alexametrics

Awalnya Hanya 150 Kelompok Tani, Sekarang Sudah Tembus 350

Geliat Warga Semarang Kembangkan Urban Farming

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Usaha Pemerintah Kota Semarang menggerakkan warga dalam mengembangkan urban farming, mulai terlihat hasilnya. Jika sebelumnya hanya ada sekitar 150 kelompok wanita tani (KWT) yang mengembangkan pertanian di tengah kota ini, sekarang bertambah banyak menjadi 350 KWT.

Urban farming di Kota Semarang digagas oleh Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. Tujuannya,  untuk mewujudkan ketahanan pangan. Mbak Ita –sapaan akrab wakil wali kota, juga membentuk Sekolah Berkebun Hebat untuk memberikan pelatihan kepada KWT yang ada di Kota Lunpia.

“Sejak awal pandemi sampai saat ini kita genjot pelatihan, salah satunya melalui pelatihan online. Alhamdulillah sudah ada 350 kelompok di beberapa kelurahan,” katanya di sela kegiatan panen lele di Kelurahan Sarirejo RT 01 RW 03 Semarang Timur, Minggu (31/1/2021).

Politisi PDI-Perjuangan ini menjelaskan, kelompok kecil ini tidak bisa berdiri sendiri. Pemkot, kata dia, juga memerintahkan Dinas Pertanian dan Perikanan untuk memberdayakan masyarakat. Misalnya, dalam mengembangkan urban farming yang memadukan antara pertanian dan perikanan.

“Karena tidak bisa berdiri sendiri, harus ada pendampingan. Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan ini juga dilibatkan agar pemberdayaan masyarakat berjalan dengan baik, dan tentunya berkesinambungan,” bebernya.

Disinggung masalah anggaran, Mbak Ita mengaku kegiatan urban farming sudah dianggarkan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang ada di setiap kecamatan. Pemkot, kata dia, hanya menggalakkan urban farming, terutama kepada kelompok warga yang memang memiliki minat yang tinggi. Namun selama pandemi ini, minat masyarakat untuk menekuni urban farming bisa dibilang sangat tinggi.

Kan tidak bisa jalan sendiri-sendiri, jadi warga membentuk kelompok, di situ Sekolah Berkebun Hebat masuk untuk memberikan pelatihan, dinas terkait memberikan pendampingan, dan PPL bisa mendorong semaksimal mungkin pemberdayaannya. Alhamdulillah minatnya sangat tinggi,” tambahnya.

Baca juga:  Pasar-Pasar di Semarang Ini Justru Sepi Setelah Direvitalisasi

Mbak Ita mencontohkan, kelompok urban farming yang ada di Kelurahan Sarirejo, dengan bibit lele yang bisa melakukan panen raya budidaya lele. Sebelumnya, ia memberikan bibit lele pada September 2020 sebanyak 1.200 ekor. Urban farming sendiri, merupakan bentuk dukungan dari pemkot berupa pemberdayaan masyarakat dari segi perekonomian.

“Pemulihan ekonomi saat pandemi ini bisa dilakukan dari tingkat terkecil, nah manfaatnya bisa dirasakan masyarakat sekitar,”ujar Mbak Ita yang juga mengembangkan urban farming di pekarangan rumahnya.

Dikatakan, dari kegiatan urban farming dan pelatihan Sekolah Berkebun Hebat, mulai dari pertanian dan perikanan diharapkan bisa membuat masyarakat lebih kreatif dengan memberdayakan potensi yang ada. Ia mencontohkan, lele yang dipanen bisa dijadikan abon atau produk kuliner lainnya yang bernilai jual tinggi.

“Kita juga perintahkan Dinas Ketahan Pangan untuk bisa men-support pelatihan-pelatihannya, sehingga dari hulu ke hilir akan tersinkronisasi dan manfaatnya akan semakin lebih baik,” tegasnya.

Disinggung masalah kendala, misalnya wilayah pesisir yang airnya asin, menurut Mbak Ita, kendala tersebut bisa diatasi dengan penggunaan air sumur. Sementara untuk rob, menurut dia, upaya Pemkot Semarang untuk menekan banjir dan rob saat ini sudah berhasil, dan luas wilayahnya pun semakin sempit.

“Kendala pasti ada, namun bagaimana cara kita untuk meminimalkan. Dinas juga memberikan pendampingan kepada kelompok-kelompok ini. Setiap ada kendala yang dihadapi, pemecahannya bisa disesuaikan dengan kasus yang ditemukan di lapangan,” katanya.

Untuk menggalakkan urban farming, Mbak Ita mengaku menggelar lomba vlog urban farming. “Lomba ini menjadi salah satu cara kita untuk mendorong warga lebih kreatif, sehingga urban farming ini bisa diaplikasikan juga masyarakat lainnya yang belum melakukan,” katanya.

Baca juga:  Minim Bantuan, Warga Korban Banjir Bertahan dengan Mencari Keong

Ketua RW 03 Kelurahan Sarirejo Aris Wardhana mengatakan, selain budidaya lele, juga dilakukan penanaman cabai oleh warga. Menurut dia, urban farming sangat mendukung kegiatan masyarakat, serta memberdayakan masyarakat dari segi perekonomian.

Alhamdulillah apa yang kita lakukan ini sudah ada hasilnya, bahkan bisa dinikmati masyarakat, mulai dari lele dan sayuran yang ditanam sudah bisa dijual melalui offline ataupun online,” tuturnya.

Hal senada diakui Sekretaris Kelompok Wanita Tani Dahlia Kelurahan Pedalangan RT 1 RW 3, Kecamatan Banyumanik, Sri Mulyanah. Kini, berbagai sayuran, tanaman obat-obatan, dan tanaman hias bisa dihasilkan di Taman Lansia Dahlia. Lahan urban farming seluas 300 meter persegi itu dulunya adalah lahan kosong yang ditumbuhi oleh rerumputan liar tak terurus. Kini, taman itu menjadi demplot pertanian yang dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan pangan.

“Kami memanfaatkan lahan tidur, pada kavling kosong yang penuh dengan semak belukar,” ujar Sri Mulyanah kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (31/1/2021).

Awalnya, kelompok PKK mewajibkan setiap warga untuk menanam sesuatu di pekarangan rumahnya, khususnya tanaman obat keluarga (toga) supaya mendapat penilaian yang baik saat ada lomba rumah sehat. Oleh penyuluh pertanian, warga pun disarankan untuk membentuk kelompok tani, sehingga terbentuklah Kelompok Wanita Tani Dahlia pada 8 Februari 2019.

“Februari 2019 dibentuk, kita kemudian mendapatkan bantuan dari bapak wali kota berupa peralatan hidroponik dan bibit sayuran. Nilainya mencapai Rp 26 jutaan lebih,” katanya.

Warga juga mendapat pembinaan dari Dinas Pertanian, dan dilatih budidaya sayuran, tanaman toga, tanaman hias, dan sebagainya. Salah satu pelatihannya adalah aquaponik, yakni membudidayakan ikan lele dan tanaman sayur sekaligus.

“Ada pelatihan hidroponik. Juga pelatihan aquaponik yang bawahnya ikan, atasnya tanaman. Serta pelatihan budidaya sayur, dan sebagainya,” jelasnya.

Baca juga:  Konten Spot Mancing Ekstrem di Dam Ijo, Dam Merah, dan Dam Tahu Paling Banyak Ditonton

Sistem aquaponik  ini adalah  sebuah alternatif menanam dan memelihara ikan dalam satu wadah. Di mana air dari kolam dialirkan ke tanaman, sehingga tanaman dapat memanfaatkan kotoran ikan sebagai pupuk atau penyubur tanaman. Sebaliknya, tanaman akan berfungsi sebagai filter vegetasi yang akan memberikan suplai oksigen pada air yang digunakan untuk memelihara ikan.“Dulu budidaya padi, tetapi karena terserang hama sekarang diganti sayur,” tuturnya.

Diakui Sri, anggota KWT Dahlia didominasi para orangtua. Baru sekitar 10 persen anggota dari kalangan anak muda. Meskipun begitu, sudah banyak anak muda yang melakukan studi banding ke KWT Dahlia tentunya ada pembatasan karena pandemi.

“Saya kira tidak hanya di Kelompok Wanita Tani Dahlia saja, tetapi juga di tempat lainnya. Problemnya juga sama,  yakni bagaimana menarik minat anak-anak muda,” katanya.

Urban farming ini juga memiliki manfaat dari segi ekonomi. KWT Dahlia menjual produk-produk pertanian, seperti bibit ataupun olahan hasil pertanian. Namun karena masa pandemi, dan banyak masyarakat yang membutuhkan, maka selama 2020 lalu, hasil panen seperti sayur dan ikan lebih banyak dibagikan kepada warga yang terdampak.

Selain itu, ada juga yang diolah menjual wedang jahe instan bubuk, wedang temulawak mix, teh daun kelor, dan teh bunga telang. Mereka juga menghasilkan pupuk organik, serta mengembangkan pestisida nabati. Sebelum pandemi, KWT Dahlia juga menyediakan paket belajar bagi anak-anak TK dan PAUD dalam mengenal tanaman obat. “Kami juga ingin menjadi pusat pembelajaran, sehingga tidak hanya dapat manfaat dari segi ekonomi, tetapi juga manfaat sosial,” tandas Sri Mulyanah. (den/mg1/mg3/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya