alexametrics

Dikelola Pihak Ketiga, Juni 2020 Uji Coba

Alih Fungsi Terboyo dari Terminal Bus jadi Terminal Barang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang–Pembangunan Terminal Terboyo mulai rampung dan siap digunakan. Rencananya, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang akan melakukan uji coba terminal awal Juni 2020 ini.

Tempat yang sebelumnya merupakan terminal bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) itu, kini telah berubah menjadi terminal barang. Permukaan lahannya lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya. Fasilitas terminal seperti halte, pos, area parkir, kantor pengelola, musala, kios, gudang, dan toilet telah selesai dibangun.

Kasi Angkutan Barang Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang Andreas Catur Ady mengungkapkan, pembangunan Terminal Terboyo telah selesai dan siap digunakan. Meski demikian, kapan beroperasinya belum dapat dipastikan.

“Pengelolaan kami serahkan kepada pihak ketiga. Saat ini, kami menunggu keputusan dari mereka. Awal Juni 2020, kami jadwalkan untuk uji coba terlebih dahulu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Andreas menambahkan, tarif parkir angkutan barang belum ditentukan. Karena itu, pada tahap uji coba, sementara mengacu Peraturan Daerah (Perda) nomor 3 tahun 2012 tentang Retribusi Jasa Usaha. Jika telah efektif beroperasi, tarif parkir ditentukan pihak ketiga.

“Sementara pakai acuan Perda tersebut, yakni Rp 7 ribu per hari. Ke depan, mungkin tarif awal sebesar Rp 10 ribu per delapan jam. Jika dihitung, mungkin tak akan lebih dari Rp 20 ribu per 24 jam. Ini sesuai kajian kami tentang tarif retribusi,” ungkapnya.

Baca juga:  Operasi Zebra Tanpa Sanksi, Hanya Teguran

Menurut Andreas, total luas lahan area Terminal Terboyo 5,5 hektare. Sedangkan khusus untuk area parkir angkutan barang seluas 3,5 hektare. Terminal tersebut digunakan khusus untuk angkutan barang dan angkutan kota Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang.

Area parkir itu cukup untuk memuat 120 truk kontainer. Keberadaan terminal tersebut mendapat respons positif dari pelaku usaha. “Pada Maret 2020 lalu, kami menggelar simulasi parkir di Terminal Terboyo. Dihadiri DPC Organda Angkutan Barang, DPC Aptrindo, juga PT Siba Surya. Mereka merespons positif,” katanya.

Terpisah, Kepala Dishub Semarang Endro P Martanto mengatakan, jika Terminal Terboyo sudah beroperasi, truk dilarang bongkar muat maupun parkir di tepi jalan. Truk juga tidak diperbolehkan masuk kawasan kota.

“Sasarannya truk-truk dari arah Surabaya yang hendak melakukan bongkar muat. Mereka tak boleh masuk kota, harus masuk ke fasilitas parkir barang Terminal Terboyo,” tutupnya.

Baca juga:  Terkesan Masyarakat Semarang, Khusuk dalam Berdoa dan Serius Berpuasa

Pilih Bertahan di Terminal Terboyo

Meski kini Terminal Terboyo tak lagi menjadi tempat singgah bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), para agen tiket bus dan pedagang tak akan hengkang dari sana. Terminal Terboyo hanya akan difungsikan sebagai terminal barang dan angkutan kota Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang.

Ketika wartawan koran ini masuk ke salah satu lapak agen tiket bus, tepat di sebelah pintu masuk Terminal Terboyo, ditemui sang penjaga Kasviyanti, 59. Ia mengaku sudah lebih dari 20 tahun menjadi agen tiket bus AKAP dan AKDP di Terminal Terboyo.

“Sudah 20 tahun lebih saya buka lapak di sini. Pengalihan fungsi Terminal Terboyo dari terminal bus menjadi terminal barang, meski mengancam perekonomian, tetap kami terima. Sebab, ini sudah kebijakan Pemkot Semarang,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski ia menyadari lokasi lapaknya tak lagi strategis, di benaknya belum terbesit niat untuk pindah. Ia memutuskan tetap bertahan di sana. Ia yakin lapaknya sudah dikenal banyak orang.

“Saya hidup dari berjualan tiket bus. Lokasi lapak ini juga sudah dikenal dan memiliki banyak pelanggan. Meski begitu, sejauh ini belum berpikir untuk pindah ke tempat lain, apalagi ganti usaha lain,” tambahnya.

Baca juga:  Manjakan Pengunjung dengan Rasa dan Tongkrongan

Sebagai upaya menambah penghasilan, Kusviyanti menyediakan minuman dan makanan ringan di lapaknya sejak beberapa tahun lalu. Hal itu ia lakukan karena jualan tiket makin sepi.

“Mungkin karena orang lebih memilih naik kendaraan pribadi atau transportasi lain. Apalagi sejak pandemi covid-19, paling tinggi tiga tiket yang terjual,” ungkapnya.

Hal serupa dilakukan Titik, 55. Pedagang makanan itu tetap berjualan di kawasan Terminal Terboyo. Ia belum genap setahun membuka warung makan. Mayoritas pelanggannya, penumpang dan sopir bus.

“Kadang-kadang ada sopir truk barang. Alih fungsi Terminal Terboyo tentu akan berdampak terhadap hilangnya pelanggan-pelanggan saya. Tapi saya akan tetap berjualan di sini,” ujarnya.

Baik Kusviyanti maupun Titik mengaku sudah mulai terbiasa dengan sepinya jualan sejak pandemi Covid-19. Mereka menjadikan situasi pandemi sebagai ajang latihan bertahan hidup. “Sudah terbiasa sepi sejak pandemi. Sejauh ini, kami masih bisa bertahan hidup. Semoga alih fungsi Terminal Terboyo membawa rezeki,” harapnya. (nra/ida/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya