RADARSEMARANG.ID, Ambarawa - Suwarsinah, 80, merupakan salah satu penjaga atau juru kunci makam pahlawan nasional dr Cipto Mangunkusumo di pemakaman Watu Ceper, Kelurahan Kupang, Kecamatan Ambarawa. Saat ini ia tinggal di Kampung Tanjungsari, Kelurahan Kupang, Ambarawa.
Saat Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke makam dr Cipto Mangunkusumo langsung disambutnya. Terlihat tubuh yang sudah dimakan usia sehingga berjalan sedikit membungkuk.
"Monggo mas, sebentar nggeh saya ambilkan buku tamu dulu. Biasanya ngisi dulu biar tahu siapa saja yang berziarah ke sini (makam), " ucapnya.
Terlihat beberapa makam yang sudah dicat putih untuk menyambut HUT ke-78 Republik Indonesia. Sedangkan makam dr Cipto Mangunkusumo dengan tembok batu bercat hitam berbentuk bunga teratai serta terdapat relief wajah beliau.
Setiap hari Suwarsinah membersihkan area makam keluarga besar dr Cipto Mangunkusumo tersebut.
Terkadang ia bergantian dengan sang kakak, namun sekarang kakaknya tengah sakit dan dirawat di Rumah Sakit Ken Saras. "Kemarin jatuh, dan ini masih sakit, makanya saya sendirian di sini, " ujarnya.
Suwarsinah setiap pagi berangkat diantar oleh anaknya dari rumahnya di Kampung Tanjungsari dan kemudian pulang pada sore hari. Kegiatan tersebut sudah ia lakukan sejak usia tujuh tahun hingga sekarang.
"Dulu kan bapak yang jaga dan saya juga menemani. Tapi setelah meninggal jadi saya dan adik saya yang bergantian menjaga, " katanya.
Dahulu ayah Suwarsinah adalah salah satu murid ayah dr Cipto Mangunkusumo yakni Mangunkusumo.
Kemudian ia diberi pesan untuk menjaga makam keluarga besar Mangunkusumo di Ambarawa.
"Saya masih ingat dengan pesan Pak Karno (Presiden Pertama RI Sukarno, red) sewaktu dulu datang berziarah. Ia berkata kepada bapak saya untuk selalu menjaga makam dr Cipto Mangunkusumo karena beliau adalah guru dari Pak Karno, " terangnya.
dr Cipto Mangunkusumo merupakan salah satu pahlawan nasional yang lahir di Pecangaan, Kabupaten Jepara.
Dokter Jawa yang ikut terjun dalam melawan penjajah itu namanya diabadikan sebagai sebuah rumah sakit di Jakarta.
Makam dr Cipto Mangunkusumo terletak di gang sempit, di tengah pertokoan sekitar Pasar Projo Ambarawa.
Ini membuat tak banyak orang yang mengetahui. Dan letaknya di belakang pemakaman umum warga setempat. "Kalau mendekati kemerdekaan pasti banyak yang datang ke sini, " ujarnya.
Ia menceritakan sebelum meninggal dr Cipto beberapa kali diasingkan di sejumlah tempat. Dan beliau meninggal di Rumah Sakit Husada Jakarta.
"Jenazah beliau dibawa kembali ke Ambarawa karena ingin dimakamkan dekat makam ayah dan ibunya. Dibawa ke sini dengan kereta api dari Stasiun Gambir ke Stasiun Ambarawa, " jelasnya.
Tidak hanya itu, beliau juga meminta agar makamnya tidak dibuat marmer melainkan hanya diberikan tanda berupa batu.
Pada 1955, Soekarno berkunjung dan memberi bantuan 100 sak semen. "Ia meminta untuk makam dr Cipto diperbaiki agar terlihat bagus, " lanjutnya.
Selain makam dr Cipto, di makam keluarga besar tersebut juga ada makam dr Gunawan Mangunkusumo yang merupakan adik dari dr Cipto Mangunkusumo. Nama dr Gunawan diabadikan sebagai nama rumah sakit di Ambarawa
Dikatakan, area pemakaman tersebut sampai saat ini masih digunakan untuk keluarga besar eyang Mangun Sastro, kakek dari dr Cipto Mangunkusumo.
"Pemakaman ini khusus untuk keluarga besar dari keturunan eyang Mangun Sastro yang memiliki lima anak. Mangun Sastro itu keturunan Majapahit, " ungkapnya.
Diakuinya tidak setiap hari peziarah ramai di makam dr Cipto Mangunkusumo. Peziarah yang datang biasanya pada hari tertentu, seperti mendekati Hari Kemerdekaan dan Hari Pahlawan. (nun/ton)
Editor : Baskoro Septiadi