alexametrics

Tilang E-TLE Tak Maksimal, Peralatan Sound Voice Banyak Nganggurnya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Dulu setiap di traffic light selalu ada peringatan lewat sound voice yang dipasang di tiang kamera CCTV. Tapi sudah cukup lama, peralatan ini tak diaktifkan. Wacana tilang lewat CCTV alias E-TLE atau Electronic Traffic Law Enforcement juga tidak ada kelanjutannya.

Beberapa waktu lalu sempat viral video Akang Gendang yang digaet Area Traffic Control System (ATCS) Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung untuk menegur pelanggar lalu lintas. Si Akang Gendang bicara lewat sound voice yang dipasang di setiap traffic light di Kota Kembang.

Bagaimana di Kota Semarang? Khusus peralatan sound voice sekarang banyak nganggurnya. Padahal di masa pandemi Covid-19, sebenarnya efektif untuk sosialisasi protokol kesehatan bagi pengguna jalan. Sedangkan untuk kamera CCTV lebih banyak dipakai untuk memantau kondisi arus lalu lintas, mengungkap kasus kecelakaan serta kejahatan lainnya.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kota Semarang Bambang Pramusinto mengatakan, CCTV dan sound voice yang terpasang di setiap lampu bangjo difungsikan untuk memantau kondisi arus lalu lintas di Kota Semarang. Selain itu, CCTV ini juga berfungsi sebagai penegakan hukum terhadap pelanggaran melalui sistem Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE). Namun, diakui, fungsi E-TLE tersebut belum berjalan maksimal.

“Untuk CCTV di traffic light masih menggunakan sistem analog. Artinya, hanya dapat digunakan untuk memantau keadaan lalu lintas,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski demikian, lanjut dia, keberadaan CCTV di traffic light saat ini tetap digunakan untuk memberi data pelanggar kepada pihak Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas). Sedangkan untuk tindaklanjut tilang, sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak Ditlantas.

Dikatakan, saat ini Diskominfo sedang melakukan pengembangan CCTV di traffic light dengan teknologi baru, yakni sistem analytic. Sistem ini mampu secara otomatis mendeteksi dan mencatat setiap pelanggaran dan hal lain yang berkaitan. Menurut Bambang, sistem analytic ini memiliki lima fungsi yang tidak hanya memantau kondisi lalu lintas di Kota Semarang.

“Sistem analytic baru kami luncurkan dua minggu lalu. Fungsi yang dapat dilakukan oleh sistem ini antara lain, mampu mendeteksi jumlah kerumunan warga, jumlah kepadatan kendaraan, banyaknya parkir liar, genangan air dan kapasitas sampah yang ada di Kota Semarang,” ungkapnya.

Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, CCTV analytic juga digunakan untuk memantau pelanggaran protokol kesehatan. CCTV akan menangkap gambar masyarakat yang berkendara tanpa masker serta tidak menggunakan seatbelt (sabuk pengaman).

Baca juga:  Aneka Potensi Wisata Ada di Kelurahan Nongkosawit

“CCTV analytic sudah terpasang ada di kawasan Simpang Lima, Segitiga Emas Semarang (Jalan Pandaranan, Jalan Gajahmada dan Jalan Pemuda), serta Kota Lama. Titik-titik ini merupakan lokasi yang ramai kerumunan, jadi nanti mudah dipantau,” katanya.

Dikatakan, nantinya pengembangan sistem CCTV di traffic light akan diintegrasikan pula pada sistem analytic dan dapat terpantau di command center balai kota. Sistem ini akan dikolaborasikan dengan pihak Ditlantas. Sehingga bentuk pelanggaran lalu lintas yang dilakukan dapat secara otomatis tercatat dan ditindaklanjuti.

Diakui, program ETLE memang belum berjalan dengan optimal. Namun jika program ini sudah terlaksana, pasti akan bagus.

“Saya dengar dulu e-tilang masih ujicoba. Harusnya setelah itu diterapkan? Tapi sekarang apa hasilnya? Padahal harusnya semua pelanggaran terekam dan tidak akan lolos. Jujur saya pernah melanggar di lampu merah Tlogosari yang katanya ada CCTV-nya. Tapi kenyataannya nggak pernah ada tindakan,” ujar Harsono, warga Sembungharjo, Genuk, Semarang.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang Endro P Martanto melalui Kabid Lalu Lintas Topo Mulyono mengatakan, Kota Semarang memiliki hampir 88 titik ATCS yang sudah terpasang. Namun baru sekitar 55 titik kamera yang sudah terkoneksi langsung ke server Dishub.

“Jumlah titik yang terkoneksi ini sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Kota Semarang. Untuk Polda ataupun Satlantas juga bisa mengakses, misalnya untuk keperluan lalu lintas mengontrol kepadatan, kemacetan, bahkan sampai tilang elektronik,” katanya.

Titik pemasangan sendiri, lanjut dia, mulai dari perbatasan Kendal-Semarang, yakni di Simpang Mangkang untuk titik yang paling barat. Titik paling timur ada di Simpang Pucang Gading, titik paling utara di Simpang Madukoro, utara bagian timur yakni Simpang Terboyo dan terakhir di bagian selatan adalah Simpang Kaliwiru.  “Kalau di pusat kota hampir semua titik ada,” tambahnya.

Khusus E-TLE milik Polda Jateng, berada di cek point Pandarnaran. Kamera dengan resolusi tinggi dipasang untuk melihat pelanggaran pengendara, misalnya tidak pakai sabuk pengaman, bermain handphone saat berkendara dan tidak memakai helm.

“ATCS milik kita misalnya di Simpang Tugu Muda, Kyai Saleh, Simpang Lima, Ahmad Yani, Ki Mangunsarkoro dan Simpang Polda Jateng, kita berkerjasama dengan Satlantas Polrestabes Semarang,”katanya.

Dari kamera yang ada, lanjut dia, bisa terintegrasi dengan CCTV analisis Dinas Kominfo Kota Semarang. Nantinya dinas bisa memberikan data kepada OPD terkait, misalnya untuk pariwisata, memantau pasar serta yang lainnya. Dishub sendiri, lebih fokus ke pemantauan lalu lintas yang ada di Kota Semarang.

Baca juga:  Anak Penerima ASI dan Anak Pendonor Kini Akrab

“Kominfo juga memanfaatkan kamera CCTV di RT/RW. Bahkan sesuai perda yang baru, kantor ataupun bangunan di pinggir jalan dan mengarah ke fasum bisa digunakan untuk pengolahan data,” paparnya.

Sementara terkait E-TLE melalui CCTV Dishub, lebih condong ke langkah persuasif kepada pengendara yang tidak mematuhi aturan. Apalagi di beberapa titik, menurut Topo, tingkat kepatuhan masyarakat ataupun pengendara dinilai sangat kurang. Misalnya, berhenti di luar marka, ataupun melawan arus.

“Kita berikan imbauan dulu, melalui pengeras suara. Kita ingatkan mereka melanggar, kalau ngeyel bisa kena tilang. Imbauan ini masih kita lakukan terutama di Simpang Tlogosari, terutama pada jam-jam sibuk,” akunya.

Pantuan koran ini Jumat (2/10) lalu, ada empat petugas yang stanby dan melakukan pengawasan di control room ATCS Dishub Kota Semarang. Masing-masing tampak sibuk mengawasi layar monitor besar yang menampilkan gambar real time lalu lintas di beberapa titik.

“Petugas kita stand by mulai jam 06.00 sampai 22.00, konsentrasi utamanya adalah jam sibuk. Di mana banyak terjadi pelanggaran dan kemacetan. Harapannya tentu semua traffic light bisa dipantau ATCS, namun terkendala dengan anggaran,” katanya.

Petugas yang bertugas di Control Room ATCS Dishub Kota Semarang mengawasi lalu lintas Kota Semarang. (Adennyar Wycaksono/Jawa Pos Radar Semarang)

Belum Bayar PKB akan Terpantau CCTV

Direktur Lalu Lintas Polda Jateng Kombes Pol Rudy Syafirudin mengatakan pemasangan kamera CCTV sistem Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE)  di Kota Semarang terdapat di tiga titik, yakni dua di Pandanaran dan satu di sekitar Tugu Muda. Tiga kamera CCTV tersebut tidak hanya untuk memantau arus lalulintas dan pelanggaran saja. Nantinya juga akan difungsikan untuk penindakan keterlambatan pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB).

Dikatakan, Ditlantas Polda Jateng sekarang ini telah memiliki ruangan yang di dalamnya berjajar banyak layar monitor yang tersambung langsung dengan kamera CCTV E-TLE tersebut. “Kalau itu kan sifatnya hanya CCTV aja, tidak ada penindakan, tidak ada connect dengan dinas pajak. Itu hanya memantau arus jalan saja,” bebernya.

Rudy mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang dan akan membuat pilot project E-TLE. Program dengan pemkot ini, lanjut Rudy, diupayakan yang di luar wilayah lalu lintas. “Seperti contohnya dengan Gedung Balai Kota, nanti berkoordinasi Dinas Perhubungan dan Dinas Pajak dengan kita,” katanya.

Pihaknya membeberkan, sasaran yang pertama adalah yang menyangkut pelanggaran lalulintas, yakni ada enam komponen. Yaitu, pelanggaran tidak menggunakan sabuk pengaman, menggunakan telepon saat berkendara, mabuk, melawan arus, berboncengan tiga dan tidak memakai helm.

Baca juga:  Sekda Jabar Ajak Masyarakat Lestarikan Pencak Silat

“Nanti ada lagi jalan yang akan dipasang CCTV E-TLE, khusus untuk marka jalan. Di situ kami akan memasang kurang lebih 16 titik lagi,” katanya.

Rudy mengatakan, program ini pilot project-nya di seluruh Jawa Tengah. Tujuannya, supaya masyarakat patuh berlalu lintas dan tertib dalam membayar pajak kendaraan.

“Sehingga pajak tidak tertunda terlalu banyak di Dispenda provinsi maupun kota. Kita membantu,” terangnya.

Pihaknya juga membeberkan, kamera CCTV yang sudah terpasang akan menampilkan gambar secara keseluruhan dengan jelas. Termasuk pelat nomor kendaraan yang muncul di layar.

“Pelat nomor ini sudah membayar pajak atau belum. Kalau belum membayar pajak, kita kirimkan surat klarifikasi ke rumah yang bersangkutan. Apabila surat tidak sampai, hari itupun kita blokir kendaraannya,” katanya.

“Misalnya, itu sudah berganti kepemilikan, tapi belum bayar, kita blokir. Nanti kalau pada saat bayar pajak sekalian ganti nama. Karena E-TLE harus berperan tunggal satu kendaraan satu orang,” sambungnya.

Terkait jumlah penindakan pelanggaran, rata-rata setiap harinya mencapai 100 sampai 200 penilangan. Mereka yang terjaring pelanggaran menyangkut melawan arus, parkir sembarangan, atau tidak memakai helm.

“Itu di seluruh Jawa Tengah. Kebanyakan roda dua. Untuk tingkat Jawa Tengah masih relatif bagus,” tegasnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk membuat sesuatu ruang henti motor di setiap perempatan. Pihaknya mencontohkan, pada ruangan henti ini bisa diberikan warna hijau.

“Nanti di situ ada ruang disabilitas. Kita harapkan Jawa Tengah sebagai pilot project,” terangnya.

Menanggapi terkait program E-TLE apakah sudah berjalan, Rudy mengatakan sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk membahas kelanjutan program ini. Menurutnya, untuk pelaksanaan penindakan ditargetkan tahun ini sudah diupayakan IT sudah connect semua dan berkoordinasi dengan kejaksaan dan pengadilan.

“Ini baru tiga. Untuk penindakan belum terlaksana. Rencana kalau sudah terpasang semua. Nanti kalau sudah dipasang semua, kita sosialisasikan kalau di Jalan Pandanaran ini sudah melalui E-TLE dan diharapkan pengendara yang lewat sini harus tertib,” katanya

“Semoga dengan adanya program E-TLE ini, ke depannya pengguna kendaraan bisa tertib lagi, harapan kita supaya bisa betul-betul smart city, kota cerdas Jawa Tengah bisa menjadi pilot project ke depannya,” harapnya. (mg1/mg2/mg3/mg4/den/mha/aro/bas) 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya