alexametrics

‘Sopir Artis’ Truk Oleng Diburu Youtuber

Fenomena Truk Oleng di Pantura Alas Roban

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Akhir-akhir ini mencuat pemberitaan mengenai truk oleng. Gerombolan pemuda viral saat berburu truk oleng di Pantura Alas Roban, Kecamatan Subah, Batang. Mereka jauh-jauh membuntuti truk dari Pemalang. Salah satu rombongan bahkan mengalami kecelakaan.

Truk dan pengemudi yang diburu penghobi oleng kebanyakan adalah “sopir artis.” Ia terkenal di dunia maya, terutama dari konten-konten Youtube. Oleng dilakukan dengan menggoyang-goyangkan stir. Syaratnya, truk berisi muatan. Jika truk kosong, oleng lebih sulit dilakukan.

“Sopir artis itu terkenal karena jago oleng, ataupun truk yang memang bagus modifikasinya,” ujar Sekretaris Paguyuban Pengemudi Alas Roban Comunity (ARC) Beny Susilo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (14/3/2021).

Ia menjelaskan, truk oleng yang sedang viral tersebut berasal dari luar daerah. Kebanyakan pengemudi yang ada di Subah tidak melakukan aksi oleng. Aksi berbahaya itu justru dilakukan oleh sopir-sopir dari luar daerah. “Kami dari pengemudi tetap mengutamakan keselamatan. Kami di jalan banyak risiko. Untuk truk yang oleng di Alas Roban itu rata-rata truk dari luar daerah,” tandasnya.

Sopir yang melakukan oleng biasanya melihat kondisi jalan. Mereka melakukannya saat lengang. Namun tak jarang ada yang nekat oleng saat lalulintas ramai. Risiko celakanya pun semakin besar. Karena saat oleng sebenarnya membutuhkan ruang yang cukup luas di sisi kanan dan kiri. Jarang sopir mau oleng saat jalan ramai, karena melihat risikonya.

“Pengecekan truk yang sering oleng paling tidak dilakukan dua bulan sekali. Karena truk yang sering diolengkan akan semakin cepat rusak, jadi harus rutin dicek,” ucapnya.

Pihaknya selaku pengurus komunitas hanya bisa mengimbau. Ia tidak bisa melarang kegiatan berbahaya tersebut, baik itu pemburu truk oleng atau sopir yang mengolengkan truk.

Beny menyebutkan, hal tersebut bukan ranah dan tanggung jawabnya. Komunitas hanya berusaha memberikan arahan ke anggota. Agar tidak membahayakan diri sendiri, dan orang lain, terutama untuk klub oleng.

“Rata-rata yang berburu oleng itu kalangan anak-anak sekolah, dari SD sampai SMP. Ada anak SMA tapi jarang,” jelasnya.

Baca juga:  Tak Sabar Manfaatkan Bantaran BKT, Warga Bangun Belasan Lapangan Sepakbola

Pemburu truk oleng tidak melulu untuk konten Youtube, tapi cenderung untuk alasan kesenangan, dan rasa bangga saja. Kalau orang dewasa biasanya memvideo memang untuk alasan komersial. Untuk pendapatan mereka di channel Youtube. Semakin banyak video truk oleng, semakin banyak penggemar yang menonton. Terutama anak-anak kecil.

Sopir yang diburu penghobi oleng ditenarkan oleh Youtuber. Keberadaan sopir yang telah menjadi artis juga terus dipantau semua kalangan. Penghobi maupun Youtuber mengetahui posisi, dan akan lewat mana sopir tersebut.

Penghobi truk oleng di Alas Roban juga punya komunitas tersendiri bernama CCTV Putra Roban. Menurutnya, ada beberapa anak-anak dari CCTV yang maniak. Artinya, mereka memang suka sekali dengan beberapa truk tertentu. Bahkan, dia mau berburu sampai jauh. Apalagi itu truk artis yang sangat populer.

Youtuber memang bikin terkenal sopir dan truknya. Tapi dari kami di ARC jarang yang terkenal. Kami bekerja di jalan dan mengutamakan keselamatan. Tujuan kami mencari rezeki. Youtuber itu membuat konten untuk keperluan pribadi. Hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri. Tidak ada simbiosis dengan paguyuban komunitas truk,” kata Beny.

Tidak ada kode khusus untuk membuat truk mau oleng. Para pemburu biasanya sudah tahu truk-truk mana saja yang mau oleng kalau divideokan. Mereka mengetahuinya dari dari konten Youtube yang ditonton. Sopir pun juga sudah paham, jika ada yang merekam mereka langsung bersiap mengolengkan truknya.

“Kalau dulu saya berburu truk oleng itu untuk kesenangan saja. Ada rasa bangga kalau berburu truk oleng dan diposting di sosial media pribadi, karena itu memang saya merekam sendiri bukan mengambil dari video orang lain,” tuturnya.

Selain oleng, modifikasi truk juga menjadi daya tarik tersendiri. Biayanya bisa mencapai Rp 80 juta, untuk modifikasi dan mengecat truk secara menyeluruh. Proses pengerjaannya juga membutuhkan waktu berbulan-bulan. Banyaknya biaya yang dikeluarkan tergantung bak kayu yang digunakan. Ada yang memakai kayu mahoni, ada juga yang memakai kayu merpu.

Baca juga:  Lupakan Persija, PSIS Fokus Perbaiki Kekurangan Jelang Lawan Persiraja

Selain itu, Beny menjelaskan bahwa anggota ARC berasal dari lingkup Alas Roban hingga Nusantara. Tidak ada pembatasan hanya sopir truk. Dasarnya adalah paguyuban pengemudi angkutan darat, seperti sopir travel, pribadi, dan yang lainnya. Anggota aktif ada sebanyak 656 orang.

Kegiatan rutin tiap dua bulan sekali kumpul di satu koridor atau wilayah. ARC sendiri mempunyai 9 koridor, yaitu Limpung, Pecalungan, Reban, Banyuputih, Bawang, Subah, Tersono, Campuran, dan Kandangserang. Koridor campuran kebanyakan sopir truk lintas Sumatera.

Paguyuban tersebut juga memperhatikan kondisi tiap anggotanya. Jika ada yang mengalami kecelakaan, ARC akan memberikan bantuan dari kas yang telah dikumpulkan.

“Tujuan kami membentuk komunitas itu untuk memudahkan kami saat terjadi trouble. Ada anggota khusus yang mengurusi kendala teknis di lapangan. Pengemudi cukup mengirimkan foto, share lokasi, dan nomor telepon ke pengurus masing-masing koridor. Kemudian diteruskan ke pengurus pusat,” tandasnya.

Terpisah, Dirlantas Polda Jateng Kombes Pol Rudy Safiruddin mengatakan, di wilayahnya tidak ada truk yang berjalan oleng seperti yang viral di media sosial. Menurutnya, kejadian tersebut berada di wilayah jalan raya di Jawa Timur.

“Kalau truk goyang memang gak ada di Jawa Tengah. Itu di Jawa Timur. Di Jawa Tengah, tidak ada. Aman. Tidak ada yang ugal-ugalan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski demikian, pihaknya menegaskan akan menindak kepada para pengemudi truk ataupun kendaraan yang melakukan perbuatan tidak terpuji saat berkendara. Sebab, truk oleng sangat membahayakan dan dampaknya bisa menimbulkan korban jiwa.

“Kalau truk goyang tentu itu sangat melanggar. Kita tangkap, kita proses. Tindakan tegas, penilangan. Sangat membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain,” katanya.

Sopir Truk Perlu Dibekali Teori dan Praktik

Fenomena sopir truk oleng di jalan menjadi sorotan Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan DI Jogjakarta. Aptrindo sendiri kerap menggelar pelatihan bagi sopir truk di Jateng dengan menggandeng Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Tujuannya, agar pemahaman berkendara sopir bagus, sehingga bisa mengurangi angka kecelakaan di jalan.

Baca juga:  Bukan Sekadar Memindahkan Objek, Melukis Harus dari Hati

Meski diakui, sopir kebanyakan tak memiliki pemahaman teori yang matang. Sehingga kerap memicu kecelakaan dan membahayakan pengguna jalan lainnya. “Kami rutin menggelar pelatihan teori dan praktik langsung. Tapi masih saja banyak yang seperti itu,” kata Wakil Ketua Aptrindo Jawa Tengah dan DI Jogjakarta Bambang Widjanarko kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menambahkan, kecelakaan truk di jalan rata-rata disebabkan human error. Sopir ada yang seringkali ngebut  hingga tak bisa menguasai kendaraannya. Pihaknya mengklaim jika sopir yang kerap ugal-ugalan itu rata-rata dari luar asosiasi. “Kalau berbicara sopir truk memang kompleks, Mas,” ujarnya.

Bambang menambahkan, untuk menjadi sopir truk, apalagi kontainer tidaklah gampang. Beban kendaraan dan muatan sangat berat. Ditambah untuk pengoperasiannya berbeda dibanding kendaraan umumnya. Karena truk pasti dengan ukuran besar dan membutuhkan teori dan insting bagus. Sementara sopir di Indonesia biasanya belajar otodidak. Bahkan sebagian menjadi sopir truk karena “kecelakaan” atau karena ajakan teman. Tidak ada sekolah khusus yang memfasilitasi.

Nah ini sebenarnya masalah yang harus diatasi. Bagaimana melahirkan sopir truk yang profesional seperti di luar negeri. Mereka dihargai, pemahaman bagus, dan justru bangga,” tambahnya.

Aptrindo sendiri terus berupaya untuk memberikan pemahaman dan bekal bagi sopir truk di Jateng. Secara rutin digelar materi teori dan praktik langsung di lapangan.  Tetapi itu saja masih belum cukup. Butuh komitmen bersama untuk bisa melahirkan sopir truk yang profesional. Mereka harus dihargai, dan ada sekolah khusus. Sebab, keberadaan truk sebagai moda transportasi sangat dibutuhkan. Terutama dengan semakin bagusnya infrastruktur dan jalan tol di Trans Jawa.

“Ini menjadi alternatif untuk antarbarang. Tapi belakangan mulai banyak yang enggan menjadi sopir truk. Padahal mereka berperan penting untuk transportasi di Indonesia,” katanya. (yan/mha/ fth/aro) 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya