alexametrics

Atasi Penat, Main Tik Tok dan Pass The Brush Challenge

Dokter Primasari Diah Indah Liestiati dan dr Susi Herawati, Garda Terdepan Penanganan Pagebluk Korona

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Tenaga medis menjadi garda terdepan memerangi pandemi Covid-19. Mereka menjadi pahlawan dalam memerjuangkan keselamatan korban virus yang menyerang paru-paru ini. Dua di antaranya, dr Primasari Diah Indah Liestiati SpMK dan dr Susi Herawati MKes

Setiap harinya, dr Primasari Diah Indah Liestiati SpMK bertugas di RSUD Tugurejo Semarang. Sebagai dokter bidang Mikrobiologi Klinik, ia mengemban tugas melakukan pemeriksaan swab. Untuk itu, ia harus ekstra hati-hati lantaran hasil swab menentukan pasien menderita Covid-19 atau tidak.

Bagi Prima, -sapaan akrabnya- sebelum menghadapi pasien yang dicurigai menderita penyakit tersebut, yang terpenting memikirkan diri sendiri dulu. Ia harus memastikan Alat Pelindung Diri (APD) yang dikenakan sudah lengkap dan aman. Barulah ia mantap melangkah memeriksa pasien.

“Perasaan takut dan khawatir pasti ada, manusiawi. Tapi yang penting selama kita mengerti bagaimana cara penularan dan cara pencegahannya maka kita bisa lebih aman,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tak hanya Prima, pastinya keluarga dan lingkungannya sangat mengkhawatirkan keadaannya. Ketika di rumah pun, “Kartini Kesehatan” ia menjaga jarak dengan anggota keluarganya. Kebiasaan memeluk dan mencium anak-anaknya sementara tidak dilakukan. Meski begitu anak-anaknya sangat memahami.

Baca juga:  Gandeng Satpol PP, Awasi Destinasi Wisata

Hingga saat ini, ibu paro baya yang juga menggeluti Make Up Artist (MUA) ini telah memeriksa kurang lebih 50 pasien terduga Covid-19. Proses pemeriksaan pengambilan swab hidung dan tenggorokan dikirim ke laboratorium rujukan B2P2VRP Salatiga. Meskipun pemeriksaan hanya 10 menit, namun tak menutup kemungkinan ia merasakan capek.

Untuk menghilangkan penat, usai bekerja ia menghibur diri dengan bermain aplikasi tik tok. Bahkan, permainan terbaru yang sedang viral pun tak ketinggalan, yaitu Pass the Brush Challenge. Bersama teman-temannya, ia asyik melakukan tantangan ini guna melupakan sejenak pekerjaannya.

“Biasanya nonton film atau tidur, dan yang pasti enggak nonton berita Covid-19 kecuali update jumlah Covid-19. Kalau menghibur diri main tik tok sama teman-teman,” ungkapnya.

Sisi lain menghadapi pendemi ini yaitu ia mengaku pengap dan kepanasan karena tak terbiasa menggunakan APD lengkap. “Wis pokoke enggak enak,” katanya.

Meski begitu, ia tetap memakai hazmat suit demi melindungi diri. Ia berpesan untuk terus berhati-hati dan melakukan pola hidup bersih sehat, terutama memakai masker saat sakit dan ketika di keramaian. Selain itu, mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat secara teratur, mengonsumsi suplemen, tidak merokok, menjaga istirahat yang cukup serta melakukan olahraga secara rutin.

Baca juga:  Waspadai “Kasus Wadas” di Proyek Bendungan Jragung, Warga Menolak Lahan Pertanian Jadi Galian C

“Pandemi ini tidak akan berhenti begitu saja tanpa peran masyarakat. Apalagi sekarang banyak pasien Covid-19 positif tanpa gejala. Saya lihat masih banyak yang keluar di jalanan, jadi kita tetap harus berhati-hati,” pesannya.

Direktur Utama RSUD KRMT Wongsonegoro dr Susi Herawati MKes tak kalah sibuknya selama pagebluk korona. Apalagi dalam penanganan Covid-19 ini, rumah sakit yang dipimpinnya melayani paling banyak pasien setelah RSUP Dr Kariadi. Praktis, tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanganan Covid-19 harus bekerja ekstra keras.

Bagi Susi, kerja keras itu terbayar ketika pasien Covid-19 yang dirawat bisa sembuh. Saat ini, sejumlah pasien korona sudah sembuh dan diizinkan pulang.

“Pasien Covid-19 yang sembuh kita selalu beri semangat. Mereka setiap pagi kita ajak untuk senam pagi. Agar sistem imun mereka tetap kuat melawan virus Covid-19,”kata Susi.

Mereka diajak untuk terus bergerak bersama, bahu membahu satu sama lain. Ia juga tak sungkan untuk memberi semangat. Dengan memasak dan beri makanan bagi karyawan dan tenaga medisnya. Dalam penanangan Covid-19 ini, tak sedikit yang melibatkan Kartini-Kartini Masa Kini, mulai dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya.

Baca juga:  Rak Pot Bunga Solusi Rapikan Tanaman

Ia berharap, di momentum Hari Kartini ini, perempuan akan selalu mampu dan memberi makna. Perempuan menjadi berarti dengan berani mengambil keputusan. “Orang yang memberi arti kepada orang-orang di sekelilingnya,”ujar wanita yang sudah menjabat Direktur Utama RSUD KRMT Wongsonegoro sejak 2012 ini.

Di rumah yang menempati lahan seluas 5,62 hektare itu, Susi membawahi kurang lebih 1.317 karyawan. Dikatakannya, perempuan harus pandai mengembangkan kemampuan yang berbeda. Mindset-nya harus diubah menjadi lebih maju. “Perempuan harus multitasking. Disiplin dalam segala hal, dan berani ambil keputusan,”ujar alumnus Fakultas Kedokteran Unair Surabaya ini.

Ia selalu mengingatkan, bahwa tenaga medis adalah pelayan. Baik untuk pasien mampu maupun tidak mampu. Penambahan sarana dan prasarana juga sebagai sarana pendukung. “Amanat Pak Wali Kota, buatlah rumah sakit sebagus mungkin. Namun tidak mengesampingkan kesejahteraan karyawan dan pasiennya,”tegas perempuan kelahiran 1964 ini. (ifa/avi/aro/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya