alexametrics

Dihantui Banjir Sungai Beringin

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG Memasuki musim penghujan, bencana banjir mulai menghantui warga di kanan-kiri aliran Sungai Beringin, Semarang. Sungai yang membentang dari wilayah Mijen hingga ke laut Jawa sepanjang kurang lebih 20,86 km itu memang rawan meluap. Hampir setiap musim penghujan, sungai selalu murka. Apalagi jika curah hujan tinggi, membuat debit air melimpas hingga menjebolkan tanggul. Misalnya, di Jalan Kuda Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, dan Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu.  Imbasnya membuat ratusan rumah warga tergenang.

PENYEMPITAN SUNGAI: Aliran Sungai Beringin mengalami penyempitan sebelum hilir sungai. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENYEMPITAN SUNGAI: Aliran Sungai Beringin mengalami penyempitan sebelum hilir sungai. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Data Jawa Pos Radar Semarang, pada November hingga Desember 2018 lalu, beberapa kali sungai ini tak sanggup menahan debit air yang tinggi. Selain karena tumpukan sampah, sungai juga mengalami sedimentasi tinggi. Aliran sungai menyempit dan tidak lancar. Tangul di kanan-kiri sungai juga rawan jebol.

“Ketar-ketir kalau musim hujan. Apalagi kalau hujan deras sampai dua jam lebih, pasti sungai itu meluap. Ditambah kalau daerah atas juga hujan secara bersamaan,” kata Romadhon, warga RT 3 RW III Kelurahan Mangkang Wetan.

Tahun lalu, dalam sebulan sedikitnya dua sampai tiga kali rumahnya terendam banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Beringin. Banjir setinggi 50 sentimeter hingga satu meter masuk ke rumahnya. Kebetulan rumah pria berusia 36 tahun ini hanya berjarak 10 meter dari bibir Sungai Beringin. “Kalau hujan, barang-barang berharga dimasukkan ke loteng, motor diungsikan agar kalau air datang sudah siap. Biasanya kalau banjir juga menyisakan lumpur,” tuturnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Munandiroh, warga Mangkang Wetan RT 5 RW 3. Dekatnya jarak rumah dengan tanggul, membuat dirinya selalu waswas setiap kali hujan deras mengguyur.

Baca juga:  Tanggul Bocor, Mangkang Wetan Kembali Terendam

“Jarak rumah saya dengan tanggul hanya sejengkal. Kalau sungai meluap, rumah saya pasti kebanjiran,” katanya.

Karena itu, ia berharap pemerintah segera melakukan normalisasi Sungai Beringin “Harus segera dinormalisasi, khawatir tanggul kembali jebol. Sedimentasi sungai juga sudah parah,” keluh Guru SMP Hasanuddin Semarang ini.

Koran ini sempat melakukan susur sungai mulai Jembatan Pantura di Kelurahan Mangkang Wetan hingga ke hilir sungai dengan jarak sekitar hampir 5 km. Pengamatan di lapangan, sedimentasi terlihat sangat tebal di wilayah Mangkang Wetan RW III hingga membuat sungai ini terlihat sangat dangkal. Aliran sungai tidak sepenuhnya lancar akibat sedimentasi. Bahkan hanya menyisakan aliran beberapa meter saja dari lebar sungai. Selain tanah, juga ada tumpukan sampah dan tanaman liar yang tumbuh di tengah sungai. Mirisnya lagi, letak tanggul sangat mepet dengan perumahan warga.  Jaraknya hanya sejengkal. Bahkan ada tembok rumah milik warga yang menempel pada bibir tanggul.

Beberapa titik tanggul yang jebol di RW III tampak sudah diperbaiki. Untuk memperkuat tanggul, pada bagian yang jebol diperkuat dengan tumpukan karung berisi pasir. Di RW III, tedapat satu jembatan yang menurut warga sekitar menjadi salah satu faktor penyebab banjir karena sangat rendah. Namanya Jembatan Kalisasak. Rencananya jembatan ini akan dibongkar sambil menunggu jembatan baru yang dibangun Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum selesai.  Jembatan baru itu dibangun tak jauh dari jembatan lama  dengan anggaran Rp 3,6 miliar lebih. Pembangunannya sudah dimulai 22 Juli lalu, dan ditargetkan selesai pada 18 Desember mendatang.

Baca juga:  Korban Banjir Mulai Terserang Penyakit Kulit dan Hipertensi

 

Sungai juga terlihat dangkal. Di kanan kiri aliran sungai terdapat pulau-pulau dengan ukuran yang cukup besar, membuat aliran sungai terhambat. Sungai Beringin sendiri melewati  wilayah tujuh RW di Kelurahan Mangkang Wetan. Masuk RW VI, kondisi sungai masih sama. Masih banyak sedimentasi membentuk pulau di tengah sungai. Tanaman liar tumbuh subur di atasnya. Ternak warga sekitar seperti kambing dan bebek mendapat santapan gratis di pinggir sungai. Satu kilometer menuju ke hilir sungai, kondisi sungai mulai berubah. Jika di RW III lebar sungai sekitar 7-10 meter, di RW VII sungai mulai menyempit, bahkan lebarnya tak lebih dari 5 meter.

Perahu nelayan di RW VII yang terkenal dengan daerah Ngebruk ini pun banyak yang karam karena sungai dangkal. Lebar sungai sampai ke hilir hanya sekitar 4-5 meter saja. Karena terjadi penyempitan yang disebabkan oleh bangunan milik warga dan sendimentasi. Jika banjir, sungai di kawasan ini sering meluap, menggenangi wilayah perkempungan Ngebruk. “Kondisi sungai memang terjadi penyempitan, sehingga terkadang membuat daerah kami sering terendam banjir,” kata Ketua RW VII, Kelurahan Mangkang Wetan, Sumadi.

Dikatakan, beberapa rumah warga telah dilakukan pembebasan lahan oleh Pemerintah Kota Semarang demi lancarnya normalisasi. Per meter, tanah dan bangunan milik warga dihargai Rp 750 ribu oleh tim pembebasan lahan. “Total ada 25 bidang yang dibebaskan, letaknya ada yang persis di samping tanggul. Ada juga lahan PT IPU yang dibebaskan. Dari jumlah tersebut, 19 rumah sudah dibongkar. Sisanya enam rumah belum dilakukan pembongkaran,” tuturnya.

Baca juga:  Usai Evakuasi Mayat, Semalaman Tidak Doyan Makan

Menurut dia, warganya sudah sadar akan pentingnya normalisasi. Warga trauma dengan banjir bandang yang kerap terjadi. Ia pun mendesak agar normalisasi sungai segera dilakukan. “Kabar terakhir, pengerjaannya setelah BKT (Banjir Kanal Timur) selesai, saya harap bisa lebih cepat. Warga sudah setuju dilakukan normalisasi,” paparnya.

Lurah Mangkang Wetan Sugiman mengatakan, normalisasi Sungai Beringin merupakan kewenangan pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana. “Dari pemerintah kota, kewenangannya pada pembebasan lahan. Saat ini sudah hampir klir,” katanya.

Sugiman mengaku, normalisasi Sungai Beringin memang bisa dibilang mendesak. Pasalnya ribuan rumah yang ada di Kelurahan Mangkang Wetan, berpotensi terendam jika sungai ini murka.

Mantan Lurah Mangunharjo ini menjelaskan, ada sekitar tujuh titik tanggul yang rawan jebol. Titik tanggul ini ada di wilayah RW III, IV, V, VI, dan VII. Pihak kelurahan menyiapkan karung dan material lainnya untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu tanggul di wilayahnya jebol. “Sebulan terakhir, kami melakukan kerja bakti masal untuk membersih sungai dan aliran lainnya. Pembersihan darurat juga telah dilakukan oleh Dinas PU Kota Semarang di area Sungai Beringin dengan menggunakan alat berat,” ujarnya. (den/cr2/cr1/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya