alexametrics

Keliling Kampung untuk Hapus Rentenir

Koperasi Tak Pernah Mati

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Koperasi digadang-gadang menjadi soko guru ekonomi Indonesia. Tak banyak koperasi yang eksis dengan anggota hingga ribuan orang. KSPPS Bondho Ben Tumoto dan KSP Sahabat adalah contoh sukses koperasi di era global.

Berdiri sejak tahun 1999, Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Bondho Ben Tumoto hingga kini masih eksis. Bahkan memiliki lebih dari 1800 anggota. Tak hanya eksis, koperasi yang terletak di Kecamatan Gunungpati tersebut juga menorehkan prestasi. Salah satunya yakni sebagai koperasi berprestasi tingkat nasional tahun 2019.

Prestasi tersebut bukannya tanpa alasan. Selain mampu merekrut banyak anggota, koperasi yang semula hanya bernama Bondho Tumoto tersebut diketahui telah memiliki aset sebesar Rp 35 miliar.

Ati Kartikasari, 53, sang ketua berkisah bahwa sebelum sukses seperti saat ini, koperasi rintisannya tersebut melalui perjuangan yang tak mudah. Ia harus meyakinkan masyarakat yang saat itu belum mengetahui apa itu koperasi dan banyak dari mereka yang terlilit rentenir. Oleh karenanya, Ati kemudian terobsesi untuk menghapus praktik riba dari rentenir tersebut.

Ia kemudian berkeliling dari kampung ke kampung, masuk ke komunitas-komunitas serta pengajian, bahkan saat menjemput anaknya yang masih TK ia juga turut mengenalkan koperasi Bondho Ben Tumoto. “Saya memperkenalkan kalau di kampung kita ada BMT. Jadi benar-benar saya keliling dari kampung ke kampung sampai harus menyebrang sungai,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang Sabtu (11/7).

Kantor pertama mereka hanya di sebuah garasi kecil berukuran 3 x 4 meter. Ia menempati garasi tersebut selama sebelas tahun lamanya. Dari tahun ke tahun aset mereka terus merangkak naik. Dari yang semula Rp 4 miliar, Rp 8 miliar, hingga kini sebesar Rp 35 miliar.

Tak berapa lama setelah itu, pihaknya kemudian membeli tanah untuk ditempati sebagai kantor baru. Jumlah karyawan pun mulai bertambah. Dari yang semula hanya dua kini menjadi 13 orang.

Baca juga:  Tenggak Ciu dan Bawa Celurit, Lima ABG Diamankan

Setelah semua prestasi yang telah diraih, Ati bertekad bahwa ke depannya ia ingin koperasi Bondho Ben Tumoto dikenal sebagai koperasi yang peduli kepada masyarakat. Dengan bersinergi bersama Baitulmal, setiap bulan mereka turut memberi santunan 50 paket sembako kepada kaum dhuafa. Selain itu, Ati juga mengikutkan para karyawannya untuk sertifikasi kompetisi serta berbagai diklat.

Penguatan dan pendampingan kepada anggota menjadi salah satu usaha agar modal keuangan koperasi tetap terjaga. KSP Sahabat Semarang misalnya, lebih fokus mendampingi usaha mikro dan pedagang kecil di Kota Semarang. Total ada 1.200 anggota koperasi yang tersebar di tujuh pasar, di antaranya Pasar Jrakah, Karang Ayu, Simongan, Pasar BK, Pasar Sampangan dan beberapa pedagang asongan di Kebonharjo Semarang.

“Meski Covid-19 kita tetap melakukan pendampingan, kegiatan tetap berlangsung namun dengan protokol kesehatan,” kata Ketua Koperasi Sahabat Semarang Teguh Irawan.

Koperasi yang berada di Kelurahan Bendan Ngisor, Kota Semarang ini menawarkan beberapa produk kepada anggotanya. Yakni simpanan sukarela, simpanan berjangka, dan simpanan Lebaran. “Simpan pinjam untuk anggota sampai Rp 2 juta, tanpa agunan. Prinsipnya adalah pembayaran harian, ini mengikuti kemampuan para anggota yang sebagian pedagang, jadi setiap hari jalan,” jelasnya.

Disinggung banyaknya koperasi yang tumbang, ia menjelaskan jika koperasi tersebut tidak kuat dari sisi permodalan. Sementara KSP Sahabat memiliki modal yang berasal dari anggota. “Kalaupun ada pinjaman dari perbankan tidak sampai 20 persen. Mayoritas semua modal dari anggota, yakni dari kegiatan simpan pinjam,” paparnya.

Aset yang dimiliki KSP Sahabat, lanjut dia, tidaklah besar. Hanya sekitar Rp 1,2 miliar. Namun banyak dari anggotanya yang menitip simpanan jangka panjang salah satunya simpanan untuk naik haji. “Untuk Noan Performing Loan (NPL) cukup kecil yakni 3 persen, intinya adalah penguatan pada anggota. Pinjaman pun hanya Rp 2 juta, jika di atasnya ada seleksi yang cukup ketat,” paparnya.

Baca juga:  Orang Tua Pegang Kunci Sukses PJJ

Untuk menjadi anggota, lanjut pria yang akrab disapa Iwan ini, syaratnya adalah memiliki usaha kecil. Selain itu harus menyimpan uang dik operasi selama tiga bulan agar untuk bisa mengajukan pinjaman. “Ada yang Rp 5 ribu ataupun Rp 10 ribu, intinya adalah orang yang menyimpan uang di koperasi ini percaya,” jelasnya.

Koperasi Digital Tidak Jalan

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengembangkan dan mengawasi koperasi di Jawa Tengah. Saat ini jumlah koperasi di Jateng mencapai sekitar 25.000 unit. Tidak semuanya aktif. Program koperasi digital tidak berjalan seperti yang diharapkan

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Jateng Ema Rahmawati mengatakan, pada 2019 pemerintah menutup sekitar 3.000 unit koperasi yang tidak aktif. “Selain itu, banyak bangunan koperasi yang berubah fungsi menjadi bengkel atau rumah. Kami terus melakukan pengawasan dan pendataan,” katanya.

Pembubaran koperasi bertujuan agar pemerintah lebih fokus dalam pembinaan unit yang masih aktif. Harapannya operasional koperasi dapat berjalan sesuai arahan untuk menyejahterakan anggotanya. Bahkan, instruksi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, koperasi yang tidak aktif harus dibubarkan. Koperasi fiktif dan bermasalah akan mempengaruhi keseluruhan industri koperasi yang aktif. “Karena kalau tidak dibubarkan, ini akan mempengaruhi kondisi koperasi secara keseluruhan di Jateng, bahkan Tanah Air, sehingga harus ditegaskan,” ujarnya.

Pemprov juga mendorong pengembangan program koperasi digital. Sayangnya program tersebut tidak semuanya berjalan karena sejumlah tantangan operasional. Selain itu, beberapa koperasi belum memiliki fasilitas yang memadai, seperti komputer dengan kapasitas tertentu. Sumber Daya Manusia (SDM) juga ada yang belum siap, sehingga membutuhkan pelatihan lebih lanjut. “Sudah ada puluhan koperasi melakukan perjanjian nota kesepahaman (MoU) dengan Pemprov Jateng untuk menjadi koperasi digital. Tetapi memang masih ada yang enggan untuk menjalankan sistem elektronik karena tidak mau membuka bentuk bisnisnya kepada publik,” tambahnya.

Baca juga:  GPEI Jabar Adalah Fasilitator, Informan, dan Pelatih bagi Pelaku Usaha

Selain itu, hambatan koperasi digital lainnya adalah beberapa koperasi belum memiliki fasilitas yang memadai, seperti komputer dengan kapasitas tertentu. Sumber Daya Manusia (SDM) juga ada yang belum siap, sehingga membutuhkan pelatihan lebih lanjut. “Gerakan digitalisasi koperasi sangat potensial diterapkan di Provinsi Jawa Tengah. Kami juga terus mendorong agar pemerintah kabupaten dan kota turut merespons positif upaya ini,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang FX Bambang Suronggono mengatakan sektor UMKM Kota Semarang masih bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19. “Kalau dibilang terdampak, semua sektor pasti terdampak. Dalam hal ini kegiatan koperasi dan kawan-kawan pelaku usaha mikro terdampak. Namun kami bersyukur karena di Semarang hanya menerapkan PKM Non-PSBB,”imbuhnya.

Dikatakan Bambang, para pelaku koperasi dan UMKM masih beroperasi dengan menaati aturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM). Sehingga semuanya masih berjalan normal, meski tingkat kenaikan omzet pelaku UMKM hanya naik sedikit.

Bagi koperasi saat ini, pemerintah memberikan subsidi bunga pinjaman. Terutama bagi pelaku koperasi yang kesulitan untuk bertahan. Bunga tersebut untuk membantu dan menjaga likuiditas. Pun untuk menjaga para debitur agar diberi kesempatan untuk relaksasi. Sehingga pihaknya tetap mengakomodir.

Dinkop-UMKM juga meluncurkan Kredit Wibawa lewat BPR Perumda Bank Pasar Kota Semarang. Bank Pasar memberi kredit khusus kepada wirausaha dan koperasi dengan bunga 3 persen. “Mereka diberi penundaan yang berhubungan dengan pokok dan bunganya. Akhir Juni, sudah ada 81 pemohon yang sudah disetujui oleh Bank Pasar,” paparnya.

Dinkop-UMKM Kota Semarang mencatat ada 706 koperasi. Baik dari jenis serba usaha, konsumen dan simpan pinjam. Sementara dari data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, ada 863 koperasi di Kota Semarang. Sebanyak 442 koperasi sudah memiliki Nomor Induk Koperasi (NIK) sementara 421 koperasi belum memiliki NIK. (nor/den/avi/fth/ton)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya