alexametrics

Belum Ada Shelter, Lepas Hewan yang Sudah Diobati

Suka Duka Para Relawan Hewan Terlantar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Banyaknya kasus penganiayaan hewan, membuat Semarang Animal Defender (SAD) lebih fokus kepada pengobatan hewan yang terluka, misalnya kucing dan anjing yang ada di pasar ataupun perkampungan. Seperti apa?

KUCING dan anjing menjadi salah satu hewan yang sering dilukai manusia. Mulai yang sengaja disiksa, diguyur air panas, dilempar batu, bahkan ada yang sampai memotong salah satu organ tubuh dari hewan yang menjadi sahabat manusia ini.

“Biasanya kami dapat laporan dari Facebook, kemudian kami tindak lanjuti dengan mencari hewan tersebut untuk diobati,” kata penggagas SAD, Duty Sanchez kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

SAD yang baru berdiri setahun terakhir, lanjut Duty, adalah komunitas yang anggotanya dari berbagai komunitas pencinta binatang di Semarang. Kelompok ini bekerjasama dengan beberapa klinik hewan, jika menemukan hewan yang terluka parah dan tidak bisa diobati secara on the spot.

“Ada juga dari klinik hewan yang memberikan pengobatan. Kalau lukanya ringan, kami obati di tempat, kemudian kami lepaskan. Kalau parah ya dibawa ke klinik sampai sembuh,” tuturnya.

Selain menyelamatkan hewan yang terluka, lanjut Duty, SAD juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak menyakiti hewan. Intinya adalah jangan menyakiti atau melukai hewan walaupun tidak suka. “Hewan dan manusia adalah ciptaan Tuhan, meskipun itu kucing liar. Ya biarkan hidup, jangan disakiti, disiksa ataupun sampai dibunuh,” ucapnya.

Baca juga:  Skill Ada, Tak Diimbangi Alat Memadai, Hasilnya Tak Maksimal

Ia bercerita, beberapa waktu lalu menolong kucing yang kakinya ditebas seseorang sampai putus. Belum lagi temuan kucing yang ekornya dipotong di Pasar Jatingaleh Semarang. Kekerasan terhadap kucing ataupun anjing ini, terkadang dilakukan karena emosi sesaat oleh manusia.

“Kasusnya mungkin bisa mencuri makanan atau yang lainnya sampai mereka disiksa. Tapi Alhamdulillah, kucing-kucing bisa selamat, bahkan yang di Gang Petek, kami namakan Bakoh,” tuturnya.

Dana untuk mengobati atau menolong hewan, lanjut dia, didapatkan dari dana sukarela para anggota SAD. Intinya adalah sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Ia mengaku tidak bisa membawa pulang hewan yang dilukai tersebut, lantaran SAD belum memiliki shelter khusus. “Sebenarnya pengen kami bawa pulang, kalau ada hewan yang dilukai. Namun karena keterbatasan tempat, tidak bisa kami lakukan. Apalagi SAD belum memiliki shelter,” tambahnya.

Baca juga:  Habiskan Rp 109 Miliar, Seperti Ini Penampakan Flyover Ganefo Mranggen

Disinggung kecintaannya terhadap binatang, Duty bercerita, dahulu ketika dirinya bekerja di salah satu kafe, ada seorang karyawannya yang membawa kucing dari rumah untuk tinggal di kafe tersebut. “Dari situlah ada rasa sayang. Dan baru tahu, jika kucing ini banyak kisahnya. Termasuk Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga memiliki kucing,” tuturnya.

Semakin kesini, kecintaannya terhadap binatang semakin tinggi. Baginya kucing ataupun anjing memang ditutun oleh Tuhan untuk dekat dengan manusia agar manusia membagikan sedikit makanan. “Seperti ilmu tabur tuai, siapa yang menanam kebaikan, pasti akan ngunduh kebaikan juga. Termasuk terhadap binatang. Sebagai manusia kita harus hidup berdampingan dengan alam dan isinya,” pungkasnya.

Berbeda dengan Dyah Ayu Wika, pendiri Komunitas Hibah Kucing Magelang. Sejak kelas 6 SD, Dyah sudah senang menolong kucing-kucing yang terlantar. Dia sering membawa pulang anak kucing yang dijumpainya di jalan.

“Kasihan. Sudah nggak punya rumah, cari makan susah, eh masih kena musibah, seperti tertabrak kendaraan dan bisa saja sakit,” kata Dyah mengungkapkan alasannya kerap mengadopsi kucing jalanan.

Baca juga:  Keluhkan Kabel Tidak Rapi

Pada 15 November 2018, tekad menyelamatkan kucing terlantar semakin kuat. Dyah mendirikan Komunitas Hibah Kucing Magelang yang menggunakan grub Facebook. Saat ini, jumlah anggotanya mencapai 4.000-an.

“Di situ, bisa open adop kucing-kucing jalanan yang tak bertuan. Dan kalau menemukan yang sakit, diobati dulu. Setelah sehat baru open adop,” ujar warga Kedungsari, Kota Magelang itu.

Soal biaya pengobatan, dipikul bersama para anggota. Ia selalu yakin, bahwa masih banyak yang akan membantu. Termasuk bekerjasama dengan para dokter hewan, di antaranya ada yang memberikan pelayanan gratis.

“Kami open donasi untuk biaya pengobatan kucing jalanan atau terlantar. Ada open adop kucing jalanan sama ada steril untuk kucing betina yang ada di jalanan yang tidak bertuan,” imbuhnya.

Program lain dari komunitasnya ialah streetfeeding. Kegiatannya memberi makan kucing-kucing liar seperti di jalanan dan di pasar tradisional. “Kegiatannya setiap seminggu sekali.”

Perempuan 36 tahun ini berpesan kepada masyarakat, agar tidak membuang anak kucing. “Please jangan buang kucing, apalagi yang masih kecil. Belum bisa cari makan sendiri,” pintanya. (den/put/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya