alexametrics

Lahan Kumuh di Trimulyo Disulap Jadi Ijo Royo-Royo

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Wilayah Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk kerap dilanda rob dan banjir. Tanahnya sulit ditanami. Namun lewat urban farming, warga RT 5 RW 4 Kelurahan Trimulyo berhasil menanam sayur dan buah dengan subur.

Lahan sempit itu berada di tepi rawa. Airnya asin. Kumuh. Jika menanam apapun, biasanya mati. Apalagi suhu di sana sangat panas. Maklum, letaknya di pesisir pantai. Untuk menyiasati itu, warga pun membuat inovasi bercocok tanam model semihidroponik. Hasilnya, kini lahan yang semua terbengkalai itu ijo royo-royo. Bahkan, wilayah yang dulu dikenal kumuh  itu, kini justru menjadi contoh wilayah lain.

Lurah Trimulyo Catarina Nevy mengatakan, pemanfaatan lahan menjadi kebun yang dikembangkan warganya itu kerap dijadikan tempat studi banding. Tak hanya dari wilayah Genuk, beberapa waktu lalu, PKK Dahlia dari Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik juga datang untuk melihat perkembangan cocok tanam di sana. Beberapa sekolah di sekitar juga sudah memesan hasil panen urban farming warga Trimulyo.

Baca juga:  Pernikahan Dini Marak; Hamil Duluan Alasan Ajukan Dispensasi Kawin

“PKK dari kecamatan lain ke sini belajar,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (31/1/2021).

Catarina menjelaskan, ada puluhan tanaman di kebun ini. Di antaranya, cabai, terong, pare, sawi, dan lainnya. Uniknya, urban farming ini tidak hanya menggunakan metode tanam di dalam pot atau polybag, namun juga menggunakan pipa paralon. Alat ini berfungsi untuk mengaliri air. Di bawah pot, diletakkan pipa yang dilubangi dan diisi dengan sumbu dan kain. Tujuannya agar air bisa naik ke atas dan mengairi tanaman.

“Cara ini menghemat air, dan bisa menyebar ke seluruh bagian tanaman, kalau menyiram kan bisa saja tumpah,” tambahnya.

Bagi Catarina, kesuksesan urban farming ini tak lepas dari kekompakan dan gotong royong warganya. Sebelum diberikan bibit dan dukungan dari Dinas Pertanian, mereka murni menggunakan dana swadaya masyarakat. Setelah dibantu petugas penyuluh pertanian, semangat warga semakin tinggi. Warga rela lembur. Siang bekerja, malam hari mereka menyempatkan waktu untuk menggarap kebun ini.

Baca juga:  Saling Ejek di Medsos, Berujung Penganiayaan

Manfaat yang dirasakan pun sangat banyak. Dari sisi ekonomi, masyarakat bisa lebih berhemat. Mereka bisa memanfaatakan hasil urban farming untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kalau panen, hasilnya dibagi-bagi ke masyarakat, jadi gotong royongnya sangat kental,” katanya.

Meski begitu, beberapa kendala juga dialami. Yaitu, minimnya lahan dan kondisi cuaca. Saat musim panas, banyak tanaman yang kurang bagus dalam produksi.

Urban farming di Trimulyo ini mendapat perhatian khusus dari Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. Ia mengapresiasi inovasi yang diciptakan warga. Lahan yang sempit tidak menghalangi kreativitas warga.

Ke depannya, Catarina bersama warga akan terus mengembangkan urban farming ini agar manfaatnya semakin dirasakan secara luas. Bahkan, bisa dikembangkan menjadi objek wisata. Sayangnya, pihaknya terkendala lahan yang bukan milik pemerintah. Kendati demikian, mereka terus bersemangat untuk menciptakan kreativitas lain. Terlebih pada Juli mendatang, kelurahannya akan maju mewakili Kecamatan Genuk dalam Lomba PKK tingkat Kota Semarang. (ifa/aro)

Baca juga:  Tiga Rumah Ludes Terbakar, Pemilik: Tak Ada Kesempatan Menyelamatkan Barang

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya