Aipda Agus Susanto saat ini bertugas menjadi BAUR SIM di Satpas Polres Magelang Kota. Di sela berdinas di kepolisian, Aipda Agus juga memiliki usaha sampingan sebagai peternak kambing. Saat ini, ia memiliki sedikitnya 31 ekor domba.
Ia menceritakan, ide awal beternak kambing muncul pada 2017. Saat itu, Agus mencoba merintis ternak kambing di rumah orang tuanya. “Saya pertama kali mencoba di rumah orang tua di Mungkid,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Baru pada 2020, Agus mencoba membuat kandang sendiri untuk usaha ternak dombanya. Waktu itu, tempatnya di lantai dua rumahnya. “Baru setelah mendapatkan pasangan orang Tegalrejo dan menetap di sana, saya mulai usaha penggemukan domba yang diurus secara mandiri,” ucap Agus.
Suami dari Yekti Ari Andriani, 34, ini mengatakan, ide beternak domba berawal dari hobi. Ia mengaku, sejak kecil suka beternak. Baik ternak kambing, ayam, itik, entok, hingga domba. Apalagi sang ayah waktu muda jualan kambing di Pasar Blondo, Muntilan, dan sekitarnya. “Waktu kecil saya sering diajak main sama ayah untuk melihat hewan ternak. Mungkin dari situ saya jadi suka ternak domba,” ceritanya.
Agus menambahkan, pada 2022, ia mulai mencoba mengembangkan usaha ternaknya. Domba-domba itu dibuatkan kadang khusus tidak satu rumah dengannya. Namun sudah disewakan lahan dengan ukuran bangunan 15 x 15 meter persegi yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya di Dusun Krajan No 107, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang.
“Saat ini Alhamdulillah saya sudah mempunyai 31 ekor domba berjenis lokal gembel,” katanya.
Ia mengaku berbagai suka dan duka dirasakan selama kurang lebih enam tahun berternak domba. Duka yang pernah ia rasakan, yaitu saat domba-dombanya terkena penyakit.
Agus mengatakan, dulu awal-awal sempat kebingungan saat ada domba yang terkena penyakit. Apalagi waktu dulu, masih sedikit awam dan risiko terbesar adalah mati.
“Jujur saya pernah mengalami hal tersebut, dan itu tidak hanya sekali, namun beberapa kali. Hal ini karena kurangnya penanganan, pengalaman, dan kurangnya ilmu. Namun berjalannya waktu, sedikit demi sedikit saya mulai belajar baik dengan sesama peternak domba dan belajar sendiri melalui Google,” ungkapnya.
Selain itu, Agus juga menjelaskan, usaha ternaknya sempat mendapat tentangan dari sang istri. Hal ini karena harus hidup satu atap dengan domba. Tetapi lama kelamaan, hal itu menjadi terbiasa. Akhirnya istrinya pun mendukung.
“Saat pertama pindah ke rumah pribadi itu, sempat ada penolakan dari istri. Alasannya, karena domba ada di lantai dua dalam rumah, sehingga setiap hari kita hidup bersama dengan domba. Namun semua kita lalui dengan sabar, yang akhirnya jadi terbiasa,” kata dia.
Sedangkan hal yang disukai dalam beternak domba adalah waktu penjualan hewan. Terutama saat Idul Adha. Di mana waktu kurban ini angka penjualannya relatif tinggi.
Agus mengatakan, kegiatan beternak ini menurutnya sekalian itung-itung sebagai bekal untuk persiapan pada masa pensiuan nanti. Menurutnya, dari beternak domba tersebut hasilnya lumayan. Apalagi pemasarannya juga mudah, tinggal menghubungi pedagang yang sudah dikenalnya.
“Alhamdulillah hasilnya lumayan, dan bisa buat tambah-tambah,” ungkapnya senang.
Saat disinggung soal instansinya, Agus mengaku usahanya beternak domba juga mendapat dukungan dari instansinya berdinas. “Dari instansi Polri juga mendukung kegiatan yang saya lakukan di luar jam dinas. Kapolres Magelang Kota beserta pejabat utama Polres juga sempat berkunjung ke kandang saat masih berada di lantai dua rumah,” katanya.
Ia yakin dengan beternak domba akan memberikan manfaat lebih bagi kehidupan keluarganya. Sehingga Agus pun berkeinginan, usaha ternak dombanya akan dijadikan bekal untuk persiapan saat pensiun nanti. (rfk/aro) Editor : Agus AP