alexametrics

Pensiunan Sirkus Tak Lagi Kurus

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Keberadaan satwa liar yang terancam punah butuh perhatian. Munculnya penangkaran satwa dilindungi mampu menekan potensi punahnya satwa tersebut dan mencegah adanya jual beli satwa ilegal.

Beruang madu warna hitam terlihat cukup lincah di balik jeruji besi. Ia bercengkerama atau bermain-main dengan teman sekandangnya. Sesekali mengambil buah-buahan yang tersedia dan disantapnya.

Kondisi berbeda ketika satwa yang memiliki habitat di Sumatera dan Kalimantan ini pertama kali tiba di Agrowisata Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang. Beruang madu tersebut pensiun dari tempat hiburan sirkus dalam kondisi mengenaskan. “Kondisinya kurus pasti. Stres apalagi. Pelan-pelan ditangani. Sekarang sudah kawin bertemu teman hidup,” celetuk Kepala Agrowisata Sido Muncul Bambang Supartopo.

Memelihara atau mengembangbiakkan satwa dilindungi tidak dilarang. Tapi harus ada prosedur perizinan yang harus diikuti.

Agrowisata Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang menjadi salah satu tempat yang memelihara satwa dilindungi. Status lembaga konservasi dari BKSDA sudah dikantongi sejak 2011.

“Ada 160 satwa dari 52 spesies. Rata-rata yang di sini memang hibahan dari masyarakat yang tidak memiliki izin atau gak sanggup merawat,” ungkap Kepala Agrowisata Sido Muncul Bambang Supartopo.

Baca juga:  Mengeksplorasi Ruangan dengan Tanaman Hias

Banyak cerita miris mengiringi perjalanan satwa-satwa di sini. Selain beruang madu, ada kisah owa siamang. Primata berbulu hitam itu menunjukkan raut muka khawatir dan ingin bersembunyi ketika didekati manusia. Rupanya ia menyimpan trauma di masa lalu.

Bambang mengatakan, beberapa tahun lalu siamang tersebut diserahkan ke agrowisata dalam keadaan perut yang nyaris putus. Bertahun-tahun ia dipelihara manusia dengan rantai melilit di perut. Kondisi psikologis satwa ini jauh dari kata baik. “Ini bentuk dari perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab,” lanjutnya.

Burung kakaktua jambul kuning dan kakaktua raja juga punya cerita sedih. Burung-burung cantik ini diselundupkan dari Kalimantan ke Jawa dengan disimpan dalam botol air mineral.

Sementara satu dari tiga kasuari merupakan hibah dari orang nomor satu di Jawa Tengah Ganjar Pranowo. ” Kasuari yang ini pemberian dari Pak Ganjar. Pertama kali nempatin Puri Gedeh,” katanya sambil menunjuk kandang Kasuari.

Menurut Bambang, keputusan Ganjar sangat tepat. Pasalnya satwa langka seharusnya ditempatkan pada lembaga konservasi.

Hingga saat ini Agrowisata Sido Muncul tidak memasang tarif untuk para pengunjung. Sebelum pandemi, sebulan bisa dikunjungi 7000 orang. Sabtu dan Minggu merupakan hari libur untuk para satwa. Agrowisata Sido Muncul ingin mengembangkan tempat konservasi tersebut menjadi mini zoo.

Baca juga:  Jalan Sudah Ditinggikan 15 Kali, Pintu Berubah Jadi Jendela

Dokter satwa Agrowisata Mijania Malia mengungkapkan menyembuhkan luka memang lebih mudah dibanding psikis. Mengenali karakter masing-masing satwa pun menjadi kunci.

Sementara di Kelurahan Kedungpane, Mijen, Kota Semarang terdapat penangkaran binturong. Satwa sejenis musang dengan nama latin Arctictis binturong ini sudah rentan punah di habitat aslinya.

CV Bumi Makmur secara resmi menjadi penangkar binturong sejak 2 Maret 2017. Ini merupakan satu-satunya tempat penangkaran resmi binturong di Indonesia yang terdaftar di Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Mulanya, penangkaran ini hanya memiliki 14 ekor binturong. Kini sudah ada 60 ekor satwa pemakan buah-buahan ini jadi penghuni penangkaran milik Aji Wibawa Terta.

Eko Priyanto, pawang binturong, menjelaskan, di masing-masing kandang tercantum nama dan nomor chip setiap binturong. Nomor chip ini sama halnya seperti nomor identitas resmi yang sudah didata oleh pihak BKSD) Jawa Tengah.

Baca juga:  Komitmen Wujudkan Program Anggaran Dusun

Selain nomor chip, binturong juga mempunyai kode seperti F0, F1, dan F2. Kode F0 untuk satwa yang diambil dari alam liar, F1 untuk satwa hasil pengembangbiakan generasi pertama, dan F2 untuk satwa hasil pengembangbiakan generasi kedua. Kode tersebut juga digunakan sebagai tanda boleh atau tidaknya satwa diperjualbelikan. “Yang boleh diperjualbelikan hanya F2. Sedangkan F0 dan F1 dilarang untuk dijual dengan alasan hasil dari alam liar tersebut harus dikembangbiakkan terlebih dahulu,” jelasnya.

Ia mengaku cukup mudah untuk merawatnya. Sehari, seekor binturong dapat menghabiskan dua kilogram pepaya segar. Selain pepaya, seminggu sekali diberi kepala ayam untuk asupan protein.“Selain makan, tiap hari binturong juga dimandikan dengan cara disemprot,” ujar Eko.

Selain dikembangbiakkan, binturong ini juga diperjualbelikan secara legal. Satu ekor dipatok dengan harga puluhan juta rupiah. Menurut Eko, yang beli biasanya dari kalangan menengah ke atas. Sejumlah artis ibukota atau selebgram diketahui pernah membeli binturong. “Rp 30 juta untuk binturong hitam, Rp 45 juta untuk yang abu-abu, itu sudah bersih termasuk surat izin (sertifikat),” tuturnya.  (ifa/mg7/mg8/ria/ton/bas)

Binturong ditangkarkan secara legal oleh CV Bumi Makmur di Kelurahan Kedungpane, Mijen, Kota Semarang. (Aldino Efrilian/Jawa Pos Radar Semarang)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya