alexametrics

Nego di Room, Eksekusi di Hotel

Menelisik Praktik Prostitusi Berkedok Karaoke di Sunan Kuning

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Beberapa hari lalu, Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto dan jajarannya melakukan sidak ke eks lokalisasi Sunan Kuning Semarang yang kini telah berganti menjadi tempat hiburan karaoke. Ada informasi, praktik prostitusi masih berlangsung dengan kedok sebagai Ladies Companion (LC) alias pemandu karaoke (PK). Tim Jawa Pos Radar Semarang pun mencoba membuktikannya dengan menjajal berkaraoke di Sunan Kuning.

Jumat (6/3/2020) malam rintik gerimis membasahi Kota Semarang. Amin dengan Toyota Limonya mengantarkan koran ini menuju kawasan Sunan Kuning (SK) di Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat. Pria paro baya yang sudah menjadi sopir taksi sejak 10 tahun silam ini mengaku sering mengantar penumpang ke eks lokalisasi tersebut. Amin hafal tiap-tiap gang. Paling sering, ia mengantarkan penumpang untuk karaoke di Argorejo Gang 3. Menurutnya, gang ini paling ramai. Tarifnya pun beda. Lebih mahal. ”Tapi semenjak ditutup (lokalisasinya, Red), sekarang sangat sepi,” ujar pria yang kini juga menerima layanan taksi online.

Memang, memasuki kawasan SK, kini tidak lagi dijumpai perempuan dengan pakaian ketat di sepanjang jalan. Tidak ada rayuan genit atau ajakan untuk mampir. Hanya terlihat sejumlah LC bergerombol di beberapa titik saja. Malam itu, sejumlah mobil pribadi terparkir di depan wisma karaoke. Entah itu mobil tamu, atau milik pengusaha karaoke. Di antaranya berpelat nomor AD (Solo) dan AB (Jogja). Pria berseragam juga tampak berdiri menyambut setiap tamu yang datang. Setelah penutupan lokalisasi, LC dilarang berada di depan wisma. Salah seorang ketua RT setempat mengatakan, ini biar bersih.

Kepada koran ini, Amin menceritakan, sejak ditutup, tempat ini memang sudah tidak boleh digunakan untuk ”eksekusi” alias melampiaskan syahwat. Pun dengan cara sembunyi-sembunyi. Pengelola karaoke tidak mau ambil risiko jika ketahuan.  Untuk tujuan ini, biasanya bisa dilakukan dengan mengajak LC pergi ke luar. Koran ini pun mencoba membuktikannya.

Baca juga:  Tak Sabar Manfaatkan Bantaran BKT, Warga Bangun Belasan Lapangan Sepakbola

”Karaoke booooss……,” tawaran pria berseragam di setiap wisma saat koran ini melintas pelan.

Setelah mengelilingi kompleks SK, koran ini menjajal salah satu tempat karaoke. Ada dua perempuan di depannya. Seorang pria yang kemudian diketahui sebagai operator langsung memandu koran ini ke room. Cukup luas. Ukurannya sekitar 6×4 meter. Di dalamnya terdapat sofa usang, meja yang tak kalah usang, dan kamar kecil (toilet) dengan pintu geser.

Untuk fasilitas karaoke, digunakan LCD proyektor dan sejumlah sound system. Operator berada di ruang belakang dengan lubang ukuran 50×30 cm untuk berkomunikasi, memasukkan lagu ke daftar putar.

Mengenai harga, terbilang murah. Satu jam untuk room-nya saja dihargai Rp 50 ribu. Sementara untuk LC, tamu harus membayar Rp 70 ribu untuk ditemani menyanyi setiap 60 menit.

”PK-nya berapa bos? Dua?” pria bertopi itu menawari. ”Minumnya apa?” tanyanya lagi.

Tidak lama, seorang perempuan bertinggi sekitar 165 cm mengajak koran ini berjabat tangan. Sejurus, ia duduk di antara tim Jawa Pos Radar Semarang. Rokok dinyalakan. Tubuhnya kencang. Dibalut kaos pendek dan rok mininya. Inisial nama LC itu LD. Usianya 32 tahun. Ia terlihat semakin seksi dengan sendal tali gladiatornya. Koran ini pun mulai bernyanyi bersama ibu dua anak tersebut. Ini yang dia lakukan selama bernyanyi.

Tidak lama, seorang LC menyusul. Kali ini, dengan tubuh lebih kecil. Perempuan yang mengaku kelahiran 1996 ini memakai gaun pendek berbahan broklat warna biru. Berbehel. Inisial namanya JCK.

Kepada koran ini, ia mengaku sudah bekerja sejak 2018. Sejak lokalisasi SK ditutup, diakuinya berubah layaknya kompleks mati. ”Jadi sepi semenjak mbak-mbaknya pergi. Padahal dulu di sini ada pemeriksaan juga untuk HIV. Malah bahaya ya, karena sekarang pada ke jalan-jalan,” ujarnya berbasa-basi.

Baca juga:  Kapasitas 22 Penumpang, Angkutan Feeder Sepi Peminat

JCK tidak memungkiri, ada LC yang dapat dibooking keluar. Harganya tergantung dengan kesepakatan.  Namun, diakui, tidak semua LC dapat diajak berkencan. JCK mengatakan, banyak LC yang pilih-pilih. Salah satu pertimbangannya adalah keamanan. Sebab, tidak ada yang menjamin ketika mereka diajak berkencan di luar.

”Saya sering diajak juga sama tamu. Tapi saya sering menolak. Saya bilang, tidak bisa,” tegasnya.

Meski menolak, biasanya ia akan merekomendasikan teman untuk ditanya kesediaannya diajak keluar. Masalah nego, ia menyerahkan kepada tamu dengan LC bersangkutan.

JCK sendiri tidak dapat menemani tamu kencan di luar dengan alasan takut ketahuan mami. Sedangkan untuk menemani menyanyi saja, ia dibatasi waktu. Ini terkait untuk setoran. ”Ini kalau saya telat pulang, nanti jamnya dihitung nambah. Nambah setoran juga,” ujarnya.

JCK memang bukan LC yang stay di tempat koran ini berkaraoke.  Meski demikian, ia memberikan nomor handphone kepada koran ini. Ia juga sempat memancing pembicaraan untuk pergi bersama di lain waktu.

Hal senada diungkapkan LD. Ia menegaskan, memang tidak semua LC menerima setiap tawaran tamu untuk diajak kencan ke hotel. “Tidak semua mau tergantung dari LC-nya sendiri,” kata LD yang mengaku berasal dari Kabupaten Pati.

Perempuan yang menjadi LC di wisma karaoke NN ini mengaku berkali-kali diajak tamunya untuk menginap di hotel usai karaoke. “Tetapi saya enggak mau,” tegas LD yang baru setahun bekerja sebagai LC di kompleks Sunan Kuning.

Dari pengakuannya, ia jarang menerima ajakan tamu tersebut. Alasannya, hanya takut. “Kalau yang lain ada yang mau,” ujarnya.

Informasi darinya, tarif untuk sekali kencan di hotel pun bervariasi. Mulai Rp 300 ribu sampai Rp 700 ribu. Tergantung bagaimana pelanggan berkomunikasi dengan LC.

Baca juga:  Kunjungi Puskesmas Berprestasi, Atalia Ajak Masyarakat Tekan Stunting

Memang tidak mudah menemukan LC yang bisa diajak berkencan. Salah seorang pelanggan SK, sebut saja Hilman, baru bisa mengajak kencan setelah dua kali datang dan bernyanyi dengan LC yang sama. Kepada pengelola yang sudah akrab pun, ia kesulitan ketika meminta dicarikan LC yang dapat diajak kencan.

Sepurane Mas, aku ora iso nggolekke nek kui. Dinego dewe wae ning njero,” ujarnya menceritakan ketika meminta pengelola mencarikan perempuan untuk diajak berkencan.

Memang, tidak semua LC dipastikan dapat diajak berkencan. Ia menduga, harus akrab dan cocok terlebih dulu, LC baru bisa diajak melanjutkan kesenangan di kamar. Barangkali juga alasan keamanan. Mengenai harga, untuk LC yang dapat berlanjut, tergantung kesepakatan. Tapi, ia ceritakan, tidak dapat dilakukan di tempat. Harus mencari hotel di luar kawasan SK.

Aldi, sopir taksi yang mengantarkan koran ini pulang mengatakan, biasanya para tamu SK melakukan eksekusi di Hotel H tak jauh dari SK. Beberapa di antaranya, ia menyebut, hotel di sekitaran Semarang Barat. ”Sering juga dapat orderan dari SK ke sana,” ujar pria asal Mijen Semarang ini.

Pengamatan di room karaoke, memang sudah tidak ada lagi kamar-kamar untuk bertransaksi prostitusi. Wisma karaoke hanya berisi room, kamar mandi, dan ruang operator. Untuk bertransaksi prostitusi di dalam room sendiri juga susah. Karena ruang operator dan room untuk karaoke hanya disekat harplex dengan jendela untuk pemesanan lagu.

Satu wisma rata-rata berisi 3 – 4 room karaoke saja. Adapula yang lebih, itu pun sangat jarang. Minuman keras (miras) yang ditawarkan juga tidak beragam. Hanya ada bir dan chongyang. Jumlah lagu juga tidak komplit. Beberapa request lagu dari tamu kerap tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan koleksi lagu di tempat karaoke yang koran ini kunjungi. (tim)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya