alexametrics

Sentra Akik Pasar Dargo Sepi, Pedagang Menjerit

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sentra batu akik di Pasar Dargo Semarang kini terlihat sepi. Sebagian besar kios akik tidak dihuni dan tidak terawat. Para penjual batu akik rata-rata memilih menggelar dagangannya di tempat strategis, seperti di dekat pintu masuk pasar.

Salah satu pedagang batu akik Heri Triyono, 58, mengaku, mulai berdagang lagi di Pasar Dargo kurang lebih setahun yang lalu. Sebelumnya, ia berdagang di Jalan Kartini. Namun karena terkena penggusuran lantaran berjualan di sepanjang jalan, ia diminta memilih tempat relokasi, di TBRS atau di Pasar Dargo.

“Saya pikir di sini lebih strategis gitu, makanya saya pilih Dargo. Ternyata sepi gini, “ ujarnya sambil memegangi kursi.

Saat pindah ke Pasar Dargo, sempat terjadi penurunan harga batu akik yang signifikan. Diakui, berdagang batu akik bukanlah hal mudah. Karena tidak semua batu akik bernilai fantastis. Jika sedang banyak pembuat batu akik, harganya bisa turun drastis karena banyaknya pasokan.

Ilmu dagang yang dipakai selama ini adalah bukan seberapa mahal menjual batu akik. Namun bagaimana caranya ia bisa menutup kebutuhan hari ini dengan pendapatan yang didapat. Pendapatan per minggu yang didapat biasanya berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu.

“Sudah tidak lagi memikirkan untung, yang penting dapat uang buat makan,“ jawabnya sambil menerawang jauh ke depan.

Baca juga:  Karena Namanya yang Unik, Desa Dukun Sering Dikaitkan dengan Hal Mistis

Kios yang berada di sampingnya juga banyak yang kosong. Menurutnya, kios itu bukan tidak buka, namun memang sudah tidak ada yang menempati. Kondisi pasar makin hari makin sepi pengunjung. Tidak heran dalam sehari ada pedagang batu akik yang tidak laku sama sekali. “Kadang sehari tidak bisa menjual satupun barang,” tandasnya.

Ia berharap pemerintah bisa mempromosikan kembali batu akik, agar penjualannya bisa membaik. “ Ya, saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya berharap agar pemerintah membantu promosi batu akik ini, “ harapnya sambil menggenggam jari-jari tangannya.

Harapan lain disampaikan Heri Triyanto. Saat ini, kata dia, banyak pedagang batu akik di Pasar Dargo yang sudah pasrah, namun juga menginginkan gerakan dari pemerintah untuk membantu perekonomian di bidang batu akik.

Aisyah, 35, pedagang batu akik di depan Pasar Dargo mengaku, sejah 6 tahun lalu,  kondisinya hanya begini-begini saja. Pembeli yang datang di tokonya tidak semuanya membeli. Kebanyakan hanya melihat dan menanyakan harganya saja. Praktis, pendapatan yang didapatkan setiap  hari tidak menentu.

Ia berharap agar ada upaya dari pemerintah Kota Semarang untuk kelangsungan perekonomian di sentra batu akik ini. “Semoga pemerintah mau mengusahakan lagi ya, “ ujarnya sambil memegangi ujung jilbabnya.

Baca juga:  Pemasaran Online Lebih Efektif

Jadi Pasar Tradisional

Meredupnya tren akik saat ini berimbas pada para pedagang di sentra akik Pasar Dargo Semarang. Pasar yang dulunya berjajar puluhan pedagang dan perajin akik, kini kondisinya sepi, bahkan ditinggalkan pedagang. “Beberapa waktu lalu Komisi B sudah melakukan tinjuan ke sana, kondisinya memang seperti itu, sentra akik kini sepi karena ditinggalkan pedagang,” kata anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Juan Rama Soemarmo, Minggu (1/11/2020).

Juan –sapaan akrabnya–, menjelaskan, konsep awal dari Pasar Dargo, lantai satu untuk sentra UMKM. Namun karena dahulu sedang naik daunnya akik, kemudian Pemerintah Kota Semarang memfasilitasi pedagang untuk menempati lantai satu dan disulap menjadi sentra akik.

Ya, lama-lama pedagangnya kan habis, saya sempat tanyakan ke Dinas Perdagangan, namun kalau kembalikan sebagai pusat UMKM saya rasa tidak cocok, melihat dari segi tempat,” tutur politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Rekomendasi dari Komisi B, lanjut dia, adalah mengembalikan Pasar Dargo menjadi pasar tradisional. Dari segi bangunan, pasar ini memiliki dua lantai, di mana lantai dua saat ini masih di empati pedagang sayur. “Kalau bawah tidak dipakai, bagusnya yang di atas ini dipindahkan ke bawah dan dijadikan pasar tradisional,” ujarnya.

Baca juga:  Kerugian Kebakaran Capai Rp 1,5 M, Siapkan Pasar Darurat untuk Pedagang Pasar Karangawen Demak

Menurut dia, pedagang sayur di lantai dua juga meminta agar bisa pindah ke bawah. Apalagi dari segi ekonomi, lebih menguntungkan jika menempati lantai dasar. Pembeli pun tidak perlu susah-susah naik ke lantai atas.

“Pedagang juga sambat, kalau mau menaikkan dagangan harus bayar orang. Rata-rata mereka sudah sepuh semua, dari segi pembeli juga sama,” tambahnya.

Juan menerangkan, jika memang kembali difungsikan menjadi pasar tradisional dinilai lebih tepat, apalagi pedagang di lantai dua ini juga masih membayar retribusi yang merupakan salah satu sektor pemasukan bagi Pemkot Semarang. “Kebersihannya juga harus dijaga, kemarin saya lihat banyak sarang laba-laba atap, kalau infastruktur sih masih oke. Intinya adalah penataan ulang agar tidak terkesan kumuh,” katanya.

Kepala Pasar Dargo Rochmad Nughrojo mengakui, jika sentra pasar akik saat ini sepi dan ditinggalkan pedagang. “Sentral akik di Pasar Dargo ini sekarang sudah gak viral lagi, karena itu pasarnya ikut sepi,” ujarnya.

Ia menambahkan, masih belum mengetahui jelas bagaimana nanti rencana Pasar Dargo kembali marak lagi. “Untuk pedagang sayur yang di lantai dua belum tahu akan dipindah atau tidak ke lantai satu. Karena bagian penataan bidang belum memberikan keterangan lebih lanjut” jelasnya. (mg6/mg10/mg11/den/mg3/aro/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya