alexametrics

Pasar Barito Baru Penggaron Sepi Pembeli, Banyak Kios Ditinggalkan Pedagang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID Pasar Barito Baru atau Pasar Klitikan Penggaron seperti pasar mati. Sangat sepi. Rerumputan menjulang tinggi. Menjadi semak belukar yang menutup akses jalan di beberapa titik. Jalan aspal yang membentang dari pintu masuk sisi kiri juga mulai rusak. Tak terawat.

Kios-kios banyak yang tutup. Sebagian tutup permanen. Sebagian lagi buka, tetapi tak konsisten.  Ada pula kios yang dikontrakkan. Ada kios setengah jadi yang tertutup rerumputan. Proyeknya tak dilanjutkan.

Ketika Jawa Pos Radar Semarang berkunjung pada Selasa (6/10/2020) siang, seorang pedagang onderdil mobil yang tak mau disebut namanya tengah duduk lesu di muka kios. Matahari sudah di atas kepala. Namun, belum ada pembeli yang datang.

Katanya, kondisi ini sudah biasa ia alami. Ia pun tak sendiri. Hampir semua pedagang Pasar Barito Baru bernasib sama. Terlebih, pasar semakin sepi saat pandemi.

Para pedagang semakin terpuruk. Agung—bukan nama sebenarnya—seorang pedagang onderdil dan penyedia jasa servis peralatan mekanik, misalnya. Ia hanya bisa pasrah karena pendapatannya menurun 50 hingga 60 persen.

Beruntung, Agung memiliki pelanggan lama yang setia. Tanpa mereka, Agung tak tahu harus menggantungkan nasibnya pada siapa. Sebab, mendapat pelanggan baru di lokasi baru bukan perkara mudah. Untuk menjaring pelanggan baru, Agung harus berusaha keras melakukan pemasaran daring lewat media sosial. Ia pun berharap bantuan pemerintah.“Sehari paling dapat Rp100 ribu, dari satu-dua pelanggan saja,” keluh Agung.

Tanggapan berbeda datang dari Mbah Sis, seorang pedagang lampu mobil sekaligus penyedia jasa servis komponen mobil. Alih-alih mengeluhkan soal pendapatan, ia justru mengeluhkan sikap Pemkot Semarang. Mbah Sis menilai pemerintah abai dengan kondisi pedagang.

Baca juga:  GP Ansor Kendal Tegaskan Netralitas

“Buat saya, yang jadi masalah bukan pendapatan karena saya percaya rezeki sudah ada yang ngatur. Masalahnya, pemerintah nggak respek sama kami,” kata Mbah Sis.

“Pemerintah seperti melepas ayam. Setelah relokasi, membiarkan kami begitu saja,” imbuhnya.

Kondisi serupa kembali ditemui Jawa Pos Radar Semarang ketika berkunjung pada Kamis (22/10/2020).  Pasar masih sepi. Tak ada lalu-lalang pembeli. Tak terdengar tawar-menawar harga yang alot.

Pedagang di Pasar Barito Baru adalah pedagang Jalan Barito di Karangtempel yang direlokasi dari kawasan Banjir Kanal Timur (BKT) pada 2018 lalu. Awalnya berjumlah 140 pedagang. Namun, jumlahnya sudah menurun. Sepinya pasar bikin mereka tak punya banyak alasan untuk tetap bertahan.

“Ada yang tutup dan memilih jualan di rumah, jualan online,” kata Erni, Sekretaris Paguyuban Pedagang Pasar Barito Baru.

Pasalnya, merintis ekonomi pasca relokasi bukan perkara mudah bagi pedagang. Menurut Cipto Suwarno, pedagang peralatan tukang, mereka sudah habis banyak untuk mendirikan kios. Maklum, pemerintah hanya menyediakan tanah.

Pedagang membangun kios secara swadaya. Belum lagi mengeluarkan modal untuk kulakan. Padahal, besarnya modal tak sejalan dengan pendapatan. Pasar yang sepi tak cukup menjanjikan.

“Bangun kios nggak cukup Rp 15 juta. Belum lagi buat beli isinya,” kata Cipto. “Kalau pedagang yang di belakang sih dibangunkan pemerintah. Mereka sudah di sini lebih dulu,” imbuhnya.

Cipto berharap pemerintah membangun pasar.  Akses jalan masuk diperbaiki. Jalan di dalam pasar juga dibangun. Menurutnya, pasar yang setengah mati ini harus dihidupkan. Pria asal Kebumen itu yakin, jika pasar dipugar pembeli bisa berdatangan. Para pedagang pun mau buka kios dan berjualan di sana.

Baca juga:  Awalnya Cuma Tiga Orang, Sekarang Sekampung Fokus Budidaya Bonsai

Selama ini, para pedagang tak bisa berbuat banyak. Tindakan yang bisa dilakukan baru sebatas membersihkan semak belukar. Sebab jika tidak, semak-semak menjadi sarang ular.  Katanya, sudah dua kali kejadian kios Cipto kemasukan ular.

Ya ini tolong dibangun gimana lah. Biar orang yang lewat ke terminal bisa tahu kalau di sini ada pasar. Lha, ini pasarnya kan kayak bukan pasar malah kayak hutan,” kata Cipto sembari menunjuk semak belukar di belakang kiosnya.

Berbeda dengan Pasar Barito Baru, sejumlah pasar klitikan liar justru kembali tumbuh subur di pusat Kota Semarang. Sebut saja di Jalan Sendowo dan Suari kawasan Kota Lama, Peterongan Bugel, Jalan Kokrosono dan lainnya.

Di Jalan Sendowo, sejumlah pedagang barang bekas membuka lapak di tepi jalan. Mereka lebih memilih berjualan secara liar ketimbang menempati pasar yang sudah disediakan pemkot. Tercatat ada 11 pedagang kaki lima (PKL) barang bekas di sepanjang jalan ini.

Salah satu pedagang, Heri Setyawan mengaku telah berjualan di Jalan Sendowo selama 15 tahun. Saat Kota Lama sedang direnovasi, kata dia, semua pedagang barang bekas di tempat itu dipindahkan ke Pasar Waru Tambak Dalam. Tapi setelah renovasi selesai, banyak pedagang yang kembali memilih berjualan di Jalan Sendowo. Menurutnya, berjualan di situ lebih enak. “Kalau jualan di sini gratis, tanpa biaya retribusi. Pembelinya juga lebih banyak,” ucapnya.

Menurutnya, kendala jualan di tempat itu jika ada razia Satpol PP pasti langsung digusur, dan disuruh pulang. Dan, kalau ketahuan masih ngeyel akan diangkut dan dibawa ke kantor.

Kondisi ramai juga tampak di PKL klitikan kawasan Jalan Kokrosono. Menurut Ahmad, 56, penjual barang bekas di pasar liar itu, sebenarnya pedagang sudah pernah direlokasi ke Pasar Tanah Mas, Semarang. Tapi di sana sepi pembeli, sehingga para PKL kembali berjualan di Kokrosono.

Baca juga:  Pedagang Tradisional Lebih Nyaman Jualan Manual

“Saya sudah pernah pindah, tapi sepi. Lha sekarang kalau sepi, keluarga saya mau makan apa? Apa negara mau bayar biaya makannya,”kata Ahmad, warga Kelud, Semarang, ini.

Diakuinya, tempat relokasinya memang lebih bagus dan tertata. Hanya saja, baginya sebagai pedagang, yang penting adalah ada pembeli.

“Dulu memang semua pedagang di sini (PKL Kokrosono) sudah dipindahkan ke sana (Pasar Tanah Mas), tapi karena sepi, jadi balik lagi ke sini (Kokrosono),”kata PKL yang mengaku sudah tujuh tahun berjualan di Kokrosono.

Belum maksimalnya infrastruktur di Sentra Klitikan Penggaron. Menyebabkan banyak pedagang yang pergi dari sentra utama Klitikan Penggaron.

Terpisah, Ketua Paguyuban Pedagang dan Jasa (PPJ) Kota Semarang Ngadino mengatakan, infrastruktur di sentra Penggaron (Pasar Barito Baru dan Pasar Klitikan) harus diperbaiki. Karena lokasinya tersembunyi dan tidak banyak orang yang tahu kalau di situ terdapat pasar barang-barang bekas.

Ngadino menambahkan, dengan kondisi sentra yang tidak menguntungkan. Pasti akan banyak para pedagang klitikan yang pindah untuk mencari lokasi lain. “Pedagang klitikan itu kebanyakan masyarakat kecil, kalau seminggu tidak laku pasti mereka akan langsung pindah mencari tempat yan strategis,” katanya saat ditemui di kantornya, Jumat (23/10).

Seharusnya, kata dia, pemerintah memperhatikan kondisi para PKL. Dengan cara memberikan petunjuk jalan yang jelas ke lokasi sentra klitikan Penggaron. “Agar masyarakat tahu kalau di situ ada sentra barang bekas,” ujarnya. (cr3/cr1/jks/aro/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya