meninggal bisa diobati dengan dituangkan dalam karya puisi. “Efeknya jadi peka dengan lingkungan sekitar untuk berkarya,” ujarnya.

Ia mendukung, puisi ditulis dalam media sosial. Hanya saja, tetap menulis dengan kaidah puisi, ada idiom, gaya puisi tidak sekedar majas dan memiliki ke khasan puisi serta rima maupun lainnya.

“Sekarang era digital, semua kalangan cenderung bermedia sosial. Kita harus menerima era puisi di medsos. Terpenting, puisi tidak disalahgunakan dan tetap memperhatikan kaidah puisi,” pesannya.

Ia sendiri mencintai puisi setelah bergabung di Teater Gema Upgris pada 2006 lalu. Karena di sanggar itu, banyak rekannya memiliki bakat beragam. Ia sendiri sudah menyukai panggung teater. Di situlah tercetus niat ketika lulus tidak hanya mengajar drama, puisi, dan cerpen. Akhirnya getol menekuni dunia sastra dan mengikuti lomba-lomba hingga sekarang.

Baca juga:  Parafrase Puisi dengan Model TPS

“Semua terpanggil dari renungan, jadi ketika lulus dan menjadi guru saat pelajaran tidak sekedar meminta siswa membuat puisi, melainkan saya minta juga menjiwai. Maka saya pribadi jadi guru juga bisa ditiru,” sebutnya.

Orang yang menginspirasinya mencintai puisi adalah Sutardji Calzoum Bachri Sang Presiden Penyair Indonesia. Saat itu ia masih kelas 2 SMP, tepatnya tahun 2002. Ketika membaca puisi karyanya sangat bagus dan enak dibaca, bahasa puisinya jujur dan apa adanya. Disitulah berlanjut hingga SMA dan dimatangkan saat kuliah.

“Saya menekuni dunia tulis puisi karena punya harapan. Ssetiap saya berkarya, minimal bisa mempengaruhi siswa. Makanya jadi guru juga harus berkarya,” jelasnya.

Ia sendiri belajar membuat puisi awalnya rutin membaca dan mengikuti pelatihan, mengikuti seminar dan bedah buku serta berbagai acara sastra yang ada. Ia selalu mengajarkan para siswanya jujur dalam membuat karya puisi. Sehingga apa yang dirasakan bisa ditulis. Baginya masalah kualitas bahasa setiap orang memiliki ciri khas sendiri-sendiri, sehingga nantinya akan terbentuk dengan sendirinya.

“Apa yang di otak itu biar tertulis. Nanti tinggal diarahkan kalau puisi begini dan begitu. Bagaimanapun puisi itu bahasanya padat. Misal kalau ada kata penghubung yang bisa dihilangkan, jadi lebih padat,” sebutnya. (jks/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya