alexametrics

Dari 24 Kamar, yang Dihuni Hanya Satu Kamar

Bisnis Kos Mahasiswa di Masa Pandemi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Diberlakukan sistem kuliah daring selama pandemi Covid-19 membuat para pengusaha kos di sekitar kampus di Kota Semarang merugi. Bahkan penurunan jumlah penghuni kos bisa mencapai 90 persen. Lalu, apa yang dilakukan pengusaha kos-kosan agar tidak terus merugi?

Kuliah daring membuat sebagian besar mahasiswa ‘boyongan’. Sebagian memilih bergabung dengan penghuni kos lain. Namun sebagian lagi memilih mengangkut seluruh barangnya ke kampung halaman. Sebab, perkuliahan bisa dilakukan dari rumah. Di mana pun tempatnya, yang penting memiliki kuota internet.

“Kemarin Juli saya boyongan, ya bagaimana lagi kuliah dari rumah dan tidak jelas kapan bisa kembali ngampus. Jadi mubazir jika harus membayar kos,” kata salah satu mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes),  penghuni Kos Gubuk Kayu, Afsana Noor Maulida kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hal senada disampaikan Sandi, mahasiswa semester 3, Administrasi Bisnis Universitas Diponegoro (Undip).  Dikatakan, sudah hampir setengah tahun, sistem perkuliahan diberlakukan secara daring. Pihak kampus belum dapat memulai kegiatan belajar mengajar tatap muka karena faktor kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 di area kampus.

“Saya sudah dari bulan lalu keluar kos, soalnya dari pada setiap bulan harus tetap bayar padahal gak ditempatin dan sistem perkuliahan juga masih online” ujar Sandi.

Kondisi tersebut tentunya membuat pengusaha kos kelimpungan. Mereka harus memutar otak agar dapur tetap mengepul. Bahkan sebagian harus banting stir karena sudah tidak bisa lagi mengandalkan pemasukan dari usaha kos-kosan

Sugiyanto, pemilik kos Griya Suri Permata Sekaran mengatakan, dari 24 kamar kos yang tersedia, saat ini hanya satu kamar yang masih berpenghuni. Pihaknya terpaksa menerima kos bulanan dari yang sebelumnya hanya menerima kos tahunan. Kerugian pengusaha kos bertambah karena harus tetap melakukan perawatan, seperti biaya kebersihan dan pembayaran wifi.

“Hal itu tetap kami lakukan demi menjaga kualitas kos. Kami juga terpaksa tidak bisa memberikan diskon tarif kos karena listrik, air, telepon saja tidak diskon,” jelas Sugiyanto.

Sri Muto’ati, pemilik kos MHC kawasan Unnes punya cara berbeda dalam menyikapi situasi sekarang ini. Pihaknya tak segan memberikan potongan harga sebesar Rp 500 ribu kepada penghuni kos yang masih bertahan. ”Sebagai gantinya saya juga mencari pekerjaan sampingan dengan bertani, sedangkan suami saya menjadi pekerja bangunan,” katanya.

Baca juga:  Habiskan Rp 2,3 M, Kondisi Taman Lalu Lintas Kini Memprihatinkan

Cara lain yang dilakukan pengusaha kos adalah memasang iklan pada aplikasi atau media sosial. Namun semua terasa percuma karena saat ini hampir semua kampus masih menerapkan sistem pembelajaran daring. ”Kami hanya bisa menunggu keadaan membaik saja,” kata pemilik kos Gubuk Kayu, Kasriah.

Kos mahasiswa di kawasan kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) di Semarang Tengah juga bernasib sama. Seperti kos yang terletak di Jalan Emplak No 12 Semarang. Kos yang memiliki 12 kamar ini sekarang kosong blong alias sama sekali tak berpenghuni. Satu per satu setiap penghuni mulai mengemasi barang dan meninggalkan kos tersebut.  “Dari awal Maret sudah pada keluar satu per satu. Sekarang sudah kosong sejak lebaran lalu,” ungkap Heri, penjaga kos kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Heri menjelaskan, kos yang dikelola meliputi 6 kamar untuk berdua, dan 6 kamar untuk individu.  Kamar kos dilengkapi fasilitas wifi. Sejak ditinggalkan seluruh penghuni kos, untuk menekan biaya perawatan, fasilitas tersebut pun dihentikan.  “Ya, akhirnya seluruh biaya perawatan diirit juga. Kayak pemakaian listrik juga dikurangi, cuma beberapa lampu yang dinyalakan. Wifi pun juga kita putus sementara,” ujarnya.

Hal serupa juga dialami Astrid, pemilik kos di Jalan Sadewa I No 26 Semarang. Meski kondisi kosnya saat ini masih berpenghuni, hal tersebut tidak menjadikannya lancar dalam hal pendapatan.  Rata-rata pembayaran dari penghuni kos  mengalami keterlambatan. Para penghuni minta adanya keringanan, karena kondisi ekonomi yang tidak stabil. Akhirnya, untuk menutupi biaya perawatan, Astrid menggunakan uang tabungannya. “Ya kita coba saling mengerti kondisi satu sama lain saja, saling bantu. Saya gak terlalu memaksakan buat bayar tepat waktu,” katanya.

Astrid juga sempat menerapkan potongan harga untuk seluruh penghuni. Dari biaya awal Rp 600 ribu per bulan menjadi Rp 400 ribu. Kos yang memiliki 13 kamar ini masih disewa oleh sepuluh orang, namun tidak selalu ditempati. Menurut Astrid, mereka tetap bertahan karena di waktu-waktu tertentu masih memiliki keperluan untuk datang ke kampus. Hanya ada satu penghuni yang setiap hari berada di kos lantaran berasal dari luar pulau Jawa.

Potongan tarif kos juga diberlakukan oleh Yuli, pemilik kos di Jalan Poncowolo Timur Raya No 470 Semarang Tengah. Ia mengaku, meskipun masih terdapat penghuni yang menempati kosnya, pendapatan yang diperoleh ikut mengalami penurunan.  “Saya kasih potongan 25 persen dari tarif Rp 600 ribu per bulan. Tapi karena di sini yang kos ada mahasiswa dan pegawai, mulai Agustus kemarin yang pegawai sudah harga normal lagi. Kalau yang mahasiswa masih sampai nanti bulan Desember,” bebernya.

Baca juga:  Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemkot Pekalongan Raih Predikat BB

Disamping itu, Yuli mengungkapkan memang ada beberapa penghuni yang masih menempati kamar kosnya untuk suatu alasan tertentu. Salah satunya Caca, mahasiswi Udinus.  “Kemarin Juni sih sempat mau keluar, berhubung aku lagi magang kuliah, jadi akhirnya malah kepake aja kosnya,” ujar gadis asal Tegal ini.

Beri Potongan hingga Rp 100 Ribu per Bulan

Berbagai upaya dilakukan pemilik kos mahasiswa untuk menekan kerugian selama pandemi Covid-19. Mulai mengurangi biaya operasional, hingga memberikan potongan tarif kepada penghuni kos agar tidak pindah. Ngadiman, pengelola kos mahasiswa “Kos Omahku” di Tembalang, Semarang misalnya. Ia memberikan potongan biaya sebesar Rp 100 ribu setiap bulannya bagi penghuni kos. “Dari 20 kamar yang tersedia, terdapat 9 kamar yang kosong dan satu kamar yang hanya menitipkan barang, sedangkan sisanya masih terisi dan menetap di kosan.” Jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kata dia, kos yang berlokasi di Jalan Tlogosari 3 No 7 Bulusan, Tembalang ini selalu penuh, bahkan kerap menolak calon penghuni. Kini, hampir 50 persen kamar kosong akibat pandemi Covid-19. “Kondisi kos-kosan saat ini secara finansial beda banget dari tahun sebelumnya,” keluh pria 46 tahun ini.

Sama halnya dengan kos putri Wisma Dewi. Siti, pengelola kos menjelaskan, pihak kos juga memberikan keringanan biaya berupa potongan harga sebesar 10 persen dari harga sewa Rp 1,2 juta per bulan untuk kamar ber-AC dan Rp 800 ribu/ bulan untuk kamar non-AC.

“Saya ya sedih, tidak ada pemasukan sama sekali. Biasanya kamar kos penuh di bulan-bulan ini, tapi sekarang banyak yang kosong. Sedangkan listrik dan wifi harus tetap dibayar,” ujar Siti.

Menurut penuturan Siti, kos yang berada di Jalan Tlogosari 3 No 8 Bulusan Tembalang ini memiliki 35 kamar. Akibat pandemi Covid-19, kos yang dikelolanya hanya tiga kamar. Itu pun rata-rata mahasiswa semester akhir.

Siti mengaku, pihaknya tidak menerima penitipan barang kos selama pandemi Covid-19. Bagi penghuni kos yang hendak meninggalkan kos dalam waktu yang relatif lama, diharapkan untuk memboyong barang-barangnya atau menghentikan penyewaanya sementara waktu sampai keadaan kembali normal.

Baca juga:  Dubes RI untuk Afghanistan Hadiri Wisuda Ke-36 Unwahas

“Takut aja ya. Barangkali nanti ada orang yang saya tidak kenal mengaku sebagai teman dari pemilik kamar, terus minta pinjam kunci buat ambil barang. Kami tidak berani mengambil risiko atas keterjaminan barang-barang mereka,” jelasnya

Meski begitu, ada beberapa penghuni kos yang mengambil barangnya dengan menggunakan jasa pemaketan barang agar lebih simpel.

“Biasanya penghuni kos yang berasal dari luar kota atau luar Jawa mengambil barangnya dengan cara paket gitu, ada yang datang ke sini terus kami video call-an untuk memastikan benar atau tidak jika yang mengambil barang itu orang yang dimintakan tolong oleh penghuni kos,” paparnya.

Kondisi ini berbeda dengan kos yang sistem pembayarannya tahunan. Donny, pengelola Kos Putri 18 mengatakan, sejak pandemi Covid-19 ini memang semua penghuni tidak ada yang menempati kamar kosnya. Namun, tidak ada pengurangan jumlah penyewa kos secara signifikan. Dari total 20 kamar, yang saat ini belum terisi hanya dua kamar.

“Untuk pendapatan di masa pandemi saat ini syukurlah secara finansial tidak terlalu mengalami kerugian. Pihak kami tinggal menunggu saja kapan pihak kampus mengadakan perkuliahan tatap muka lagi,” terangnya.

Menyadari kondisi ini, pihaknya memberikan solusi tengah (win-win solution) agar pihak kos dan penghuni kos sama-sama tidak mengalami kerugian yang berarti.

“Para penghuni kos yang sudah membayar DP pada Mei-Juni 2020 dan seharusnya mulai menghuni kos pada Agustus 2020, kami anggap mereka mulai menghuni kos terhitung sejak Januari 2021. Kalau mereka mau titip barang selama bulan Agustus – Desember 2020 kami perbolehkan, asal tidak menginap. Jika ingin menginap ya harus membayar di bulan itu sebagai timbal balik. Kalau cuma ambil barang, seperti buku, laptop atau barang penting lainnya sih nggak papa,” ungkap Donny.

Selama pandemi Covid-19, Donny mengaku tetap rutin merawat dan menjaga kondisi kamar serta barang-barang milik penyewa kos. Ia selalu membersihkan masing-masing kamar, merawat motor, dan sebagainya.

“Sebagai bentuk tanggung jawab, saya tetap mengurus masalah kebersihan dan perawatan kamar maupun barang masing-masing penyewa kos walaupun selama Agustus – Desember 2020 mereka belum menempati kamarnya,” bebernya.(mg5/mg2/mg4/mg1/mg3/aro/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya