alexametrics

Kejahatan Skimming ATM Terus Mencari Mangsa

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Di tengah pandemi Covid-19, pelaku kejahatan terus bergentayangan mencari mangsa. Salah satunya kejahatan penggandaan kartu ATM alias skimming.

Casmonah sekarang bisa tersenyum lega. Wanita 44 tahun ini tak lagi sedih seperti beberapa hari lalu. Saat itu, saldo tabungannya sebesar Rp 2,5 juta tiba-tiba raib. Namun kini pihak bank telah menggantinya. Saldo senilai Rp 2,5 juta telah kembali ke rekeningnya pada Sabtu (12/9/2020) lalu.

Alhamdulillah, saldo saya sudah kembali. Pihak bank mau bertanggungjawab,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (20/9/2020).

Warga Desa Nyamok, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan ini menceritakan kronologi kejahatan skimming yang dialaminya. Terakhir, ia melakukan penarikan saldo pada Senin (31/8/2020) di ATM samping Mapolres Pekalongan. Tetapi, ada notifiksi SMS penarikan saldo sebesar Rp 2,5 juta pada Senin (7/9/2020) pukul 17.34.

“Waktu itu, saya sedang berada di rumah. Saya kaget, kok saldo saya ada yang narik hari itu,” tuturnya.

Awalnya, ia mengira kartu ATM-nya dicuri dan disalahgunakan orang. Ia kemudian mengecek tasnya. Ternyata kartu ATM dan buku tabungan masih ada.

Penasaran, Casmonah lalu mengecek saldo melalui M-Banking. Benar, ada laporan penarikan. Saldonya berkurang. Ia makin gelisah.”Saya bingung, wong saya ndak melakukan transaksi hari itu. Orang rumah juga tidak melakukan,” ujarnya.

Bingung, Casmonah lalu menanyakan kasus itu ke temannya yang bekerja di bank. Temannya mengatakan, itu kejahatan skimming. Dari pencariannya di internet, Casmonah baru mengetahui skimming adalah kejahatan duplikasi kartu ATM dengan cara memasang alat di mesin ATM.”Saya tambah gelisah. Esoknya, Selasa (8/9/2020) saya lapor ke bank,” katanya.

Baca juga:  Bahaya Mengintai ‘Manusia Silver’ Jika Menggunakan Cat Biasa Selama Bekerja

Menurut bank, lanjut dia, sudah ada 20 orang melapor kasus serupa. Atas saran bank, ia mengganti kartu ATM-nya. Kini, kartu ATM-nya sudah berjenis magnetic strip.”Kata bank, kartu saya sebelumnya belum magnetic strip. Jadi, saya menurut saja untuk mengganti dengan kartu jenis itu,” ungkapnya.

Tak hanya Casmonah. Tetangganya, Intan, juga menjadi korban. Namun Intan tak bisa ditemui koran ini secara langsung.

Ketika dihubungi lewat ponsel, Intan menuturkan, saldonya telah kembali. Saldo tabungan Intan sempat terkuras Rp 6,9 juta. Di rekeningnya, hanya disisakan sebesar Rp 140 ribu. Sebelumnya, Intan melakukan penarikan di ATM dekat Mapolsek Kajen.

Ya, di laporan transaksi ada riwayat penarikan tiga kali setelah itu. Rp 2,5 juta dua kali, lalu Rp 1,9 juta sekali. Padahal saya tidak melakukan itu,” ungkap Intan.

Berbeda dengan Casmonah, Intan tak menggunakan M-Banking. Jadi, tak ada notifikasi masuk di hanphone-nya.”Atas saran Bu Casmonah, saya lapor ke bank. Setelah laporan transaksi dicetak, benar tiga penarikan itu ada dalam riwayat transaksi,”  tuturnya.

Baca juga:  Tak Perlu Bus Baru, Transportasi Sekolah Gandeng Angkutan Lokal

Koran ini telah berusaha menghubungi pihak bank untuk mengonfirmasi ini. Tetapi, pihak bank tak memberi respons. Berdasarkan penuturan kedua korban, pemberitahuan terkait pengembalian saldo disampaikan melalui telepon. Kedua korban sudah legawa dan memasrahkan kasus ini kepada polisi.

Sementara itu, dalam satu kesempatan Kapolres Pekalongan AKBP Aris Tri Yunarko mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan kasus itu. Ada puluhan nasabah korban pembobolan ATM bermodus skimming. Bahkan, ada anggota Polres Pekalongan juga menjadi korban. “Kasus ini sedang dalam penyelidikan. Kami bekerja sama dengan ahli IT bank untuk mengungkap kasus ini,” katanya.

Sering Ganti Pin, Hindari ATM Sepi

Apa yang harus dilakukan agar terhindar dari kejahatan pencurian uang dengan modus menggandakan kartu ATM ini? Pakar Teknologi Informasi (IT) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Dr Solichul Huda menjelaskan, jika kejahatan ini sebenarnya bisa dihindari, yakni dengan rajin mengganti Pin dan tidak melakukan transaksi tarik tunai ataupun transfer di anjungan tunai mandiri (ATM) yang sepi.

“Sebenarnya bisa dihindari, caranya adalah tidak menggunakan ATM yang sepi. Misalnya, di pom bensin dan sering-sering mengganti Pin,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Solichul menjelaskan, jika terpaksa menggunakan ATM di tempat sepi, secepatnya pindah ATM lain untuk mengganti Pin. Lebih amannya adalah melakukan transaksi di tempat ramai atau dijaga. Misalnya di kantor cabang bank terkait ataupun di mal.

Baca juga:  Ditinggal Membuat Emping di Dapur, Api di Ruang Tengah Sudah Membesar

“Kalau di pompa bensin, tidak ada yang jaga, lebih baik di kantor bank yang ada ATM-nya, sehingga tidak menjadi korban skimming,” jelasnya.

Menurutnya, pemasangan alat pembaca atau card reader biasanya dilakukan di ATM yang sepi. Selain itu juga dipasang kamera kecil di dekat mesin ATM untuk membaca Pin.”Meskipun pakai chip, tapi yang namanya pelaku juga punya alat ini. Kamera dipasang agar bisa melihat kita memencet Pin,” tuturnya.

Ia meminta agar masyarakat berhati-hati menggunakan ATM. Pengamatan bentuk pada lubang masuk kartu harus dilakukan. Menurut dia, pengguna ATM harus meraba dulu lubang tersebut, jika dirasa ada alat yang dipasang atau diganjal, segera berpindah ATM.

“Dari kasat mata memang tidak terlihat kalau ditambahi alat pembaca, jadi harus diraba dulu. Biasanya alat ini agak maju, tutup Pin yang dipasang bisa aja juga sudah dipasangi kamera. Jadi, tetap harus ditutup tangan,” katanya.

Skimming, menurutnya, sebenarnya adalah tanggungjawab dari perbankan. Kata dia, seharusnya pihak bank melakukan pengecekan mesin ATM secara berkala. “Apakah ada alat yang dipasang selain alat mereka, ini adalah tanggungjawab dari bank,” ujarnya.

Dikatakan, penggunaan mobile banking  juga tidak sepenuhnya aman. Selain pihak bank, juga ada operator yang bisa dibobol oleh orang yang tidak bertanggungjawab. (nra/den/aro/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya