alexametrics

Bongpay Jadi Alas Cuci Baju dan Tutup Selokan

Menelisik Penanda Makam Warga Tionghoa

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bongpay merupakan penanda makam leluhur bagi warga Tionghoa. Di Semarang, banyak makam Tionghoa yang telah dibongkar. Ada bongpay yang dipindah oleh keturunannya, ada pula yang akhirnya merana. Jadi alas cuci baju atau tutup selokan.

Tiga bongpay tampak telantar di sekitar Sendang Stoom, Kampung Tegal Sari Stoom, Candisari, Kota Semarang. Kondisinya pun mulai terkikis oleh air karena digunakan untuk alas mencuci baju warga sekitar. Namun tulisan huruf Tiongkok masih terukir jelas di bongpay tersebut.

Warga Tegal Sari Stoom tidak ada yang mengetahui jelas sejarah tentang bongpay maupun cerita mengapa bekas makam Tionghoa itu bisa berada di area sendang. Mereka hanya mengetahui cerita tentang Sendang Stoom yang katanya merupakan peninggalan Belanda.

Gidion Kuniman, sesepuh di Kampung Tegal Sari Stoom mengatakan, bongpay di Sendang Stoom sudah ada saat pertama kali ia datang ke kampung tersebut pada 1970. “Bongpay di Sendang Stoom sudah ada dari dulu sejak saya di kampung ini,” ujarnya.

Kuniman menduga bongpay tersebut berasal dari sekitar kampung Tegal Sari Stoom yang dulunya merupakan pemakaman Tionghoa. Feri warga Tegal Sari Stoom yang berjualan di sekitar sendang mengatakan, banyak warga sekitar masih mencuci baju di Sendang Stoom, Mereka menggunakan bongpay untuk alas mereka mencuci.

Di Genuk Krajan IV, Candisari, bagian bekas bongpay jadi hiasan gapura. Dua altar bongpay diubah jadi kursi untuk nongkrong di depan gapura. Sebuah patung Kilin atau singa betina yang biasa jadi ornamen di depan bongpay berdiri di dekat altar. Sedangkan Kilin jantan entah ada di mana.

Baca juga:  Dihantui Banjir Sungai Beringin

Siti Aminah, warga Genuk Krajan IV menyebut, bongpay yang digunakan untuk menghias kursi merupakan sisa dari banyaknya bongpay di kampung Genuk Krajan yang sudah dibuang. “Dulu di kampung ini banyak bongpay berserakan, kemudian setelah dibuat permukiman banyak yang dibuang, tersisa yang di depan gang dijadikan tenger.

Di Genuk Krajan IV juga ditemukan beberapa bongpay yang ada di rumah warga. Salah satunya di rumah Kartini. Ia tidak mengetahui bahwa batu berukiran Tiongkok itu adalah bongpay, sehingga ia gunakan untuk alas cuci baju di kamar mandi rumahnya. “Ini dulu yang masang batu, almarhum bapak, saya nggak tahu kalau ini bongpay atau nggak,” jelasnya.

Ada juga bongpay yang dijadikan tutup atau jembatan selokan. Benda tersebut bisa dijumpai di Keluarahan Tandang. Di antaranya Karanggawang Baru RW VI, Perumahan Sikluwung Asri, Jalan Saputan Raya, Karanggawang Baru, Deliksari. Bahkan sepasang Kilin yang sudah diberi warna warni kini berada di depan gapura Makam Mbah Banteng Loreng, Tandang.

Di depan SDN Tandang 04, terdapat 3 nisan bongpay yang jadi jembatan untuk melintasi selokan. Bongpay bertahun 1941 dan 1951 ini hampir tiap hari dilintasi roda sepeda motor ataupun alas kaki warga yang lewat dari jalan aspal menuju rumah sekitar tempat tersebut.

Sementara di wilayah RT 5 RW 9 Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, masih ada bongpay yang utuh. Jumlahnya sekitar 10 buah. Berada di tengah permukiman warga.

Baca juga:  Kasus Balita Stunting di Jateng Tertinggi di Wonosobo, Terendah di Semarang

Yohanes Agus Slameto, 76, mengaku mulai datang ke Sendangguwo pada 1961. Saat itu, wilayah etsrebut masih berupa pemakaman Tionghoa. Jumlah bongpay tentu ratusan. Tapi sekitar 1980-an, banyak bongpay yang mulai digusur dan berubah menjadi rumah warga.

Saat permukiman dibangun, ada bongpay yang dipindah ahli warisnya. Tapi ada pula yang dibongkar atau ditimbun begitu saja. Sebuah bongpay yang masih terawat berdiri di samping rumah milik Maryatun, 55. Pada makam tersebut tertulis nama Zhakarias Kwee Siaun Hoe, lahir pada 1911 dan meninggal di 1980. “Setiap Jumat Kliwon ahli waris masih berziarah dan datang ke sini, pengurus Bong China-nya juga sering bersih-bersih dan melakukan perawatan,” ujar Maryatun.

Wanita yang 13 tahun hidup berdampingan dengan makam ini awal sempat ketakutan. Namun, saat ini sudah terbiasa karena sudah banyak permukiman warga yang dibangun. “Dulu masih sepi belum ada penerangan samping rumah juga masih pemakaman semua. Anak saya juga sering diganggu, setiap malam ada yang ketok-ketok pintu tapi tidak ada orang,” jelasnya.

Bongpay yang masih utuh berada ditengah permukiman warga RT 5 RW 9 Kelurahan Sendangguwo, Tembalang. (Khafifah Arini Putri/Jawa Pos Radar Semarang)

Simpan Data Persebaran Diaspora

Bongpay merupakan penanda sebuah makam bagi warga Tionghoa. Sejumlah data yang tercantum di bongpay bisa menguak sejarah persebaran penduduk sebuah kota.

Irawan Raharjo, salah satu warga Semarang yang tertarik dengan keberadaaan bongpay. Baik yang masih terawat maupun telantar. Sudah sekitar 10 tahun Irawan keluar masuk kampung untuk mencari bongpay-bongpay yang tersebar di sejumlah tempat.“Saya biasanya membaca dan menerjemahkan kalimat yang tertulis di bongpay,” jelasnya.

Baca juga:  Jika Ditunda, PON Papua Idealnya Digelar Maret 2021

Dari data-data tertulis di bongpay, kata Irawan, sebenarnya bisa diketahui sejarah perpindahan masyarakat Tionghoa yang masuk Semarang. Sebab biasanya, pada bongpay tersebut tertulis tempat asal warga yang dikuburkan. “Kita bisa mengetahui bagaimana diaspora warga yang ada di Semarang pada waktu dulu.”

Seperti bongpay yang menjadi tutup selokan di dekat Perumahan Sikluwung Asri Kelurahan Tandang. Pippo Agosto menerjemahkan aksara Tiongkok di nisan tersebut sebagai makam seorang nyonya yang meninggal pada bulan ketiga, hari pertama, tahun 27 Republik Tiongkok atau 1939 masehi. Perempuan ini diketahui berasal dari Xihe, Provinsi Hunan, Tiongkok. Di daerah Karanggawang Baru RW 6 Kelurahan Tandang, sebuah bongpay yang juga menjadi tutup selokan menunjukkan lokasi asal jenasah yang dimakamkan. “Berasal dari Longchuan, daerah di Provinsi Guangdong,” kata Pippo yang juga sering mencari dan menerjemahkan kalimat yang ada di pahatan bongpay.

Memang tidak semua bongpay telantar. Masih ada bongpay yang terawat. Bahkan yang masih dikunjungi keturunannya. Tapi bongpay yang sudah dibongkar dan bekasnya berserakan begitu saja juga tak sedikit. Terutama di daerah yang dulu merupakan area perkuburan Tionghoa tapi saat ini sudah digusur dan berganti menjadi permukiman padat. Seperti di daerah Lempongsari, Wonodri, Tegalsari, Jomblang, Cinde, Tandang dan Kedungmundu.

Irawan Raharjo mencatat, makam Tionghoa tertua yang pernah ia temukan berada di daerah Manyaran. Bongpay tersebut berangka tahun 1740. “Itu angka tahun pemugaran bongpay, jadi bisa dipastikan sebelum tahun itu sudah ada warga Tionghoa di Semarang,” jelasnya. (cr2/mg10/mg12/ton/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya