alexametrics

Siswa Difabel Kesulitan Belajar Daring, Guru Andalkan Home Visit

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Home visit sejak Oktober juga dilakukan guru SLB Negeri Kota Semarang. Dalam seminggu, guru bisa satu atau dua kali berkunjung ke rumah siswa. Sekolah wajib memastikan memastikan siswa, keluarga dan lingkungannya aman terlebih dahulu.

“Bahkan, saat pembelajaran home visit pun tetap melaksanakan protokol 3M dan hanya dilakukan satu siswa dengan satu guru,” ucap Guru SLB Negeri Kota Semarang bagian Tunanetra Fariz Riza Arfanis.

Dijelaskan lebih lanjut, tidak ada aplikasi khusus yang digunakan dalam pembelajaran bagi siswa tunanetra saat pembelajaran daring. Guru harus menyesuaikan kemampuan orang tua dalam menggunakan gadget atau smartphone. “Kalau mampunya cuma pake Whatsapp ya tidak apa-apa. Soalnya masih banyak yang kurang menguasai teknologi,” tambahnya.

Fariz mengungkapkan, selama pembelajaran via daring siswa dinilai kurang bisa menangkap materi yang ia sampaikan. Seperti salah satunya materi tentang pengenalan tumbuh-tumbuhan. Ia tidak dapat memberikan praktik secara langsung seperti pada saat pembelajaran luring. “Kalau di sekolah pembelajarannya bisa langsung praktik. Ditunjukkan ini daun, ini batang, dan lainnya,” jelasnya.

Baca juga:  Tercipta Tanpa Sengaja, Begini Asal Usul Soto Gudangan Ungaran

Selama pembelajaran via daring, beberapa orang tua juga mengeluhkan tentang penggunaan data seluler. Kelas daring yang awalnya harus dilakukan di pagi hari, sekarang diubah menyesuaikan waktu orangtuanya. “Beberapa orangtua cerita anaknya bosan sekolah daring karena tidak bisa bertemu teman. Kadang juga mengeluhkan kualitas sinyal yang sering terputus ketika pembelajaran,” bebernya.

Di samping itu, pembelajaran via daring ini terkadang terhambat oleh beberapa faktor lainnya. Fariz sebagai guru juga tidak bisa menghubungi setiap harinya karena akses ponsel yang digunakan bersama. “Terkadang, materi yang kita sampaikan ke orangtua ini berbeda penafsirannya dengan apa yang guru inginkan. Belum lagi, kalo HP-nya gantian dengan orang tuanya. Kita gak bisa menghubungi setiap harinya,” ujarnya.

Baca juga:  Mayat Tanpa Busana di Kali Bolong Diduga Korban Pembunuhan

Meski begitu, lanjutnya, Pemerintah Kota Semarang memberikan bantuan untuk menunjang pendidikan di SLB Negeri kota semarang ini. Seperti pemberian subsidi kuota rutin perbulan untuk guru dan siswa. “Misal kondisi ekonomi keluarganya kurang mampu, ada juga bantuan handphone dari pemerintah untuk siswa,” tambahnya.

Meski demikian, siswa SLB negeri kota semarang ini juga telah banyak meraih prestasi di beberapa ajang yang di adakan oleh cabang dinas satu kota semarang. Seperti lomba menyanyi, aktor dalam film dokumenter dan lainya. “Ada siswa yang lumayan unik di kelas saya. Dia bisa programming komputer bahkan seringkali meretas wifi sekolah,” ujar Al Fath Nuur FWS, guru SLB Negeri Kota Semarang khusus Tunarungu.

Menurut Fajar, peran orangtua sangat penting dalam pembelajaran daring. Karena beberapa siswa terkadang harus diperlakukan dengan lembut ketika mengajarkan materi sekolah. “Mungkin, ada beberapa orangtua yang mengajarnya sedikit keras, jadi anak merasa tertekan. Harusnya orangtua lebih memberikan support agar anak merasa senang dalam proses belajar,” ungkapnya.

Baca juga:  Kulikoffa, Si Penggemar Kopi Rilis Single Celah Asa

Bagi siswa tunarungu, juga tidak ada aplikasi khusus dalam pembelajaran secara daring. Namun, sistem pembelajaran menggunakan video call. Hal ini dikarenakan siswa tunarungu harus menggunakan media berupa teks atau gambar.

Fariz dan Fajar berharap pandemi segera berakhir dan kembali belajar luring atau tatap muka. “Harapannya tentunya anak bisa mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Semoga pembelajarannya segera luring agar lebih fleksibel, accessible dan bisa disesuaikan dengan protokol yang ketat. Misal sehari hanya menerima 50 persen siswa dan waktu belajar tidak harus full,” harap mereka. (mg3/mg15/ ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya