alexametrics

Prasasti Kutukan di Tengah Kebun

Menelisik Penanda Makam Warga Tionghoa

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Di area perumahan Bumi Wana Mukti, Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, terdapat sebuah kebun rindang. Pepohonan jati menjulang tinggi. Suasananya begitu sepi meski di siang hari. Sesekali, hanya terdengar suara kicauan burung dan gesekan dedauan yang tertiup angin. Makam-makam Tionghoa, yang oleh warga biasa disebut “bong”, pernah berdiri di sini.

Di area dengan medan menurun itu memang masih terdapat benda kuno seperti batu prasasti dengan ukiran huruf Tionghoa. Benda berbentuk persegi panjang tersebut berdiri kokoh di antara pepohonan. Jumlahnya dua. Satu berukuran sekitar 40 x 70 cm, satu yang lain berukuran sekitar 20 x 30 cm.

Menurut penuturan warga setempat, Ngatim, tanah pekarangan tersebut memang milik orang keturunan Tionghoa. Di sana juga terdapat sebuah rumah kecil yang masih terawat. Ngatim diberi amanah membersihkannya.

Baca juga:  Bongpay Jadi Alas Cuci Baju dan Tutup Selokan

Beberapa tahun silam bong-bong di sana memang dibongkar. Ngatim kurang paham, entah dipindah atau diapakan. Hanya saja, dua buah prasasti dibiarkan bertahan. Benda tersebut sudah ada sejak ia belia.

Inah, warga Sambiroto RW 02 tersebut mengaku tak tahu menahu soal riwayat bong maupun prasasti. Terlebih, ketika kecil orang tua Inah melarangnya bermain di sana. Pantangan tersebut kemudian ia teruskan ke keturunannya.

Irawan Raharjo, peneliti bongpay di Semarang mengatakan, bongpay dan prasasti tersebut merupakan area makam 7 saudara seperguruan. “Tapi saya mau menemukan 2 makam di area tersebut, yang 5 lagi belum ketemu,” jelasnya. Keturunan dari orang yang dimakamkan di tempat tersebut, menurut Irawan, saat ini masih ada dan berdiam di Pecinan Semarang.

Baca juga:  XL Axiata – Kementerian Agama RI Kerja Sama Bantu Pelajar Madrasah

Yang menarik adalah prasasti batu. “Prasasti itu berisi kutukan,” tutur Irawan.

Menurutnya, Bahasa di prasasti tersebut tergolong kuno dan halus. Salah satu kalimat berisi kutukan bagi orang yang berani membongkar prasasti tersebut akan mendapatkan hal tidak baik. Prasasti tersebut didirikan pada 1916. Salah satu nama yang tertera dalam tulisan adalah Liem. (cr3/ton/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya