alexametrics

Habiskan Rp 109 Miliar, Seperti Ini Penampakan Flyover Ganefo Mranggen

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Mulai 8 Oktober lalu, flyover Ganefo Mranggen, Kabupaten Demak mulai dibangun. Proyek jalan layang yang menghubungkan jalur Purwodadi, Demak dan Kota Semarang ini akan dikerjakan selama 515 hari kalender kerja. Ditargetkan pada akhir Maret 2022, flyover yang terletak di Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak ini selesai. Seperti apa desain flyover Ganefo?

Flyover Ganefo sudah dinanti warga cukup lama. Jembatan layang ini dinilai menjadi solusi mengatasi kemacetan yang kerap terjadi di perlintasan rel KA Ganefo. Flyover Ganefo akan dibangun di atas rel KA dengan panjang 700 meter dengan ketinggian 7,2 meter. Anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 109 miliar.

“Kalau jembatan layang itu sudah jadi, saya yakin kemacetan di atas rel KA sudah tidak ada lagi. Karena rel KA sudah tidak dilintasi kendaraan lagi,” kata Camat Mranggen Wiwin Edi Widodo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kabid DPU Binamarga Pelaksana Jalan Wilayah Timur Jateng Eko Budi Hartanto mengatakan, saat ini proyek flyover Ganepo masih memasuki proses persiapan koordinasi dengan konsultan. “Khususnya terkait gambar rencana, termasuk batas wilayah kerja dan persiapan pengaturan lalulintas,” kata Eko, kemarin.

Persiapan lain, lanjut dia, yakni koordinasi dengan pemilik pipa gas. Di mana di bawah rel kereta api yang di atasnya akan dibangun flyover tersebut masih tertanam pipa gas. Nantinya pipa gas tersebut juga akan dipindah.

Dijelaskan Eko, lebar flyover tersebut, 13,5 meter, dengan dua arus lalulintas. Dari Semarang menuju Purwodadi maupun sebaliknya. Jumlah tiang penyangga flyover sebanyak 11. Juga akan dilengkapi jalur putar kendaraan dari masing-masing arah. Jalur putar kendaraan itu untuk memfasilitasi penduduk lokal Mranggen dalam beraktivitas.

Baca juga:  Prasasti Kutukan di Tengah Kebun

Selain itu, untuk sisi kanan dan kiri flyover akan diberikan pembatas berupa anyaman besi. Juga akan dilengkapi anak tangga untuk pejalan kaki, serta penerangan jalan umum (PJU) di beberapa titik. “Titik kemacetan selama ini memang persis di sekitaran Ganefo, karena ada perlintasan kereta api dan aktivitas pedagang pasar tumpah saat malam dan menjelang pagi,” tuturnya.

Dikatakannya, lebar dan tinggi flyover tersebut ditentukan oleh Kementerian Perhubungan. “Nanti kendaraan dari arah Semarang ke Purwodadi maupun sebaliknya nanti lewat atas. Jadi, tidak bersinggungan dengan rel kereta api,” katanya.

Konstruksi dari flyover sendiri juga akan dibuat lebih kokoh. Sehingga kendaraan dengan tonase berapa pun tetap bisa melintas.

Tidak hanya itu, lanjutnya, arus lalulintas dari dua arah, yakni Purwodadi dan Semarang nanti saat pengerjaan akan dialihkan ke jalur pantura. Khususnya, kendaraan berat. Untuk rekayasa lalulintasnya masih menunggu hasil koordinasi dengan pihak kepolisian dan Dishub Jateng.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, jika pengerjaan proyek tersebut dilaksanakan dengan sistem padat karya, khususnya pengerjaan manual. “Kita minta supaya pihak pelaksana juga mengerjakan dengan metode padat karya melibatkan masyarakat setempat,” ujar Ganjar.

Baca juga:  Sambut Ramadan dengan Bersihkan Makam Pahlawan

Dikatakan, untuk nilai proyek tersebut sebesar Rp 109 miliar. Proyek ini dikerjakan PT Brantas Abipraya Persero bekerja sama dengan PT Heroni Karya Semesta. Penandatanganan disaksikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Bupati Demak M Natsir beberapa waktu lalu.

Ganjar mewanti-wanti pemenang lelang untuk mengerjakan proyek dengan baik. Proyek harus selesai tepat waktu dengan kualitas yang dijaga. “Integritasnya harus dijaga. Jangan dikorup,” tegasnya.

Dikatakan Ganjar, jika pihaknya akan melakukan pengawasan pembangunan flyover Ganefo secara ketat. Apalagi, flyover tersebut juga akan menjadi akses vital kendaraan di jalur tengah Jateng. “Pengerjaannya juga kudu melibatkan masyarakat setempat, apalagi ini masa pandemi dan itu penting bagi masyarakat supaya memperoleh penghasilan tambahan,” harapnya.

esain flyover Ganefo, Mranggen, Demak yang dibangun di atas perlintasan rel KA Ganefo. Jembatan layang ini memiliki panjang 700 meter, tinggi 7,2 meter dan lebar 13,5 meter. Proyek senilai Rp 109 miliar ini ditarget selesai pada akhir Maret 2022. (Istimewa)

Ring Road Mranggen

Selain flyover, pihak Kecamatan Mranggen hingga kini juga masih berharap adanya pembangunan fasilitas umum lainnya. Yakni, pembangunan jalan lingkar atau ring road Mranggen.  Dalam catatan koran ini, pembangunan ring road Mranggen itu sudah lama direncanakan oleh Pemkab Demak. Bahkan, sejak era Bupati Tafta Zani (2006) sudah mengemuka upaya pembebasan lahan. Waktu itu, pembebasan lahan sempat terkendala lantaran warga yang lahannya terkena jalan lingkar ada yang minta ganti untung hingga Rp 1,2 juta per meter.

Selain itu, status tanah sawah maupun tegalan milik warga juga masih ada yang berstatus warna cokelat dan kuning, yaitu, tanah untuk pengembangan hortikultura. Upaya pembangunan ring road pun sampai sekarang belum ada kabar untuk dilanjutkan.

Baca juga:  PDIP Demak Targetkan 80 Persen Suara untuk Eisti-Jos

Camat Mranggen Wiwin Edi Widodo menyampaikan, pihaknya tetap berharap pembangunan jalan lingkar Mranggen bisa dilanjutkan sesuai rencana semula. Hal itu bisa melengkapi pembangunan flyover yang kini mulai dibangun Pemprov Jateng.

Ring road Mranggen ini semula akan melintasi wilayah Desa Kembangarum, Brumbung dan Bandungrejo,” ujar Wiwin kemarin.

Keberadaan ring road itu, lanjut dia, selain untuk membantu mengatasi  macet, juga sebagai penanda pengembangan wilayah Kecamatan Mranggen.

Dikatakan, Mranggen kini telah menjadi kota kecil yang menyangga Kota Semarang. Bahkan, banyak orang jika ditanya dari mana asalnya? Maka, ada yang menjawab bukan dari Mranggen tetapi berasal dari Semarang Timur.

“Jadi, masih ada warga meskipun bertempat tinggal di Mranggen, tapi ngakunya berasal dari Semarang Timur. Tidak mau mengaku dari Mranggen,”katanya sambil tersenyum.

Karena itu, Wiwin akan berbangga bila keberadaan ring road Mranggen bisa diwujudkan seperti fly over tersebut.“Kita ingin Mranggen berkembang, termasuk bagaimana bisa menjadi kota satelit,”ujar Wiwin.

Ia berharap, akan banyak fasilitas umum yang dibangun. Seperti, rumah sakit, sekolah yang berkualitas, pusat keramaian, pusat olah raga, terpenuhinya kebutuhan angkutan masal, adanya mal dan lainnya.

Untuk sarana transportasi, Mranggen bisa bekerja sama dengan Kota Semarang terkait pelayanan bus rapid transit (BRT). Dengan demikian, mobilitas warga Mranggen dan sekitarnya dapat terlayani angkutan yang berbiaya murah, namun cepat dan nyaman. (ewb/hib/aro/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya