alexametrics

Pasang Jaringan Tanpa Izin, Ada yang Ditolak Warga

Kabel Fiber Optic Provider Internet Bergelantungan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Zaman yang serbainternet  ini, mendorong banyak perusahaan provider masuk ke berbagai pelosok untuk memperluas jangkauan. Akibatnya, kabel  fiber optic kini banyak bergelantungan di berbagai tempat di perkampungan. Tak semua warga setuju dengan adanya kabel-kabel tersebut, karena kehadirannya  banyak yang tidak melalui izin warga terlebih dahulu. Perusahaan provider sepertinya menghindari cost social yang lebih tinggi, dengan memasang langsung kabel tanpa izin warga. 

Keberadaan kabel-kabel provider internet saat ini banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Apalagi di tengah kota yang terlihat banyak kabel provider bergelantungan tidak tertata. Tentunya kondisi ini sangat mengganggu pemandangan kota. Tak hanya di tengah kota, perusahaan provider kini juga berinvasi hingga ke pinggiran Kota Semarang. Salah satunya di wilayah Kecamatan Gunungpati. Saat ini banyak provider internet masuk sampai ke perumahan-perumahan. Tak sedikit warga yang melakukan penolakan terhadap keberadaan jaringan kabel fiber optic dari provider tersebut.

Seperti yang terjadi di Perumahan Gading, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati beberapa waktu lalu. Kehadiran salah satu provider milik BUMN justru mendapat penolakan. Masyarakat setempat menilai jika keberadaan provider internet akan menambah estetika lingkungan menjadi tidak tertata. “Karena kalau banyak kabel kan pemandangannya kurang bagus,” ujar Hendro Tri, 34, warga Perumahan Gading RT 7 RW 3 Ngijo, Gunungpati.

Apalagi sebelumnya, di perumahan tersebut juga ada pemasangan tiang provider internet dari perusahaan lain yang tidak melalui proses izin warga terlebih dahulu. Dari kejadian itu, akhirnya warga sepakat untuk memperketat setiap pemasangan jaringan kabel provider internet. “Sebelumnya tidak ada izin warga, tahu-tahu tiang provider sudah dipasang semua. Sebelumnya warga juga sempat bingung,” ujar warga lain, Rusmanto Budi, 37.

Hingga beberapa waktu lalu masuklah sebuah provider internet milik BUMN ke perumahan tersebut. Bahkan beberapa tiang provider juga hampir terpasang. Namun akhirnya bisa dicegah oleh warga. Pihak provider kemudian diminta untuk membawa pergi kembali tiang-tiang kabel internet yang hampir terpasang. “Untung sudah konangan dulu,” katanya. Alasan penolakan warga, lanjut dia, lantaran keberadaan tiang-tiang kabel provider tersebut sangat mengganggu lingkungan. Apalagi pemasangan tiang itu tidak memperhatikan estetika. “Kalau ditanam di dalam tanah silakan, namun para provider itu tampaknya tidak berani karena investasinya memang besar,” tuturnya.

Saat ini, di perumahan itu, selain tiang listrik ada lebih dari 15 tiang provider internet yang sudah tertancap. Kondisi tersebut sebenarnya dikeluhkan oleh warga. Dikarenakan tidak ada izin lebih dulu.

“Dulu yang pertama, tidak pernah ada izin tiba-tiba langsung pasang, apalagi pemasangannya seenaknya, main tancap saja,” keluhnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua RT 7 RW 3, Sugito Chandra. Pihaknya sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada warga. “Kalau warga mengizinkan ya silakan dipasang, kalau tidak ya mohon maaf. Semua keputusan ada di warga,” kata Sugito.

Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Semarang Ulfi Imron Basuki menjelaskan jika sampai saat ini tidak pernah ada izin tentang pemasangan tiang provider internet tersebut ke pihaknya.

“Kita tidak pernah ada izin pemasangan tiang tersebut, karena yang kita tangani itu yang izin pemasangan tower,” ujar Ulfi.

Dikatakan Ulfi, selama ini memang belum ada regulasi di DPMPTSP Kota Semarang yang menjelaskan tentang izin pemasangan tiang provider internet.

Public Relation G Media Semarang, Yunita Sibelia, pemasangan kabel fiber optic atau jaringan internet saat ini telah masuk di perumahan. Sistem yang digunakan sendiri memakai tiang untuk jaringan fiber optic di kawasan perumahan. “Kalau G Media masih memakai tiang, belum sistem tanam atau ducting,” kata Yunita Sibelia.

Untuk jaringan G Media sendiri, lanjut wanita yang akrab disapa Lia ini, mencakup wilayah Bawen untuk ke arah selatan, dan wilayah Kendal untuk ke arah barat. “Sebelumnya kita lakukan lokasi, dimana daerah yang bisa dipasang tiang ataupin kabel fiber optic,” tuturnya.

G Media, lanjut dia, lebih menyasar segmentasi corporate dan pemerintahan. Meski begitu, ada juga pelanggan dari wilayah perumahan. Namun untuk pemasangan di wilayah perumahan ini menggunakan tiang. “Kalau masuk ke perumahan, tetap ada izinnya untuk pemasang tiang. Seperti ke RT dan RW, kelurahan sampai ke kecamatan,” paparnya.

Total pelanggan G Media, lanjut dia, mencapai 5 ribu pelanggan. Pangsa pasarnya, kalangan pebisnis, perhotelan dan pemerintahan.”Selain tiang, untuk wilayah permukiman kita juga menggunakan wireless sebagai alternatif jika nggak ada fiber optic ataupun tiang. Nanti akan dicarikan jaringan BTS terdekat,” katanya.(ewb/den/aro)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya