alexametrics

40 Tahun Jadi Pilot, Ini Pengalaman Paling Berkesan Kapten Hanafi Herlim

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Nama Hanafi Herlim sudah tak asing lagi di dunia penerbangan. Ia adalah pilot senior dari maskapai tersohor Indonesia, Citilink. Sudah 40 tahun lamanya ia menjalani profesi sebagai pilot. Hanafi berharap, karir pilotnya bisa terus berlanjut hingga masa pensiun tiba. Yakni di usia 65 tahun.

Kapten Hanafi Herlim terbilang pilot senior. Sudah separuh jiwanya, malang melintang di dunia penerbangan. Kunci suksesnya, selalu memegang teguh prinsip hidup disiplin dan jangan takabur.

Hanafi kali pertama mendaftar dan masuk pendidikan sebagai pilot pada November 1978 dan lulus September 1980. Tidak pernah menduga, akan menjadi pilot. Berkat formulir pendaftaran sekolah penerbangan nyasar di mejanya kelas XII STM, menggerakkan hatinya untuk mendaftar. “Jujur, saya tidak punya cita-cita menjadi pilot, karena itu jauh di luar nalar saya,” ungkapnya, Jumat (5/12/2020).

Saat itu, lima bulan sebelum tamat STM dirinya mendaftar sekolah penerbangan. Ia mendaftar sendiri. Dari 20 orang di kelas teknik mesin, hanya ia yang mendaftar menjadi pilot. Teman-temannya memilih mendaftar di Jurusan Mesin Pesawat Udara (RTPU).

Namun pendaftaran pertama, gagal di tes kesehatan. Itu melecutnya bertekad lulus, fokus dan konsentrasi menjaga kesehatannya untuk berikutnya. “Tekad bulat saya kala itu, setelah gagal tes yang pertama, tes selanjutnya harus berhasil,” tegasnya.

Waktu itu, hanya ada tiga tahapan tes tertulis untuk menjadi pilot. Yakni tes bahasa Inggris, IQ, dan tes pemahaman mekanik. Khusus tes mekanik, berisi tes perihal kejadian sehari-hari. Artinya, kejadian yang tidak bisa dijabarkan oleh pelajaran di sekolah harus bisa dipecahkan. Waktu itu, ia hanya bermodalkan kemampuan berbahasa Inggris. “Saya les bahasa Inggris sampai tamat level enam. Saya ada andil di kelulusan dari bahasa Inggris. Saya yakin, jika bahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam hal apapun,” imbuhnya.

Baca juga:  Terganggu Suara Letusan, Warga Minta Lapangan Tembak Akpol Direlokasi

Singkat cerita, ia diterima di Sekolah Penerbangan Curug. Kali pertama menerbangkan kuda besi, ia tidak pernah menyangka. Dirinya takjub. Melihat pohon dan mobil dengan ukuran yang sangat kecil. Lantas melihat awan secara dekat, masuk ke dalam hujan, dan keluar dari hujan. Itu sesuatu yang menakjubkan. Sebab, pemandangan di atas awan dahulu masih awam baginya.

Pertama kali dihadapkan dengan komponen pesawat, ia kebingungan. Sebab, pesawat baginya memiliki piranti yang sangat rumit. Berbeda dengan mobil yang hanya memiliki setir, rem, kopling. Pada saat itu, pesawat masih menggunakan kopling.

Menurutnya, pesawat memiliki tiga kemudi. Ada aileron (kemudi utama pada sayap), elevator dan rudder. Ketiganya harus seimbang dan dijalankan sesuai dengan fungsinya. “Awal menerbangkan didampingi pelatih. Waktu itu saya belum tahu apa-apa. Nama pesawatnya sundowner, hanya untuk empat penumpang,” ujarnya mengingat.

Kiprah menjadi pilot profesionalnya dimulai ketika ia pertama kali lulus dari Sekolah Penerbangan Curug tahun 1980. Lalu bergabung di Maskapai Penerbangan Merpati selama kurun waktu 25 tahun. Dari Merpati, ia lantas bergabung di Indo Air Charter. Pernah terbang ke Dubai, Afghanistan, Nigeria, Libya selama lima tahun. Setelah itu, lanjut bergabung di Maskapai Citilink jalan 10 tahun.

Baca juga:  Pakai Alat Las, Komplotan Pembobol ATM Sudah Beraksi di Empat Tempat

“Total jam terbang saya berarti sudah 27.400 jam selama 40 tahun. Paling berkesan ke Libya, yang terkenal dengan saharanya. Kemudian dengan Presidennya, Muamar Khadafi. Kalau saya bukan terbang di-charter, saya tidak mungkin sampai ke negeri gurun pasir,” sambungnya.

Pengalaman berkesan lainnya adalah ketika terbang ke Afghanistan. Saat itu, Afghanistan sedang konflik. Perang dengan Osama bin Laden. Semua orang takut terbang kesana. Namun, Hanafi sudah menyerahkan nyawa dan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Jika memang sudah waktunya, ia tidak bisa menolak. “Jadi saya percaya itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Saya bekerja, selebihnya Yang Maha Kuasa yang mengatur,” katanya.

40 tahun adalah waktu yang terbilang lama. Tentunya, ia sering menemui kendala. Namun, kendala tersebut tak menjadi soal. Misalnya, ketika dirinya dan kru sedang terbang ke luar negeri. Hal yang dialaminya adalah kesulitan konsumsi. Makanan yang dikonsumsi biasanya dimasak di mess atau di hotel. Jika sedang berpuasa, ia dan kru makan apa adanya. Siapapun yang memasak, ia makan saja. “Bersyukur ada yang masakin buat saya. Semua suka, tidak ada dukanya. Tergantung diri kita menyikapinya,”paparnya.

Untuk tetap menjaga kebugaran, Hanafi rajin berolahraga. Yaitu olahraga lari, tenis meja, push up dan jogging. Itu dilakukannya rutin selama 40 tahun. Disinggung mengenai kunci kesuksesan, ia tidak muluk-muluk. Bahkan kunci sukses yang dipegangnya berlaku untuk semua orang, semua profesi bidang.

Baca juga:  Staf Positif Covid-19, Kantor Kecamatan Kalsel Ditutup

Yakni disiplin dan jangan takabur. Baik disiplin dalam pekerjaan, dan posisi pekerjaan. Jika tidak disiplin, maka akan terjerumus di dalam lubang yang dibuat sendiri.

“Misalnya disiplin hadir di dalam pekerjaan, kantor. Harus tepat waktu. Misalnya, terbang pukul 7 pagi, maka setengah jam harus sudah sampai di bandara. Slogan saya adalah, paling telat adalah on time,” tegasnya.

Kendati sudah menjadi pilot profesional, ia tetap menemui beberapa tantangan. Terutama ketika menerbangkan pesawat dalam hal pendaratan. Itu ia yakini dialami juga oleh semua pilot. Apalagi jika hujan deras dan cuacanya buruk. Jika pilot bisa mendarat dengan benar di landasan, itu kepuasan yang tidak terkira. Kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan apapun.

“Karena kita harus membawa penumpang sampai selamat. Saya membawa Citilink Airbus 320 dengan 180 penumpang. Jika landasan terlalu pendek, menjadi tantangan. Kalau lengah, risikonya adalah nyawa. Risiko terkecilnya, pesawat keluar landasan,” ungkap pilot berusia 62 tahun ini.

Bagi Hanafi, profesinya sudah menjadi separuh jiwanya. Ia ingin pensiun hingga sampai batas maksimal usia pilot di 65 tahun. Hanafi ingin menerbangkan pesawat dalam keadaan sehat wal’afiat. Para seniornya menjadi junjungannya ketika bertugas. Mereka bisa menjalankan tugas dengan selesai dan kembali dengan selamat. “Itu saya angkat topi dengan mereka. Saya ingin seperti senior saya. Usia pilot saat ini di Indonesia hanya sampai 65 tahun. Kalau di Australia sampai 74 tahun,” jelasnya. (avi/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya