alexametrics

Begini Kondisi Pasar Johar Baru setelah Direvitalisasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Revitalisasi Pasar Johar Baru sudah hampir selesai. Progresnya sudah 99 persen. Artinya, jika pada 2020 akan difungsikan untuk aktivitas jual beli, kondisi bangunan sudah siap.

REVITALISASI Pasar Johar baru meliputi dua bangunan yang terpisah, yaitu bagian utara dan tengah. Jika difungsikan semuanya, bisa menampung hingga seribu pedagang. Untuk masing-masing bangunan Pasar Johar Baru, saat ini sudah dilengkapi kios-kios yang nantinya bisa digunakan langsung oleh para pedagang.

Jika dilihat di dalam bangunan saat ini kondisinya sangat berbeda. Masing-masing kios terbuat dari kayu yang sudah dipernis warna cokelat. Kesan klasik sangat terlihat. Selain itu, tiang-tiang penyangga atap bangunan yang dulunya terlihat lapuk, kini sudah direvitalisasi kembali. Tetap sesuai bentuk aslinya, namun terlihat elegan dengan balutan cat berwarna putih. Untuk instalasi elektrikal pun juga sudah terpasang rapi. Berjajar di atas masing-masing kios.

Sekretaris Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang M Irwansyah mengatakan, jika dalam proses revitalisasi bangunan Pasar Johar Baru setelah peristiwa kebakaran beberapa tahun yang lalu, memang memiliki kerumitan tersendiri. Hal itu dikarenakan Pasar Johar Baru merupakan bangunan cagar budaya. Sehingga harus benar-benar hati-hati dan melalui perhitungan matang dalam menanganinya. “Seperti membuat kerajinan tangan, awalnya sangat rumit dalam merevitalisasi bangunan ini,” ujar Irwansyah, kemarin.

Sehingga ketika hendak dilakukan revitalisasi, Pemkot Semarang awalnya mempelajari terlebih dahulu bagaimana struktur bangunan sebenarnya.

Baca juga:  Tak Ada Pengundian Ulang, Pedagang Pasar Johar akan Kembali Ditata

“Bangunan Pasar Johar, baru kita ketahui jika memang didesain yang sangat pas untuk wilayah tropis. Terbukti dengan banyaknya lubang udara baik itu di atas maupun samping, jadi tidak ada rasa panas di dalamnya,” katanya.

Adapun kondisi di dalamnya saat ini masing-masing kios pedagang tetap dibuat berjajar. Tidak menghilangkan posisi aslinya. Hanya saja, untuk kios memang dibuat seragam serta warna yang sama.

Dengan warna yang dipilih tersebut tentunya menghilangkan kesan kumuh dan menonjolkan kesan klasik, menyesuaikan Pasar Johar Baru sebagai bangunan cagar budaya. Untuk cat dari semua tembok dan tiang penyangga berwarna putih. Sedangkan lantai juga tidak mengurangi kesan klasik, tetap digunakan tegel polos. Meski begitu ada yang berbeda dari bangunan sebelumnya, yaitu ditambah jalur khusus disabilitas di sisi utara bangunan tengah.

Kelengkapan lain yang sudah ditambah, yaitu ganset, sistem drainase yang baik, Alat Pemadam Kebakaran Ringan (APAR), dan dilengkapi CCTV di setiap sudut bangunan. Kantor pengelola pasar ditempatkan di lantai dua. Menghadap ke alun-alun Johar yang kini juga tengah dibangun.

Untuk ventilasi juga tidak meninggalkan kesan klasik. Dibuat menggunakan bahan dasar kayu jati, serta dipernis warna cokelat. Di beberapa sisi ventilasi juga diberikan sentuhan kaca bening.

Nantinya sebelum benar-benar ditempati terlebih dahulu akan dilakukan simulasi penempatan pedagang. Juga bagaimana pedagang nanti memperlakukan bangunan cagar budaya tersebut. “Kita akan berikan manual book, supaya pedagang tahu bagaimana memperlakukan bangunan ini sesuai kaidah bangunan cagar budaya,” tuturnya.

Baca juga:  Utamakan Mading Tiap Kelas

Ada satu hal nantinya yang harus benar-benar diperhatikan oleh pedagang, yaitu dilarang memaku setiap tembok bangunan cagar budaya. “Itu larangan, juga nanti pedagang dilarang menambah asesoris yang membuat kesan bangunan ini menjadi kumuh,” ujarnya.

Aturan-aturan tersebut berfungsi untuk melindungi bangunan cagar budaya Pasar Johar Baru supaya tetap lestari dan tidak kehilangan estetika. “Karena bahannya FRP (Fibreglass Reinforced Plastics), tidak boleh dipaku, jadi hal-hal yang pedagang harus peduli,” katanya.

Ia berharap, setelah selesai dibangun, Dinas Perdagangan juga ikut memberikan edukasi kepada para pedagang. Bagaimana mereka memperlakukan bangunan cagar budaya ini dengan baik. Dengan kondisi seperti saat ini, diyakini akan semakin banyak pengunjung yang datang ke Pasar Johar Baru.

“Sehingga perilaku pedagang nantinya juga disesuaikan untuk menjaga dan tidak sembarangan menambah asesoris di lapaknya atau di kiosnya,” tuturnya.

Meski begitu, dari pembangunan dua gedung Pasar Johar Baru ini satu hal yang masih belum dilakukan, yaitu belum dilengkapi titik parkir kendaraan untuk pengunjung. Adapun anggaran yang digunakan untuk pembangunan dua gedung cagar budaya tersebut sebesar Rp 144 miliar.

Kontraktor Pelaksana dari PT Nindya Karya (Persero) Ardiyanto Fikurnianto menjelaskan, dalam merevitalisasi bangunan Pasar Johar Baru, yakni dalam pengerjaan pondasi, di mana bangunan ini sudah ada, sedangkan jumlah kolom sangat banyak, sehingga kita harus gali satu persatu. Hal lain yaitu kondisi muka air tanah di sekitar bangunan yang dinilai cukup tinggi. Awalnya, kondisi ini mempersulit dalam mengerjakan bagian pondasi gedung.

Baca juga:  Fungsi Resapan, Cadangan Air, hingga Objek Wisata

“Sehingga kebutuhan pompa saat itu harus kita sesuaikan dengan jumlah yang kita gali,” tuturnya.

Setiap titik pondasi saat ini juga sudah diperkuat dengan 4 titik micropellet.  Fungsi micropellet ini bisa menahan gedung dari gempa. “Kita sudah merencanakan dalam merevitalisasi bangunan ini sesuai dengan ketentuan SNI yang berlaku, dan beban yang diterima gedung ini kita sudah uji dan perhitungkan,” katanya.

Bangunan yang direvitalisasi meliputi Johar Utara dan Johar Tengah. Untuk bangunan utara meliputi lantai dasar dan lantai atap. Begitu juga bangunan bagian tengah. “Perihal izin dari balai cagar budaya, setiap pekerjaan yang berkaitan dengan visualisasi cagar budaya kita harus benar-benar mendapatkan izin,” ujarnya.

Terkait kapan penempatan pedagang? Dinas Perdagangan Kota Semarang merencanakan di awal 2020. Sebab, dinas masih menunggu aturan yang harus ditaati oleh para pedagang nantinya. Termasuk rekomendasi jumlah pedagang dan jenis dagangan yang bisa masuk ke bangunan Pasar Johar yang baru.

“Kami akan koordinasikan terlebih dahulu, karena bangunan cagar budaya memiliki spesifikasi tertentu, termasuk cara pemeliharaannya dan zonasi. Selain itu, diperhatikan pula beban yang diterima bangunan nanti ketika memasukkan pedagang ke dalamnya,” tuturnya. (ewb/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya